Segala Cara untuk Tangani Sampah di Bandung Usai Status Darurat Ditolak

Segala Cara untuk Tangani Sampah di Bandung Usai Status Darurat Ditolak

Rifat Alhamidi - detikJabar
Kamis, 04 Jun 2026 16:15 WIB
Ilustrasi sampah yang berserakan di Badung, (12/4/2026). Dokumentasi Wibhi Leksono/detikBali
Foto: Ilustrasi sampah yang berserakan di Badung, (12/4/2026). Dokumentasi Wibhi Leksono/detikBali
Bandung -

Pemkot Bandung kembali harus memutar otak untuk menangani masalah sampah. Setelah permintaan status kedaruratan ditolak, kini Pemkot sedang mengupayakan berbagai cara untuk bisa mengatasi polemik ini di lapangan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Darto, mengatakan, sejak libur panjang Hari Raya Idul Adha, Pemkot Bandung memperkirakan ada 1.200 ton penumpukan sampah di 5 TPS dengan karakteristik wilayah yang padat. Kelima TPS itu yakni Ciwastra, Batununggal, Kopo Elos, Dago Elos, dan Babakan Siliwangi.

Secara keseluruhan, Pemkot memperkirakan 2.800 ton sampah masih menumpuk dan belum tertangani. Namun kemudian, perkiraan itu meleset signifikan. Di TPS Ciwastra saja, saat itu tercatat tumpukan sampahnya mencapai 900 ton.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang kita perkirakan cuman 700, ternyata sudah mendekati 900 ton. Jadi cukup berat dibandingkan dengan volume nampaknya di lapangan," kata Darto saat berbincang dengan detikJabar, Kamis (4/6/2026).

Penumpukan sampah di TPS Ciwastra kemudian diintervensi Pemprov Jabar. Setelah proses pembersihan dan pengangkutan sampah secara bertahap bisa dilakukan, proses itu pun kini ditunda terlebih dahulu.

ADVERTISEMENT

Sebagai solusinya, di TPS Ciwastra nanti bakal dibangun mesin insinerator oleh TNI AD. Targetnya, maksimal pekan depan, mesin tersebut bisa mengolah 5 ton per jam.

"Artinya kalau beroperasi 8 jam kan itu bisa mencapai 40 ton per hari. Nah, data dari dua kecamatan itu itu kelihatannya akan terselesaikan. Karena sampah di TPS Ciwastra itu dari Kecamatan Rancasari dan Kecamatan Buahbatu," ungkapnya.

Kemudian, DLH Kota Bandung juga menargetkan pembangunan mesin pengolah sampah bervolume 50 ton per hari. Dengan demikian, kata Darto, masalah sampah di dua kecamatan itu pun ditargetkan bisa terselesaikan.

"Karena dua kecamatan itu potensi timbulannya teh 52 dan 63 ton per hari kalau enggak salah. Potensi, yah. Jadi kemungkinannya akan teratasilah dua kecamatan itu gitu," tuturnya.

4 Kecamatan Jadi Percontohan

Selanjutnya, DLH juga menargetkan empat kecamatan di Kota Bandung jadi percontohan dalam pengolahan sampah jenis organik. Keempat kecamatan itu adalah Buahbatu, Rancasari, Bandung Wetan, dan Arcamanik.

Keempat kecamatan ini dipilih karena punya karakteristik permukiman padat penduduk. Apalagi, sampah di Kota Bandung itu 40,7 persen merupakan sampah organik.

"Mengingat kemungkinan darurat ini ada kan, saya sudah ke empat kecamatan. Untuk apa? Untuk memberikan target-target keras kepada kewilayahan agar mereka sanggup mengolah sampah organiknya saja. Yang anorganik diselesaikan oleh DLH lewat teknologi yang khusus, gitu loh caranya," katanya.

"Kan rata-rata sampah organik kita itu 40,70 persen, sisanya sampah anorganik. Nah 40,70 persen sampah organik ini harus diselesaikan di hulu. Lemarin kita sudah memberikan simulasi, kita sudah memberikan angka kepada 4 kecamatan itu teh. Kita sudah menyampaikan kemarin perhitungan-perhitungan itu," bebernya.

Jika keempat kecamatan itu bisa signifikan dalam pengolahan sampah organik, maka sistem serupa bakal direplikasi ke wilayah lain. Targetnya, kata Darto, supaya penanganan sampah, terutama organik, bisa selesai di hulu, tepatnya di rumah tangga.

"Kecamatan lain akan menyusul, rasanya membuat piloting di 4 kecamatan itu cukup untuk uji coba. Kalau ini berjalan tinggal dicopy paste ke yang lain," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Pemkab Badung Benahi Infrastruktur, dari Trotoar hingga Kabel Bawah Tanah"
[Gambas:Video 20detik] (ral/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads