Strategi Kabupaten Bandung Hadapi Potensi Kemarau Panjang

Strategi Kabupaten Bandung Hadapi Potensi Kemarau Panjang

Yuga Hasani - detikJabar
Rabu, 10 Jun 2026 21:30 WIB
Area persawahan Kabupaten Bandung.
Area persawahan Kabupaten Bandung (Foto: Yuga Hasani/detikJabar).
Kabupten Bandung -

Pemerintah melakukan persiapan dalam menghadapi potensi musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering tahun ini. Salah satu upayanya adalah dengan penanganan dan pengelolaan daerah irigasi (DI) di Kabupaten Bandung.

Bupati Bandung Dadang Supriatna mengatakan, pihaknya telah mengusulkan penanganan dan pengelolaan 546 titik daerah irigasi kepada pemerintah pusat. Usulan tersebut mencakup perbaikan, normalisasi saluran, hingga pembangunan daerah irigasi.

"Alhamdulillah sudah kami usulkan. Ternyata setelah kita kaji dengan konsultan, dari 546 titik DI ini dianggaran kami usulkan anggarannya Rp947 miliar dan alhamdulillah tahun ini diberikan di ACC Rp334 miliar dan sisanya tahun depan," ujar Dadang kepada awak media, Rabu (10/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pihaknya mengungkapkan, usulan penanganan dan pengelolaan daerah irigasi merupakan bagian dari antisipasi menghadapi musim kemarau. Langkah tersebut juga dilakukan dalam rangka menyukseskan salah satu Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

"Terutama swasemda pangan nasional," katanya.

Dadang mengaku saat ini turut menyiapkan langkah lainnya dalam mengantisipasi potensi kemarau panjang. Menurutnya, langkah antisipasi tersebut dilakukan secara lintas sektoral.

"Nah, mudah-mudahan dengan kolaborasi ini tiga hal tadi dan tentunya lokasi sawah atau area mana yang masih kekurangan air dan sebagainya kita akan hitung," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Ina Dewi Kania menyebutkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Bandung terkait hal tersebut. Koordinasi dilakukan sesuai dengan kewenangan dan tugas masing-masing.

"Jadi penanganan irigasi harus menyentuh dari hulu hingga hilir. Kalau irigasi primer dan sekunder berada di bawah Dinas PUTR. Kalau kami menangani irigasi tersier. Selain itu, ada juga penanganan yang kewenangannya di provinsi, dan pusat," kata Ina.

Ina menjelaskan, saat ini pihaknya telah menyiapkan alat dan mesin pompa pertanian bagi para petani. Alsintan tersebut tersedia di tiap-tiap Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA), yakni lembaga ekonomi pedesaan yang dibentuk dan dikelola kelompok tani atau gabungan kelompok tani.

"Jadi para petani bisa dapat memanfaatkan alsintan di UPJA," ungkapnya.

Ina menuturkan, mayoritas lahan sawah di Kabupaten Bandung merupakan sawah irigasi. Total lahan sawah di Kabupaten Bandung sendiri mencapai sekitar 28 ribu hektare.

"Sebanyak 20 ribu hektare di antaranya merupakan sawah irigasi," jelas Ina.

Dia menyebutkan, saat ini pihaknya telah membangun kewaspadaan dalam rangka mengantisipasi kekeringan. Salah satu upayanya adalah dengan memberikan imbauan melalui surat edaran kepada para petani, petugas lapangan, hingga camat.

"Kepada para petani, petugas lapangan, dan camat selaku pembina wilayah untuk memantau ketersediaan air secara berkala. Bagi petani atau penggarap di sawah tadah hujan, kami mengimbau untuk beralih sementara waktu ke tanaman sayuran yang membutuhkan air lebih sedikit, seperti caisim atau sosin, kangkung, bayam," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Siap-siap! Awal Musim Kemarau di Indonesia Dimulai Juli"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads