Warga Bandung Kecewa Pertamax Melonjak, Banyak Beralih ke Pertalite

Warga Bandung Kecewa Pertamax Melonjak, Banyak Beralih ke Pertalite

Bima Bagaskara - detikJabar
Rabu, 10 Jun 2026 10:48 WIB
Suasana di SPBU Bandung saat Pertamax Naik
Suasana di SPBU Bandung saat Pertamax Naik (Foto: Bima Bagaskara/detikJabar)
Bandung -

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi yang mulai berlaku Rabu (10/6/2026) memicu kekecewaan masyarakat. Lonjakan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter membuat banyak pengendara di Kota Bandung terpaksa menghitung ulang pengeluaran harian mereka.

Pantauan di SPBU Jalan RE Martadinata (Riau), Kota Bandung, menunjukkan antrean kendaraan yang mengisi Pertalite terlihat lebih ramai dibanding biasanya. Banyak pengendara memilih beralih ke BBM bersubsidi lantaran harganya tetap bertahan di angka Rp10.000 per liter.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, tidak semua pengguna kendaraan bisa mengambil pilihan tersebut. Sejumlah pemilik motor dengan spesifikasi mesin tertentu tetap harus menggunakan Pertamax meski harganya melonjak tajam.

Salah satunya Dewa, seorang pengemudi ojek online yang mengaku terkejut saat mengetahui harga Pertamax naik drastis.

ADVERTISEMENT

"Lumayan berat ya karena motor di atas 160 harus Pertamax kan, jadi untuk ngojek kaya saya lumayan," kata Dewa.

Kenaikan harga itu langsung berdampak pada biaya operasional hariannya. Jika sebelumnya ia menghabiskan sekitar Rp60 ribu per hari untuk membeli BBM, kini kebutuhan tersebut meningkat cukup signifikan.

"Awalnya 60 per hari sekarang jadi 80 ribu," ujarnya.

Dewa mengaku baru mengetahui kenaikan harga tersebut pada pagi hari saat hendak mengisi bahan bakar.

"Pertama kali tahu tadi pagi, lumayan kaget," katanya.

Menurutnya, kenaikan harga BBM hampir pasti akan berdampak pada berbagai sektor kehidupan masyarakat.

"Pasti bakal ada kenaikan di semua sektor," ucapnya.

Meski merasa keberatan, Dewa mengaku tidak memiliki banyak pilihan untuk beralih ke Pertalite. Ia khawatir penggunaan BBM dengan oktan lebih rendah dapat memengaruhi performa dan usia mesin kendaraannya.

"Gak bisa karena di atas 155 harus Pertamax khawatir ke mesin jadi mau gak mau tetap isi Pertamax," katanya.

Di tengah kenaikan biaya operasional, pendapatan yang diterimanya sebagai pengemudi ojek online justru tidak mengalami peningkatan.

"Iya pendapatan sama malah harga-harga naik," ujarnya.

Saat ditanya mengenai perasaannya terhadap kebijakan kenaikan harga tersebut, Dewa mengaku kecewa meski memilih menunggu perkembangan ke depan.

"Kecewa tapi kita lihat ke depan ya seperti apa," tuturnya.

Kekecewaan serupa dirasakan Ayu, seorang pensiunan guru yang ditemui usai mengisi bahan bakar di SPBU yang sama. Menariknya, Ayu mengaku belum mengetahui adanya kenaikan harga Pertamax saat melakukan pengisian BBM.

"Gak tahu, tadi isi juga belum tahu," katanya.

Ayu mengaku selama ini tidak terlalu memperhatikan perubahan harga BBM karena biasanya membeli sesuai kebutuhan dan nominal yang dimiliki.

"Baru tahu malah. Soalnya emang gak pernah tanya isi seperlunya jadi gak tahu kalau naik," ujarnya.

Namun setelah mengetahui harga Pertamax mengalami lonjakan cukup besar, Ayu mengakui kondisi tersebut tetap akan terasa memberatkan.

"Ya berat. Tapi karena kebutuhan jadi isi seperlunya aja mungkin," katanya.




(bba/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads