Pelaksanaan Idul Adha 1447 Hijriah di Kota Bandung masih diwarnai temuan cacing hati pada hewan kurban. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung mencatat ratusan kasus cacing hati ditemukan saat proses pemeriksaan post mortem atau pemeriksaan setelah penyembelihan hewan kurban.
Meski demikian, petugas memastikan bagian hati yang terinfeksi langsung dipisahkan dan tidak dibagikan kepada masyarakat untuk dikonsumsi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabid Keamanan Pangan DKPP Kota Bandung, Imam Setyadi, mengatakan proses pemeriksaan post mortem masih terus berlangsung karena aktivitas pemotongan hewan kurban di Rumah Potong Hewan (RPH) maupun di lingkungan masjid dan masyarakat masih berjalan.
"Kalau jumlah pemeriksaan terjadi penurunan,dibandingkan tahun kemarin, tapi hari ini masih berlangsung di RPH dan DKM-DKM di Kota Bandung," kata Imam kepada detikJabar.
Ia menyebut secara keseluruhan jumlah hewan yang diperiksa pada tahun 2026 mencapai 2.163 ekor. Angka tersebut menurun sekitar 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 3.000 ekor.
"Memang secara keseluruhan jumlah terperiksa 2026 mencapai 2163, ada penurunan 30 persenan, tahun kemarin 2025 mencapai 3.000-an," tambahnya.
Dari hasil pemeriksaan tersebut, DKPP masih menemukan kasus cacing hati pada sapi maupun domba. Temuan itu menjadi perhatian petugas karena organ yang terinfeksi harus langsung diafkir demi menjaga keamanan pangan masyarakat.
"Dari hasil post mortem, masih ditemukan adanya kasus cacing hati. Jadi di tahun 2026, masih ditemukannya cacing hati di sapi 175 ekor dan di somba 86 ekor," ungkapnya.
Meski jumlah kasus masih cukup tinggi, Imam menyebut tingkat keparahan infeksi cacing hati tahun ini mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya. Jika dahulu dalam satu ekor sapi bisa ditemukan hingga dua kilogram hati yang harus diafkir, kini rata-rata hanya sekitar satu kilogram.
"Tapi secara jumlah perekornya menurun, dulu dalam 1 ekor dua kilo (hati yang diafkir), sekarang jadi satu kilo, bahkan dulu sampai ada yang afkir semua," tambahnya.
Menurut Imam, kondisi tersebut menunjukkan adanya perbaikan pola budidaya dan pengobatan yang dilakukan peternak terhadap hewan ternak mereka. Ia menilai para peternak mulai memperhatikan kualitas kesehatan hewan yang dipelihara.
"Berarti ada usaha peternak melakukan pengobatan. Biasanya juga di jantung atau limpa, tahun ini penurunan, limpa zero kasus. Ini dampak usaha peternak untuk memperbaiki sistem budidaya, kalau budidaya secara profesional seperti di perusahaan pemberian paka konsentrat pasti tidak akan ditemukan. Tapi ini sapi yang dirawat secara tradisional dengan pemberian rumput," jelasnya.
Ia juga memaparkan salah satu penyebab munculnya infeksi cacing hati pada ternak, yakni kebiasaan pemberian rumput yang dipotong saat pagi hari ketika telur atau larva cacing masih menempel pada rumput akibat embun.
"Yang jadi permasalahan hasil rumput hasil motong di pagi hari, biasanya kena infeksi cacing faksiola, baiknya potong rumput sesudah ada matahari, supaya cacingnya masuk ke tanah dulu," sambungnya.
DKPP Kota Bandung pun mengimbau masyarakat agar tidak mengonsumsi bagian hati yang ditemukan cacing. Organ yang terinfeksi harus segera dipisahkan untuk mencegah risiko gangguan kesehatan.
"Himbauan kepada masyarakat, kami telah melalukan pengawasan sebelum pemotongan dan setelah pemotongan, ini bagian usaha kita agar hewan kurban aman dan kami hadir demi memberi keamanan kepada masyarakat," pungkasnya.
(wip/dir)
