Di tengah riuh protes orang tua, server yang sempat bermasalah, akun yang belum terverifikasi, hingga antrean panjang di sekolah-sekolah negeri, ada sekelompok orang yang nyaris luput dari sorotan.
Mereka bukan pejabat, bukan pengambil kebijakan, dan bukan pula pengembang aplikasi. Mereka adalah guru-guru yang mendadak berubah menjadi petugas help desk, operator, verifikator, hingga call center demi memastikan ribuan calon murid bisa masuk ke sistem Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) Jawa Barat 2026.
Sejak PCMB dibuka pada 29 Mei lalu dan kemudian beberapa kali diperpanjang hingga 11 Juni 2026 pukul 23.59 WIB, pekerjaan mereka nyaris tak mengenal jam pulang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di SMAN 4 Bandung misalnya, belasan guru setiap hari bergantian melayani orang tua dan calon murid yang datang membawa berbagai persoalan. Ada yang gagal mengunggah dokumen, akun yang terkunci, Kartu Keluarga (KK) yang bermasalah, hingga berkas yang harus diperbaiki berkali-kali.
Ketika sebagian besar warga sudah berada di rumah saat malam tiba, para petugas ini masih duduk di depan komputer. Salah satunya adalah Kamaludin, guru Sosiologi yang selama masa PCMB bertugas sebagai petugas help desk.
Tugasnya bukan sekadar menjawab pertanyaan. Ia harus menghubungi satu per satu calon murid yang mengalami kendala, menjelaskan kesalahan dokumen, hingga memandu proses perbaikan berkas.
"Saya sebagai petugas help desk. Jadi bertugas menelepon calon peserta SPMB yang bermasalah, kemudian kami telepon kembali ataupun memberikan informasi supaya memperbaiki berkasnya," kata Kamaludin saat berbincang dengan detikJabar, Rabu (10/6/2026).
Jika biasanya aktivitas sekolah berakhir pada sore hari, kini ia dan rekan-rekannya sering kali baru meninggalkan sekolah menjelang larut malam.
"Alhamdulillah tiap hari sesuai jadwal. Namun ketika memerlukan waktu yang panjang, kadang-kadang sampai jam 9, jam 10 malam juga harus memperbaiki. Bahkan peserta yang dipanggil jam 14.00 ada yang datang jam 15.00, jam 17.00, bahkan sampai jam 21.00 malam masih ada yang datang ke sini," ujarnya.
Persoalan yang mereka hadapi pun beragam. Salah satu yang paling sering muncul adalah masalah administrasi kependudukan.
"Permasalahannya biasanya ada yang KK-nya belum barcode ataupun KK-nya belum satu tahun. Jadi kartu keluarga yang belum satu tahun biasanya harus menyertakan KK yang lama. Kalau KK lama yang belum barcode juga harus dilegalisir dari kecamatan," katanya.
Namun tantangan terbesar bukanlah dokumen. Yang paling menguras tenaga justru menghadapi kecemasan orang tua. Ketika status verifikasi tak kunjung berubah, banyak orang tua yang menghubungi sekolah dengan nada tinggi.
Sebagian datang langsung dalam kondisi emosi karena khawatir anaknya gagal mendaftar. Meski demikian, ia dan rekan-rekannya memilih tetap melayani dengan sabar.
"Sering, sering banget. Biasanya orang tua itu tidak sabar ingin segera mendapatkan informasi apakah anaknya sudah terverifikasi atau belum. Padahal dari petugas verifikator masih antre," kata Kamaludin.
"Kita coba berikan pemahaman agar mereka lebih bersabar. Kalau ada yang harus diperbaiki ya kita kasih informasi supaya memperbaiki sesuai ketentuan," sambungnya.
Bahkan tidak sedikit kendala yang sebenarnya muncul karena kesalahan teknis sederhana, misalnya lupa mengklik perintah "kirim perbaikan" yang membuat proses verifikasi menjadi terhambat.
"Kadang-kadang mereka sudah memperbaiki data, tapi tidak mengklik tombol 'Kirim Perbaikan'. Jadi hanya diunggah lalu disimpan. Seharusnya setelah itu diklik kirim perbaikan. Kalau sudah dikirim baru nanti bisa diverifikasi," jelasnya.
Meski beban pekerjaan terus bertambah, Kamaludin mengatakan seluruh tim tetap berusaha bertahan. "Alhamdulillah full dengan teman-teman semuanya, kompak. Jadi kita tidak ada istilah pulang duluan. Pulangnya bareng-bareng," katanya.
Di sisi lainnya, Risna Kartika sibuk memegang telepon. Sehari-hari ia adalah guru Bimbingan Konseling (BK). Namun selama PCMB berlangsung, ia ikut diperbantukan menjadi petugas call center. Sabtu dan Minggu pun tidak ada libur.
"Iya, Sabtu Minggu juga masuk," katanya singkat.
Tugas menjadi call center memang terlihat sederhana, namun tetap melelahkan. Ia harus menghubungi calon murid dan orang tua yang mengalami kendala pendaftaran.
"Dari tanggal 29 Mei sampai hari ini, ditambah ada perpanjangan lagi, kami mencoba menghubungi banyak calon siswa dan orang tua. Sampai sekarang pun masih ada yang susah dihubungi," ujar Risna.
Keluhan yang diterima hampir sama setiap hari. Tak jarang ia juga harus menghadapi orang tua yang datang dengan emosi.
"Kebetulan pernah. Tapi ya kita pelayanan prima saja, kita layani sesuai prosedur dan dengan baik agar informasi yang perlu disampaikan bisa diterima oleh orang tua tersebut," ujarnya.
Menurut Risna, tantangan tahun ini terasa lebih berat karena pelaksanaan PCMB berlangsung bersamaan dengan agenda sekolah lainnya.
"Berat ya, tapi tetap dijalani. Karena memang ada beberapa kegiatan sekolah yang berjalan bersamaan. Personel juga terbagi sehingga tenaga kami terbagi ke dua kegiatan," katanya.
petugas helpdesk CPMB Jabar Foto: Bima Bagaskara/detikJabar |
Di balik seluruh proses itu, Kepala SMAN 4 Bandung Tuti Kurniawati mengakui beban kerja yang harus ditanggung timnya memang tidak ringan. Di sekolah yang hanya memiliki kuota ratusan kursi itu, jumlah pendaftar telah menembus ribuan orang.
"Sampai saat ini pendaftar lebih dari seribu. Kalau dengan pilihan kedua dan ketiga sudah sekitar 2.100 pendaftar," kata Tuti.
Masalahnya, seluruh data tersebut harus diperiksa satu per satu. Tim verifikator yang dimiliki sekolah hanya delapan orang, dibantu delapan orang lain di bagian data dan lima orang di bagian pengaduan. Akibatnya, hari kerja para petugas berubah menjadi maraton panjang.
"Yang harus kami verifikasi ini ribuan. Sementara tim verifikator di kami ada delapan orang. Kemudian ada sekitar delapan orang di bagian data dan lima orang di bagian pengaduan pelayanan atau PPID," ujarnya.
"Sekitar segitulah kami bekerja setiap hari, tidak kurang sampai jam 9 malam," lanjut Tuti.
Menurutnya, proses verifikasi memang tidak bisa dilakukan secara instan. Satu calon murid, kata Tuti, membutuhkan waktu 10-15 menit untuk verifikasi. Sementara antrean terus bertambah karena masih banyak calon murid yang memperbaiki berkas maupun mengalami kendala akun.
"Kami masih tetap memverifikasi karena masih ada calon murid yang memperbaiki data. Ada juga yang akunnya nge-freeze sehingga tidak bisa submit. Nah itu kami bantu reset supaya mereka bisa mengulang pendaftaran atau memperbaiki data," katanya.
Meski menjadi sasaran keluhan selama beberapa hari terakhir, Tuti memastikan seluruh petugas tetap diminta memberikan pelayanan terbaik.
"Kami setiap hari briefing. Menguatkan teman-teman untuk tetap semangat dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Siapapun yang datang dengan keluhan apa pun tetap kami layani," tuturnya.
(bba/dir)

