Penyelenggaraan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, dinodai oleh maraknya praktik mafia. Sejumlah oknum tak bertanggung jawab nekat memperjualbelikan 'titik dapur' atau SPPG dengan nilai kerugian korban mencapai miliaran rupiah.
Berikut adalah 7 fakta lengkap terkait dugaan praktik gelap jual beli titik dapur MBG di Cianjur yang dirangkum detikJabar, Kamis (5/6/2026):
1. Tarif Gelap Titik Dapur Capai Rp 200 Juta
Praktik jual beli ini menyasar orang-orang yang ingin menjadi mitra dapur MBG. Salah seorang korban berinisial Iza mengaku didatangi oknum yang menawarkan titik lokasi baru, namun dengan syarat harus menyetorkan sejumlah uang dengan nominal fantastis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Benar ada beberapa orang yang datang, menawarkan kepada saya titik baru. Tapi harus bayar Rp 150 juta hingga Rp 200 juta per titik, tergantung lokasi," kata dia, Kamis (5/6/2026).
2. Oknum Catut Nama Petinggi BGN
Untuk memuluskan aksinya dan meyakinkan calon mangsa, para oknum penipu tersebut nekat mencatut nama sejumlah pejabat Badan Gizi Nasional (BGN). Iza yang merasa curiga kemudian melakukan penelusuran mandiri.
"Saya telusuri dia bukan orang BGN, tapi dia mengaku punya akses ke BGN dan mencatut beberapa nama. Sehingga kalau memang tidak hati-hati pasti sudah tergiur," kata dia.
3. Biaya Ratusan Juta Belum Termasuk Fisik Dapur
Modus pemalakan berkedok penjualan titik lokasi ini juga dialami oleh mitra lainnya berinisial IS. Ia dimintai dana hingga Rp 300 juta, yang mirisnya, hanya untuk izin lokasi di luar biaya operasional.
"Mintanya mulai dari Rp 200 juta sampai Rp 300 juta. Itu hanya bayar untuk titik, belum lagi untuk pembangunan dapur dan biaya operasional," kata dia.
IS sendiri lebih memilih mengurus perizinan sesuai aturan ketimbang harus menyuap.
"Mending pakai jalur resmi dan persyaratan dilengkapi, daripada beli titik begitu," kata dia menambahkan.
4. Mitra Targetkan Pengungkapan Praktik Gelap
Akibat maraknya calo titik dapur ini, jumlah dapur MBG di Cianjur melonjak drastis dengan perizinan yang belum lengkap. Jarak antardapur yang terlalu berdekatan membuat mereka saling berebut penerima manfaat. Oleh karena itu, IS mendesak dan menjadikan pengungkapan kasus ini sebagai target utama yang harus diselesaikan.
"Banyak juga yang lokasinya berdekatan, sehingga saling ambil penerima manfaat. Makanya saya juga mendukung pengungkapan praktik jual beli titik dapur ini," kata dia.
5. Diiming-imingi Biaya Pembangunan Diganti
Nasib paling nahas dialami oleh mitra bernama Elis. Tidak hanya dimintai setoran untuk mendapatkan titik lokasi, ia juga dipaksa membangun fisik dapur menggunakan uang pribadinya dengan janji manis akan diganti di kemudian hari.
"Kalau saya dijanjikan untuk mendapatkan titik, tapi juga diminta untuk membangun dapurnya. Katanya nanti setelah selesai akan diganti. Jadi uang pembagunan kembali, kemudian saya bisa turut menjadi pengelola dapurnya," kata dia.
6. Oknum Kabur, Korban Rugi Rp 1 Miliar
Setelah uang disetorkan dan fisik bangunan setengah jadi, janji manis itu terbukti palsu. Oknum calo menghilang tanpa jejak, meninggalkan Elis dengan kerugian finansial yang luar biasa besar dan titik dapur yang ternyata fiktif.
"Orang yang menjanjikannya langsung menghilang. Saya sudah keluar uang lebih dari Rp 1 miliar. Itu untuk bayar dua titik dapur dan biaya pembangunan dapur yang saat ini sudah selesai 40 persen. Jadi pembangunan mangkrak, soalnya uangnya kan habis tidak diganti," kata dia.
7. Belasan Orang Diduga Jadi Korban
Berdasarkan pengakuan Elis, praktik kejahatan ini sudah memakan banyak korban di wilayah Cianjur. Ia memperkirakan jaringan penipu ini beroperasi secara luas.
"Bukan hanya saya, tapi banyak korbannya. Yang kenalan saya saja ada belasan yang jadi korban," pungkasnya.
(sya/sud)
