Keterlibatan perempuan di sektor perkebunan teh di kawasan Kabupaten Bandung terus diberdayakan. Mereka tak sekadar jadi pekerja semata, namun turut didorong berinovasi demi meningkatkan kesejahteraannya.
Komitmen ini tertuang dalam diskusi community development forum (CDF), Senin (25/5) yang digagas Care Indonesia. Forum ini menjadi wadah bagi pemerintah desa, manajemen perusahaan teh, pekerja termasuk pekerja perempuan dan masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pengalamannya, Care Indonesia telah memberdayakan para petani dan masyarakat di Desa Banjarsari, Desa Margaluyu, dan Desa Indragiri, Kabupaten Bandung. Digagas sejak 2023, forum itu pun mempertemukan pekerja, komunitas, manajemen perkebunan, pemerintah desa, hingga kelompok perlindungan masyarakat.
"Program ini menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam partisipasi komunitas, sebanyak 1.812 orang terlibat langsung dalam CDF di tiga wilayah perkebunan yang juga ada di tiga desa," kata CEO Care Indonesia, Abdul Wahib Situmorang dalam keterangannya, Selasa (25/5/2026).
Abdul menambahkan, perubahan signifiman dari program ini adalah tumbuhnya kepercayaan masyarakat untuk terlibat aktif dalam pengambilan keputusan. Bahkan, keterlibatan perempuan kini mulai aktif berpendapat, memimpin forum, hingga mendorong solusi bagi komunitasnya sendiri.
"Sebanyak 91,7 persen anggota komunitas merasa memiliki peran aktif dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi kesejahteraan mereka. Selain itu, perempuan kini memegang 145 posisi dalam struktur CDF, termasuk 34 posisi kepemimpinan," jelasnya.
Abdul turut menjelaskan, tiga CDF yang terbentuk juga mendorong lahirnya berbagai inisiatif komunitas yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat. Melaui pengembangan tiga kelompok usaha bersama (KUBE) di Perkebunan Malabar, Perkebunan Pasir Malang dan Perkebunan Nagara Kanaan dengan jenis usaha bervariasi, seperti usaha Warung Teh, penjualan gas elpiji, penjualan pupuk, lemon kering, kopi, jamur, serta pengolahan sayur dan buah.
"Pengembangan usaha ini ada karena melihat potensi sumber daya yang ada dan kebutuhan masyarakat setempat. Melalui berbagai usaha yang dikelola, tiga CDF tersebut berhasil mendapatkan omzet sebesar Rp 75,6 juta per tahun hingga November 2025," katanya.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Bandung Marlan menambahkan, pemberdayaan perempuan erat kaitannya dengan peningkatan peran perempuan dalam pembangunan. Pemberdayaan perempuan merupakan proses membangun kapasitas dan memberikan akses yang setara kepada perempuan terhadap berbagai sumber daya yaitu ekonomi, politik, sosial, dan budaya.
"Program ini memberi ruang untuk pembelajaran dan berbagi praktik baik implementasi CDF di wilayah perkebunan teh di Kabupaten Bandung," pungkasnya.
