Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akhirnya buka suara terkait berbagai persoalan yang mewarnai pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026. Di tengah gelombang keluhan orang tua siswa soal verifikasi, gangguan sistem, hingga kebingungan memahami mekanisme pendaftaran, Dedi justru menilai tahapan Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) berhasil menjadi alat deteksi dini berbagai persoalan yang muncul di lapangan.
Pernyataan itu disampaikan Dedi usai meninjau langsung Kantor Dinas Pendidikan Jawa Barat di Jalan Radjiman, Kota Bandung, Selasa (9/6/2026). Sebelumnya, ia menemui sejumlah orang tua siswa yang datang menyampaikan keluhan terkait proses penerimaan murid baru.
Menurut Dedi, PCMB sejak awal memang dirancang sebagai instrumen pemetaan untuk mengetahui kondisi seluruh calon murid sebelum tahapan utama SPMB dimulai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemetaan Calon Murid Baru itu tujuannya untuk memetakan seluruh siswa di seluruh sekolah provinsi Jawa Barat, terutama di sekolah-sekolah negeri," kata Dedi.
Ia menjelaskan, proses penerimaan siswa baru yang sesungguhnya baru akan berlangsung pada 15 Juni 2026. Karena itu, tahapan pemetaan dilakukan lebih awal agar berbagai persoalan dapat diketahui dan diselesaikan sebelum memasuki masa penerimaan resmi.
"Karena SPMB-nya kan tanggal 15 Juni 2026. Sehingga pemetaan itu nanti bagi mereka siswa yang sudah memenuhi syarat, kemudian memang sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Kemdikdasmen, maka mereka sudah otomatis menjadi siswa," ujarnya.
Menurut Dedi, berbagai kekurangan yang ditemukan selama PCMB justru akan menjadi bahan evaluasi agar proses penerimaan murid baru berjalan lebih lancar pada tahap berikutnya.
"Nah yang seperti-seperti ini nanti dikoreksi, sehingga di SPMB tanggal 15 Juni nanti tenang, tinggal duduk di kelasnya masing-masing," katanya.
Di tengah kritik yang muncul, Dedi menilai PCMB justru berhasil mengungkap berbagai potensi masalah yang sebelumnya tidak terdeteksi. Dengan begitu, pemerintah memiliki waktu untuk melakukan perbaikan sebelum sistem penerimaan resmi ditutup.
"Jadi bagi saya, kegiatan pemetaan ini relatif berhasil. Kami bisa memitigasi berbagai problem yang akan terjadi dibanding dengan kami bikin SPMB, SPMB-nya ditutup, orang tua siswa anaknya tidak diterima, waktunya terbatas, akhirnya banyak orang tua yang mengalami kesulitan ketika mencari sekolah baru," tegasnya.
Salah satu sorotan terbesar dalam pelaksanaan tahun ini adalah banyaknya orang tua yang mengaku terjebak oleh istilah 'Pemetaan Calon Murid Baru'. Sebagian masyarakat menganggap proses tersebut hanya pendataan biasa, bukan bagian penting dari tahapan penerimaan siswa baru.
Menanggapi hal itu, Dedi menjelaskan bahwa PCMB memang bukan pendaftaran dalam arti formal. Namun, hasil pemetaan akan menjadi dasar dalam proses penerimaan murid baru.
"Sebenarnya pemetaan itu bukan pendaftaran. Tetapi ketika orang sudah terpetakan dengan baik, kemudian dalam sisi kualifikasi sudah memenuhi syarat, ya sudah jalan," ujarnya.
Dedi mencontohkan, dari sekitar 340 ribu calon murid yang telah masuk dalam sistem, sebagian besar sudah berhasil dipetakan. Sementara sisanya merupakan peserta yang masih mengalami kendala administrasi atau teknis.
"Misalnya yang dari 340.000 calon murid baru ini sudah terpetakan sekian, yang belum terpetakan itu misalnya 1.000 orang. Nah 1.000 orang ini problemnya apa? Ketika di sekolah ini dia masih memenuhi syarat, ya kembali ke sekolah ini," katanya.
"Ketika di sekolah ini ternyata kayak tadi yang dari Tsanawiyah tidak memenuhi syarat, ya dia harus ke sekolah ini. Gitu lho Pak. Dan itu juga bisa dibikin manual kok, gampang," lanjutnya.
Karena itu, Dedi meminta masyarakat tidak panik menghadapi berbagai kendala yang saat ini masih terjadi. Menurutnya, pemerintah masih memiliki waktu yang cukup untuk memperbaiki berbagai masalah sebelum tahapan utama SPMB dimulai.
"Ya untuk semuanya, tidak usah panik ya. Kan dengan pemetaan ini kami bisa memahami kesulitan," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa lebih baik persoalan ditemukan sekarang ketika sistem masih bisa diperbaiki, dibanding muncul setelah masa pendaftaran resmi berakhir.
"Kan lebih baik kami menghadapi kesulitan sekarang nih, taruhlah 300 orang mengalami kesulitan dari 340.000-an orang. Kita masih punya waktu. Pendaftarannya juga nanti jam 12, yang PCMB, SPMB-nya nanti tanggal 15. Masih punya waktu yang cukup untuk membenahi, dibanding kami bikin SPMB kemudian ketika ditutup sudah tidak punya kesempatan lagi dilakukan perbaikan karena sistemnya sudah close," kata Dedi.
Saat ditanya apakah masih ada harapan bagi peserta yang mengalami kendala dalam proses pendaftaran, Dedi memastikan pemerintah akan terus melakukan pembenahan.
"Kami perbaiki," pungkasnya.
Simak Video "Video: Dijanjikan Kompensasi oleh KDM, Puluhan Kios Liar Jalur Puncak Dirobohkan"
[Gambas:Video 20detik]
(bba/mso)
