Jalur kereta api atau KA Banjar-Cijulang menyisakan sejumlah cerita. Sisa-sisa bekas operasional ular besi itu kini tinggal kenangan. Di Kabupaten Pangandaran, peninggalan sisa operasional kereta era Belanda masih bisa dijumpai, mulai dari bangunan stasiun, terowongan, hingga jembatan. Namun, kondisinya ada yang masih kokoh, ada pula yang mulai rapuh.
Kondisi bangunan kokoh era Belanda yang masih utuh di antaranya Terowongan Wilhelmina di Kalipucang, Terowongan Hendrik, Terowongan Juliana, Stasiun Kalipucang, Pangandaran, Cijulang, serta Jembatan KA Cikacepit dan Cikembulan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jembatan KA Parigi-Cijulang saat ini masih terlihat berdiri kokoh. Meski struktur besinya mulai rapuh, bangunan tersebut tetap terlihat estetik. Jalur KA Banjar-Cijulang sepanjang 82 km itu dibangun pada 18 Juli 1911 dengan jarak awal 77,78 km yang semula hanya menghubungkan Banjar hingga Parigi. Kemudian, jalurnya ditambah sejauh 4,37 km hingga Cijulang pada 6 Juni 1919.
Operasional KA Banjar-Cijulang dibuka dalam beberapa tahap. Pertama, lintas Banjar-Kalipucang sejauh 43,19 km pada 15 Desember 1916; Kalipucang-Parigi 34,38 km pada 1 Januari 1921; dan Parigi-Cijulang 4,38 km pada 1 Juni 1921.
Pembangunan lintas Kalipucang-Parigi sepanjang 34,38 km dimulai pada 1 Januari 1921. Jadi, jembatan kereta api tersebut termasuk dalam tahap kedua progres pembangunan.
Kepala Bidang Budaya di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Pangandaran, Sugeng, mengatakan peninggalan bangunan Kereta Api (KA) saat ini sudah tercatat sebagai cagar budaya karena usianya sudah lebih dari 50 tahun. "Semua sudah tecatat, dan sempat diajukan menjadi cagar budaya benda dari mulai terowongan Wilhelmina sampai Cijulang," ucap Sugeng, Jumat (22/05/2026).
Menurutnya, di beberapa titik jalur kereta api, besi-besinya mulai hilang diambil oleh orang tak bertanggung jawab. "Sebagian hilang dan ada juga yang dibawa," katanya.
Ia berharap semua aset KA bisa dijaga bersama-sama agar tetap lestari.
(iqk/iqk)
