Aksi seorang petani yang menggunakan obat untuk menyuburkan tanaman cabai viral di media sosial. Dalam narasinya, penggunaan obat dikarenakan dampak pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Dalam video tersebut, terlihat sekantong plastik vitamin B complex dan satu kotak paracetamol. Menurutnya, cara tersebut berhasil untuk menyuburkan tanamannya.
"Cabai ya di(pakai) paracetamol, ada vitamin B complex, tapi ya jadinya joss," ujarnya sembari memperlihatkan hamparan kebun cabai yang tumbuh menghijau.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian (Kementan) Muhammad Agung Sunusi mengatakan pemakaian obat, seperti paracetamol dan vitamin B complex untuk menyuburkan tanaman cabai sama sekali tidak direkomendasikan untuk budi daya di Indonesia. Agung menyebut fenomena ini kemungkinan besar hanya didasari oleh pengalaman empiris pribadi atau informasi yang beredar di media sosial.
"Namun demikian, hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang memadai yang menunjukkan bahwa paracetamol dapat meningkatkan produktivitas cabai secara konsisten, aman, dan ekonomis di tingkat lapangan. Oleh karena itu, praktik tersebut tidak dapat dijadikan acuan budi daya yang direkomendasikan," ujar Agung saat dihubungi detikcom, dikutip Jumat (19/6/2026).
Kementan mendorong penggunaan pupuk, pestisida, dan zat pengatur tumbuh yang telah terdaftar serta memiliki dasar ilmiah dan izin edar untuk sektor pertanian. Penggunaan obat-obatan yang diperuntukkan bagi manusia, seperti paracetamol maupun vitamin B kompleks, untuk tanaman belum memiliki rekomendasi resmi dalam praktik budidaya cabai di Indonesia.
Terkait penyebab aksi tersebut karena pelemahan rupiah, Agung tidak menampik fluktuasi nilai tukar memang mempengaruhi harga sebagian bahan baku industri pupuk dan pestisida. Namun, ia memastikan pemerintah terus berupaya menjaga pasokan serta keterjangkauan sarana produksi pertanian.
"Fluktuasi nilai tukar memang dapat mempengaruhi harga sebagian bahan baku industri pupuk dan pestisida, tetapi pemerintah terus berupaya menjaga pasokan melalui koordinasi dengan produsen, distributor, dan pemerintah daerah agar kebutuhan petani tetap terpenuhi," beber ia.
Ia merinci sejumlah langkah untuk menjaga ketersediaan dan keterjangkauan sarana produksi pertanian. Pertama, memastikan distribusi pupuk bersubsidi dan pupuk komersial berjalan sesuai kebutuhan petani.
Kedua, mendorong penggunaan pupuk organik, pupuk hayati, dan teknologi budidaya yang lebih efisien sehingga ketergantungan terhadap input impor dapat ditekan. Ketiga, mendorong penggunaan pestisida dan pupuk yang telah terdaftar sesuai rekomendasi teknis sehingga penggunaan lebih efektif dan efisien.
Keempat, melakukan pendampingan budi daya melalui penyuluh pertanian agar petani memperoleh teknologi yang tepat dan berbasis hasil penelitian.
Artikel ini telah tayang di detikFinance. Baca selengkapnya di sini.
(rea/yum)
