Perasaan haru dan lega menyelimuti keluarga jurnalis foto Republika, Thoudy Badai Rifanbillah (29), setelah menerima kabar bahwa ia telah dibebaskan oleh tentara Israel. Setelah proses pembebasan, rombongan warga negara Indonesia (WNI) yang sebelumnya ditahan diketahui telah diterbangkan menuju Turki.
Di tengah penantian jadwal kepulangan, keluarga yang berkumpul di kediaman masih larut dalam suasana emosional. Rasa syukur dan kebahagiaan tampak menyatu setelah beberapa waktu terakhir diliputi kecemasan menunggu kabar.
Thoudy, yang akrab disapa Ody, diketahui menjadi salah satu jurnalis foto yang bergabung dalam misi kemanusiaan bersama organisasi kemanusiaan Global Sumud Flotilla. Rombongan relawan dan aktivis tersebut sebelumnya dihentikan dan ditahan oleh tentara Israel saat berlayar di Laut Mediterania dalam perjalanan menuju Gaza, Palestina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibunda Ody, Hany Hanifa Humanisa (56), mengatakan keluarga pertama kali menerima kabar pembebasan putranya pada Kamis (21/5/2026). Setelah itu, mereka akhirnya bisa berbicara langsung melalui panggilan video saat Ody sudah berada di Turki.
"Kita video call langsung dan kabar dari thoudy itu malamnya sekitar jam 9.30 WIB waktu kita," ujar Hany saat ditemui di Pondok Pesantren Husainiyah, Jalan Pamoyanan, Kampung Panenjoan, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jumat (22/5/2026).
Menurut Hany, momen tersebut menjadi titik yang membuat keluarga benar-benar percaya bahwa Ody dalam keadaan selamat. Sebelumnya, keluarga hanya memperoleh informasi secara terbatas.
"Itu benar-benar tidak menyangka. Kita bisa yakin bahwa Thoudy selamat karena langsung ngobrol, dengar suaranya, dan lihat wajahnya melalui video call," katanya.
Hany menjelaskan, saat berkomunikasi Ody menggunakan telepon genggam milik salah satu staf Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI). Karena perangkat digunakan bergantian oleh para relawan, percakapan berlangsung singkat dan lebih banyak berisi saling memastikan kondisi masing-masing.
"Jadi cuma say hello, menanyakan kabar. Katanya juga sedang antre, jadi HP itu dipakai untuk semua relawan yang ingin menghubungi keluarganya. Jadi poin-poinnya saja, cuma say hello, nanya kabar, ketawa-ketawa, tidak banyak bicara," jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa saat panggilan berlangsung, keluarga tengah bersama tim dari Republika sehingga momen tersebut turut terdokumentasi dan kemudian beredar di media.
"Waktu itu kebetulan saya sedang ada telepon dari tim Republika, jadi sekalian Pak Dio (Pemred Republika) ikut. Makanya yang beredar di media itu. Sebenarnya kita yang mengundang Pak Dio," tambahnya.
Meski sudah dapat melihat kondisi putranya secara langsung, keluarga memilih belum mengambil kesimpulan terkait kondisi kesehatan Ody sebelum ada pemeriksaan medis lebih lanjut. Saat ini mereka masih menunggu hasil pemeriksaan dari rumah sakit.
"Kalau yang kelihatan sih sehat secara fisik. Cuma ada keluarga yang notice, 'Itu kenapa ya kaki thoudy seperti pincang jalannya?' Saya sendiri tidak terlalu notice ke sana. Mudah-mudahan cuma kelihatannya saja," ucapnya.
Kini, keluarga mengaku jauh lebih tenang setelah bisa berbicara langsung dengan Ody. Namun mereka masih menantikan kepastian jadwal kepulangan dari Turki ke Indonesia.
"Sedikit (lebih tenang). Ya mungkin sekitar 85 persen," pungkasnya.
Keluarga Tunggu Kepulangan
Kepulangan jurnalis foto Republika, Thoudy Badai Rifanbillah atau Ody, ke Bandung diperkirakan mengalami penundaan. Keluarga menyebut, semula Ody dan rombongan relawan dijadwalkan berangkat dari Turki hari ini. Informasi tersebut diterima langsung dari tim Global Sumud Flotilla.
Namun, rencana kepulangan itu belum dapat dilaksanakan setelah muncul pertimbangan terkait kondisi para relawan yang baru dibebaskan.
"Cuma ketika proses penyambutan dari Israel ke Turki, mereka ngobrol-ngobrol dan ternyata banyak kondisi fisik relawan yang memprihatinkan," ujar Hany.
Ibunda Ody itu menjelaskan, hingga saat ini keluarga belum menerima kepastian mengenai jadwal kepulangan terbaru. Berdasarkan informasi yang diperoleh, para relawan masih menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan.
Menurutnya, kemungkinan ada sejumlah pertimbangan lain yang turut memengaruhi penjadwalan ulang perjalanan, termasuk kebutuhan pemeriksaan lanjutan.
"Mungkin juga ada pertimbangan hukum atau hal lain, kita tidak tahu. Katanya diperlukan pemeriksaan fisik untuk mereka sebagai bukti atau apa, jadi mungkin itu salah satu alasan penundaan," katanya.
Hany menambahkan, pihak keluarga juga belum mengetahui kapan Ody akan tiba di Bandung. Namun apabila jadwal kepulangan sudah ditetapkan, keluarga berencana melakukan penjemputan di Jakarta.
"Kalau pulang ke Bandung belum tahu. Nanti kalau sudah ada informasi, kemungkinan akan dijemput di bandara di Jakarta," tambahnya.
Di tengah proses pemulangan yang masih berlangsung, keluarga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan berbagai pihak yang telah terlibat dalam upaya membebaskan dan memulangkan para WNI yang sebelumnya ditahan. Menurut Hany, proses tersebut menunjukkan adanya kerja sama dan koordinasi yang membuahkan hasil.
"Saya mengapresiasi upaya pemerintah dan berharap negosiasi apa pun yang dilakukan ini membuahkan hasil. Buktinya sekarang kita ketahui bersama bahwa semua relawan sudah dibebaskan dan dipulangkan, walaupun masih transit di Turki," ucapnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang selama ini memberikan dukungan, mulai dari pemerintah, tim kemanusiaan, media, hingga masyarakat.
"Terima kasih kepada semua pihak, dari Kemenlu, pemerintah, Pemred Republika yang gerak cepat, pihak Sumud Flotilla yang sudah mempersiapkan segala sesuatunya sampai proses pemulangan ini, juga media dan semua elemen masyarakat yang memberikan dukungan lewat postingan-postingan," pungkasnya.
(dir/dir)
