Wajah Sungai Citarum di wilayah Ciminyak, Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), tak lagi menampakkan riak air.
Permukaan sungai legendaris itu seolah menghilang, tertutup rapat oleh hamparan jutaan tanaman eceng gondok yang tumbuh subur bak karpet hijau tanpa ujung.
Sejauh mata memandang, gulma air yang menjadi indikator memburuknya kualitas lingkungan itu mengunci rapat aliran sungai. Tak ada lagi celah bagi perahu nelayan untuk membelah air.
Restoran-restoran terapung yang biasanya hidup dari menjual syahdunya pemandangan sungai pun kini mati suri, tak punya apa-apa lagi untuk disuguhkan kepada para pelancong.
Orang-orang yang menggantungkan napas hidupnya pada aliran Citarum kini hanya bisa merawat asa, menanti arus membawa pulau gulma itu ke hilir agar jala dan kail pancing bisa kembali ditebar.
Awang Widiati, salah seorang warga setempat yang memiliki restoran di dekat Jembatan Ciminyak, menjadi saksi bisu bagaimana sungai itu perlahan kehilangan kehidupannya.
"Ya seperti ini kondisinya, permukaan sungainya ditutup eceng gondok. Semakin kesini semakin banyak eceng gondoknya," kata Awang saat dikonfirmasi, Jumat (5/6/2026).
Matinya aktivitas di atas sungai berdampak langsung pada roda ekonomi warga. Sudah beberapa pekan terakhir, Awang terpaksa menyuplai kebutuhan ikan untuk restorannya dari luar daerah. Pasokan ikan dari nelayan dan petambak lokal lumpuh total akibat ekspansi eceng gondok yang tak terkendali.
"Ya kan biar sama-sama membantu, ikan yang dari tambak di sini kita beli. Ada juga yang dari nelayan, cuma kan sekarang buat ngejaring ikannya saja enggak bisa. Petambak juga kurang produksi ikannya, memang mengganggu (eceng gondok)," kata Awang.
Rantai penderitaan itu rupanya tidak berhenti pada urusan perut dan ekonomi. Rapatnya tutupan eceng gondok menciptakan kelembapan yang memicu ledakan populasi nyamuk.
Kawanan serangga ini mulai meneror permukiman, memaksa warga bantaran sungai bertahan dari gigitan yang meresahkan di malam hari.
"Saya saja yang rumahnya agak jauh dari sungai masih terganggu sama nyamuk, apalagi yang di pinggir sungai. Sehari saya bisa habiskan 4 buah obat nyamuk bakar, kalau enggak gitu ya enggak bisa tidur karena terus digigit nyamuk," ucap Awang.
Di tengah keputusasaan yang menyelimuti perairan yang menyambung dengan Waduk Saguling tersebut, secercah perlawanan sunyi muncul dari sosok Taufik Rahmat Wardani.
Pemuda 33 tahun asal Kampung Bobojong, Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin ini memilih untuk tidak berpangku tangan.
Saban hari, jika tubuhnya tidak sedang didera sakit, pria yang karib disapa Mang Kiclik itu nekat menenggelamkan tubuhnya ke dalam air pekat Citarum hingga sebatas leher.
Bermodalkan tangan kosong tanpa peduli bahaya yang mengintai di dasar air, ia berjibaku mengangkat beban berat eceng gondok dari permukaan waduk ke daratan selama dua hingga tiga jam lamanya.
"Awalnya dari 2017, cuma enggak rutin. Nah baru di Januari 2025, bersih-bersih eceng (gondok) ini saya rutinkan setiap hari. Ya seperti bisa kita lihat, kondisi Waduk Saguling semakin parah tertutup eceng (gondok)," kata Mang Kiclik beberapa waktu lalu.
Perlawanan manual seorang diri itu tentu bukan pekerjaan mudah. Suatu ketika, Mang Kiclik pernah mencoba mengukur jerih payahnya dalam sehari. Tak disangka, tumpukan gulma basah yang berhasil ia evakuasi ke darat mencapai berat setengah ton.
Jumlah yang fantastis untuk sebuah usaha tanpa bantuan mesin atau alat berat apa pun. Bagi Mang Kiclik, ini bukan sekadar soal seberapa banyak yang bisa ia angkat, melainkan tentang keteguhan menjaga napas Citarum agar tak benar-benar mati.
"Ya pernah saya hitung, sekitar 5 kuintal, tapi kan tanamannya juga berat ya dan basah. Bukan itu sebetulnya yang penting, tapi dampaknya. Minimal kalau setiap hari, bisa berkurang meskipun enggak dibantu alat berat," ujar Mang Kiclik.
(sya/yum)