Bukan Lagi Fiksi, Robot Humanoid Bakal Masuk Rumah pada 2030

Kabar Internasional

Bukan Lagi Fiksi, Robot Humanoid Bakal Masuk Rumah pada 2030

Fino Yurio Kristo - detikJabar
Jumat, 05 Jun 2026 13:00 WIB
Humanoid robot finger and children finger meets in front of blackboard. Shot in studio with a full frame mirrorless camera.
Ilustrasi (Foto: iStock).
Bandung -

Masa depan bukan lagi soal ponsel pintar, melainkan robot yang berjalan di samping kita. CEO Softbank, Masayoshi Son, meyakini bahwa AI fisik dan robotika adalah ladang emas baru bagi perusahaan bernilai triliunan dolar di masa depan. Robot humanoid yang mampu meniru gerakan manusia kini bukan lagi sekadar fiksi ilmiah, melainkan tren yang kian nyata.

Para pengamat memprediksi mesin-mesin canggih ini bakal mengubah wajah dunia dalam satu dekade ke depan. Tak main-main, industrinya diperkirakan bakal melesat hingga 100 kali lipat seiring dengan semakin pintarnya kemampuan fisik AI.

Zornitza Todorova, Kepala Riset Tematik FICC di Barclays, menegaskan bahwa saat ini kita sedang memasuki dekade robot. "Robotika humanoid benar-benar berada dalam tren menanjak. Ukuran pasar saat ini memang sangat kecil, sekitar 2 hingga 3 miliar dolar, tapi kami melihatnya akan naik menjadi USD 200 miliar pada tahun 2035," ucapnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Laporan dari Todorova mengungkapkan bahwa robot-robot ini hadir sebagai solusi atas krisis tenaga kerja struktural. Masalah penuaan populasi hingga perubahan preferensi pekerjaan membuat banyak posisi "kotor, membosankan, dan berbahaya" kini kosong. Di sinilah robot mengambil peran.

"Mereka sudah melakukan tugas sederhana yang terdefinisi jelas seperti mengangkat kotak atau mengambil barang dari jalur perakitan, membantu mengisi peran di mana tidak banyak manusia bisa melakukan pekerjaan tersebut. Masih banyak yang harus dilakukan dan teknologinya berkembang sangat, sangat cepat," tambahnya.

ADVERTISEMENT

Todorova melihat potensi yang jauh lebih besar dari sekadar buruh pabrik. "Saya rasa kita di ambang transformasi, kita baru menyentuh permukaan dari apa yang bisa dilakukan robot humanoid. Seiring matangnya teknologi, serta model yang lebih baik dan lebih cepat dalam bereaksi secara real time, saya pikir kita akan melihat banyak aplikasi dalam peran yang lebih berorientasi pada layanan," lanjutnya.

Barclays membagi invasi robot ini ke dalam dua gelombang besar. Gelombang pertama, yang sedang berlangsung hingga 2030, akan fokus pada sektor manufaktur, logistik, pertanian, hingga konstruksi.

Melansir detikINET dari CNBC, gelombang kedua baru akan meledak setelah tahun 2030. Pada fase ini, robot humanoid akan mulai merambah sektor yang lebih personal seperti perawatan kesehatan, layanan lansia, pendidikan, hingga industri perhotelan.

Menariknya, China kini memegang kendali sebagai raksasa robotika dunia. Negeri Tirai Bambu ini memasang hampir 300.000 robot industri secara global, jauh melampaui Amerika Serikat yang hanya 34.000 unit. China bahkan meningkatkan kepadatan robotnya hingga 600%, atau sekitar 500 robot per 10.000 pekerja. Tak hanya soal jumlah, China juga mendominasi produksi dengan biaya yang jauh lebih murah, yakni sekitar USD 50.000 atau setengah dari harga pesaing Barat.

Jason Pidcock, pengelola reksa dana Asian Income, meramalkan dunia akan berubah total dalam sepuluh tahun ke depan berkat revolusi ini. "Dalam 10 tahun ke depan, akan ada robot humanoid di mana-mana," katanya.

Pidcock membayangkan sebuah masa di mana robot menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. "Anda mungkin akan memilikinya satu di rumah. Anda pasti akan punya teman atau anggota keluarga yang punya robot humanoid. Pabrik-pabrik akan dipenuhi oleh mereka. Angkatan bersenjata hingga departemen pemerintahan akan dipenuhi oleh mereka," pungkasnya.

Artikel ini sudah tayang di detikInet, baca selengkapnya di sini.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: China Gelontorkan 15 Miliar Yuan Untuk Industri Robot Humanoid "
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads