Ngeri! AI Mulai Lahirkan Dirinya Sendiri yang Lebih Canggih

Kabar Teknologi

Ngeri! AI Mulai Lahirkan Dirinya Sendiri yang Lebih Canggih

Fino Yurio Kristo - detikJabar
Rabu, 10 Jun 2026 05:00 WIB
Businessman using smartphone for digital chatbot, A.I., robot application, conversation assistant, AI Artificial Intelligence concept, digital chatbot on virtual screen.
Ilustrasi kecerdasan buatan (Foto: iStock)
Bandung -

Kecerdasan buatan (AI) kini tidak lagi hanya membantu manusia menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga mulai digunakan untuk mengembangkan generasi AI berikutnya. Perkembangan ini disebut-sebut sebagai salah satu langkah penting menuju era superintelligence atau kecerdasan super.

CEO SoftBank, Masayoshi Son, mengungkapkan bahwa model AI masa depan diperkirakan akan semakin banyak dirancang dengan bantuan AI lain. Pernyataan itu disampaikan setelah dirinya berdiskusi dengan CEO OpenAI, Sam Altman, serta sejumlah insinyur perusahaan pengembang ChatGPT tersebut.

Menurut Son, tren ini tidak hanya terjadi di OpenAI, tetapi juga berpotensi diterapkan oleh pengembang model AI besar lainnya. Ia menilai kemampuan AI akan berkembang hingga mencapai titik ketika manusia tidak lagi menjadi pihak utama yang merancang arsitektur model generasi selanjutnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pandangannya, ketika sebuah AI mampu membantu menciptakan AI yang lebih canggih, maka proses peningkatan kecerdasan dapat berlangsung jauh lebih cepat. Setiap generasi model akan melahirkan sistem yang lebih kuat dan lebih pintar dibanding pendahulunya, menciptakan pertumbuhan kemampuan secara eksponensial.

ADVERTISEMENT

Kondisi tersebut, kata Son, merupakan gambaran awal dari apa yang banyak disebut sebagai superintelligence, yaitu tingkat kecerdasan buatan yang melampaui kemampuan manusia dalam berbagai bidang.

Sementara itu, OpenAI belum memberikan komentar terkait produk atau model yang masih dalam tahap pengembangan. Namun perusahaan tersebut sebelumnya telah menjelaskan bahwa AI sudah dimanfaatkan dalam sejumlah proses riset dan pengembangan model.

Pada awal tahun ini, OpenAI juga mengungkap bahwa salah satu model buatannya menjadi sistem pertama yang berkontribusi secara signifikan dalam proses pengembangan dan peningkatan model AI berikutnya. Langkah tersebut menunjukkan bagaimana AI mulai berperan bukan hanya sebagai alat, tetapi juga sebagai bagian dari proses penciptaan teknologi AI generasi baru.


Menuju Kecerdasan Super Buatan

Pernyataan Son ini merupakan bagian dari diskursus mengenai "kecerdasan super buatan" (Artificial Superintelligence / ASI). Pada tahun 2024, ia mendeskripsikan ASI sebagai AI yang 10.000 kali lipat lebih cerdas daripada manusia. Saat itu, Son memprediksi bahwa ASI akan hadir dalam 10 tahun ke depan.

Namun kini ia mengaku bahwa saat ia menetapkan rentang waktu tersebut, ia hanya berusaha untuk bersikap konservatif agar orang tidak terkejut. "Di benak saya, saya sebenarnya berpikir itu akan terjadi dalam empat tahun, bukan 10 tahun. Kini, saya berani mengatakan era tersebut akan tiba dalam dua tahun ke depan," ungkap Son.

Sang CEO SoftBank juga menyebutkan bahwa saat ini ia menggunakan ChatGPT dari OpenAI selama dua hingga tiga jam setiap harinya, karena AI tersebut sudah lebih pintar darinya dalam hampir semua topik bahasan.

Dalam beberapa tahun ke depan, AI akan menjadi lebih cerdas daripada manusia di sekitar 70% hingga 80% bidang ilmu. Dan di bidang-bidang di mana ia melampaui kecerdasan manusia, AI mungkin akan 10 kali lebih pintar daripada manusia rata-rata.

Di sisi lain, bahaya mengenai sistem AI yang semakin canggih menjadi sorotan usai Anthropic merilis artikel blog yang membahas tentang sistem AI mampu merancang dan mengembangkan penerusnya sendiri secara sepenuhnya otonom.

Meskipun Anthropic menyatakan bahwa tren ini akan membawa dampak positif, mereka juga memperingatkan bahwa peningkatan diri yang seutuhnya dapat meningkatkan risiko hilangnya kendali manusia atas sistem AI.

Perusahaan pengembang chatbot AI Claude tersebut berpendapat bahwa upaya terkoordinasi di antara laboratorium-laboratorium AI untuk memperlambat laju pengembangan teknologi ini kemungkinan besar akan menjadi suatu langkah yang baik.

Artikel ini telah tayang di detikINET.

(fyk/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads