Cerita Ade Rabig Meracik Sirip Papan Selancar Kelas Dunia

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Minggu, 31 Mei 2026 07:00 WIB
Ade Rabig (gondrong beruban) bersama sejumlah pelanggannya yang mayoritas berasal dari luar negeri (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar)
Sukabumi -

Hamparan batu kerikil bulat berwarna hitam legam yang gemercik saling berbenturan dihantam ombak besar menjadi pemandangan ikonik di Pantai Cimaja, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.

Magnet utama "Surga Selancar Jawa Barat" ini terletak pada gulungan ombak kanan (right-hander) kelas dunia yang konsisten dan menantang. Sejak dekade 1970-an, deru ombak Cimaja yang bisa mencapai ketinggian hingga 5 meter telah memikat ratusan peselancar mancanegara untuk datang dan menetap.

Di salah satu dinding pembatas pantai, sebuah mural usang bertuliskan "Cimaja is The Best" seolah menegaskan reputasinya di mata para penggila olahraga ekstrem dunia.

Namun, untuk menemukan episentrum kreativitas lokal yang menyokong para peselancar dunia itu, kita harus sedikit bergeser menyusuri jalan raya beraspal Cisolok. Tepat sebelum melintasi sebuah jembatan rangka besi yang kokoh berdiri, sebuah pemandangan unik akan memaksa mata untuk menoleh.

Di pinggir jalan, berjejer plang penunjuk arah yang sangat khas dan tidak biasa. Alih-alih berupa papan persegi formal, plang tersebut dibuat menyerupai replika sirip papan selancar raksasa.

Guratan cat putih bertuliskan "CV BATIK FINS - CUSTOMMADE HANDMADE FINS -> 100 M" tampak kontras berdiri di samping sebuah patung elang kecil yang bertengger di atas fondasi semen.

Mengikuti petunjuk anak panah tersebut masuk ke jalan lingkungan, sebuah plang serupa yang mencantumkan nomor ponsel kembali menyambut, mengarahkan langkah tepat menuju sebuah bangunan teras setengah terbuka yang rimbun.

Begitu menginjakkan kaki di lantai semen kasar bengkel kerja tersebut, bau menyengat dari cairan kimia resin segera menusuk hidung. Suasana siang itu terasa begitu hidup.

Di sudut teras, dua warga negara asing (WNA) bertubuh kekar dan bertato tampak berdiri antusias. Dengan celana pendek khas peselancar atau boardshorts, mereka sesekali menunjuk ke arah barisan sirip yang sedang dikerjakan.

Mereka adalah turis asing yang sengaja datang langsung untuk memantau pengerjaan fins pesanan khusus mereka. Pemandangan paling mencolok di dalam workshop ini adalah seutas tali jemuran yang direntangkan di bawah atap asbes. Bukan pakaian yang menggantung di sana, melainkan belasan fins selancar bertekstur kayu eksotis dengan lapisan kain batik di dalamnya.

Sirip-sirip itu dijepit rapi menggunakan jepitan baju plastik warna-warni, dibiarkan berayun pelan ditiup angin pesisir agar cairan resinnya mengering sempurna di bawah hangatnya cuaca Sukabumi.

Di tengah keriuhan itu, seorang pria paruh baya dengan pakaian kerja yang penuh noda resin tampak memegang mesin ampelas. Ia begitu teliti membentuk kelengkungan sebuah sirip yang baru saja turun dari jemuran.

Pria itu adalah R. Ilham Santosa (53), namun di kalangan peselancar pesisir, ia lebih akrab disapa Ade Rabig. Di tangannya, sirip papan selancar yang biasanya polos disulap menjadi media seni tinggi bermotif batik asli Nusantara.

Perjalanan Ade Rabig di dunia selancar tidak dimulai secara instan. Jauh sebelum jemarinya akrab dengan serat kaca (fiberglass), Ade adalah seorang perantau keras di pedalaman Kalimantan yang bekerja di industri pertambangan mineral batu mangan.

Skenario hidup berubah ketika ia memutuskan pulang ke Sukabumi, menikah dengan sang istri Rinda Ayu, dan menetap di kawasan pesisir Cisolok pada tahun 1995. Berdampingan langsung dengan surf break legendaris yang saban hari dipadati turis asing, Ade melihat para peselancar mancanegara kerap kesulitan mencari komponen sirip papan selancar yang rusak atau patah akibat benturan karang.

"Tahun 1995 sampai 1996 itu, banyak bule yang main papan selancar tanpa sirip di sini karena logistiknya susah kalau patah. Lalu kalau tidak salah ada Mister Nick, orang Australia, dia berbaik hati kasih saya papan selancar. Dari sana saya mulai eksperimen bikin fin pakai kayu, pipa paralon, lalu ditekuk pakai api supaya kuat," kenang Ade Rabig membuka cerita sembari menyeka keringat di dahinya saat ditemui detikJabar, Sabtu (30/5/2026).

Lama-kelamaan, sirip hasil modifikasi paralon bakar itu menarik perhatian. Berawal dari saran seorang pemuka warga yang biasa menjual bahan kimia, Ade diarahkan untuk mempelajari karakteristik resin cair bahan dasar utama yang jauh lebih kuat, presisi, dan fleksibel untuk menahan hantaman ombak besar.

Keajaiban dari Selembar Kain Lap Usang

Karya Ade Rabig Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar

Memasuki tahun 1998, eksperimen Ade Rabig mencapai babak baru. Di tengah keterbatasan ruang kerja kala itu, sebuah keajaiban estetika justru lahir dari ketidaksengajaan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Saat sedang sibuk mencetak resin cair di atas lembaran serat kaca, Ade secara spontan mengambil selembar kain samping (sarung) batik bekas milik anak-anaknya yang sudah usang dan robek.

Kain itu awalnya hanya diniatkan sebagai kain lap biasa untuk membersihkan sisa cairan resin yang meluber di meja kerja. "Kain batik itu nempel di cetakan dan saya biarkan saja sampai resinnya mengering. Begitu cetakan dibuka dan saya lihat hasilnya, ternyata motif batiknya menempel sempurna di dalam resin dengan sangat indah. Dari ketidaksengajaan itulah awal mula saya fokus bikin sirip bermotif batik," ungkap Ade.

Hasil akhirnya memang mengagumkan. Jika dilihat dari dekat, sirip selancar tersebut menampilkan kilau transparan fiberglass yang membungkus serat kayu kelapa yang anggun, dipercantik dengan potongan kain batik bercorak parang atau megamendung di bagian dasarnya, lengkap dengan logo khas bertuliskan "Batik Fins Cimaja".

Sebuah perpaduan apik antara fungsionalitas olahraga ekstrem budaya Barat dengan keelokan seni budaya Nusantara.

Merek Lokal yang Merambah Penjuru Dunia

Meski seluruh proses produksi dilakukan di rumahnya yang terletak di Desa Karangpapak, Ade secara sadar memilih nama Batik Fins Cimaja. Ade memiliki alasan taktis dan naratif yang kuat dari kacamata seorang perajin. Bagi komunitas selancar internasional, nama 'Cimaja' adalah sebuah identitas global yang sangat kuat dibandingkan nama Kabupaten Sukabumi itu sendiri.

Ade ingin setiap karyanya menjadi bukti autentik dan kenang-kenangan dari keganasan ombak Cimaja yang telah mereka taklukkan. Kini, buah dari ketekunannya sejak tahun 1995 telah melanglang buana menembus batas negara. Sirip batik buatan tangan Ade telah dipakai oleh para peselancar di Australia, Jepang, Prancis, Amerika Serikat, Jerman, Spanyol, Pantai Gading, Maladewa, hingga Sri Lanka.

Untuk pasar domestik, produknya konsisten dikirim ke sentra selancar papan atas seperti Bali, Lombok, Padang, hingga Medan. Di usianya yang kini kepala lima, Ade Rabig mulai memikirkan keberlanjutan warisan seni pesisir ini. Dari kelima anaknya, Mayang Permata, Sakti Anugrah, Zagi Panuntun, Satria Adi, dan Pengersa Rengganis, anak keempatnya kini sudah mulai turun tangan langsung di workshop yang penuh debu resin ini, siap meneruskan tongkat estafet sebagai generasi penjaga kreasi lokal Sukabumi yang telah diakui dunia.




(iqk/iqk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork