Ketegaran Ibunda Jurnalis Republika yang Anaknya Ditahan Tentara Israel

Ketegaran Ibunda Jurnalis Republika yang Anaknya Ditahan Tentara Israel

Yuga Hassani - detikJabar
Selasa, 19 Mei 2026 19:10 WIB
Ibunda Thoudy Badai, Hani Hanifa Humanisa (56) (kiri) saat berbincang dengan awak media, Selasa (19/5/2026).
Ibunda Thoudy Badai, Hani Hanifa Humanisa (56) (kiri) saat berbincang dengan awak media, Selasa (19/5/2026). (Foto: Yuga Hassani/detikJabar)
Bandung -

Seorang jurnalis foto Republika, Thoudy Badai Rifan Billah (29), menjadi salah satu warga negara Indonesia (WNI) yang diculik dalam misi Global Sumud Flotilla. Pria tersebut turut diculik tentara Zionis Israel saat sedang berlayar di laut lepas Mediterania menuju Gaza, Palestina.

Suasana hening dan kecemasan menyelimuti keluarga Thoudy di Pondok Pesantren Husainiyah, Jalan Pamoyanan, Kampung Panenjoan, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Selasa (19/5/2026). Mereka menanti kabar putranya yang tengah berjuang demi misi kemanusiaan.

Dalam aksi kemanusiaan tersebut, pria yang kerap disapa Ody itu berlayar menggunakan kapal Ozgurluk. Di kapal tersebut, dirinya diculik bersama WNI lainnya, yakni jurnalis TV Tempo Andre Prasetyo dan jurnalis iNews Heru Rahendro.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, WNI lainnya yang turut diintersep dan diculik tentara Zionis Israel adalah aktivis Andi Angga di kapal Josef, serta jurnalis Republika Bambang Noroyono di kapal Bolarize. Kelima WNI tersebut saat ini masih dalam penahanan tentara Zionis Israel.

Kabar tersebut membuat keluarga gamang dan menanti kabar baik dari para pejuang kemanusiaan. Terlebih, keluarga menginginkan para WNI tersebut bisa kembali ke Tanah Air dengan kondisi selamat.

ADVERTISEMENT

Ibunda Ody, Hani Hanifa Humanisa (56), mengatakan bahwa kepergian Ody dalam misi kemanusiaan tersebut sudah dilakukan sebanyak dua kali. Kata dia, keberangkatan pertama melalui jalur Turki pada tahun 2005.

"Nah, di Turki (2025) itu dia kan ikut pelatihan untuk selanjutnya kalau diizinkan oleh orang tuannya lanjut ke Gaza. Tapi waktu di Turki, saya tidak kasih izin. Karena itu kekhawatiran yang sangat mendalam ya gitu. Sudah tahu semuanya kan kondisi begitu," ujar Hani, saat ditemui awak media.

Setelah itu, keberangkatan misi kemanusiaan kembali dilakukan Thoudy setelah melalui diskusi yang cukup mendalam. Pria tersebut akhirnya kembali berangkat pada tahun 2026 melalui jalur Tunisia.

"Nah, di yang kedua ini saya melihat ada passion Odi di situ. Jadi sebagai ibu lah kita enggak bisa, sebagai orang tua tetap pastilah kekhawatiran dan mungkin sisi keibuan saya akan bilang enggak boleh, enggak usah ikut gitu," katanya.

Hani menyebutkan anaknya tersebut harus bisa hidup bukan hanya untuk orang tua dan keluarga. Menurutnya, sang putra harus bisa hidup bagi dirinya sendiri sekaligus bermanfaat bagi masyarakat luas.

"Saya melihat ada keinginan kuat Ody untuk mengalami ini. Selain dari sisi profesionalismenya ya sebagai jurnalis, tapi sebagai pribadinya, sebagai jiwa adventure itu dia pengen merasakan," jelasnya.

Pihaknya tidak menampik ada kekhawatiran dalam hatinya. Apalagi rute yang dilalui adalah salah satu kawasan konflik paling rawan di dunia. Namun, menurutnya, sang anak memiliki tekad kuat untuk menyuarakan isu kemanusiaan.

"Sebagai seorang ibu, bohong jika saya tidak khawatir. Perasaan cemas itu pasti ada. Namun, melihat niat baik dan profesionalisme sebagai jurnalis, tugas saya sebagai orang tua adalah memberikan rida, dukungan penuh, dan doa terbaik," ucapnya.

Kata Hani, selama perjalanan dari Indonesia dan berada di atas kapal tersebut, Ody kerap berkomunikasi dengan keluarga. Pihak keluarga juga memantau pergerakan kapal melalui tautan radar yang dibagikan anaknya.

Setelah itu, kapal yang ditumpangi Ody diintersep oleh tentara Zionis Israel. Kata dia, pihak keluarga pun semakin was-was ketika mendengar kabar tersebut.

"Iya saat pertama kali mendengar kabar bahwa kapal delegasi diintersep dan Ody ikut mengalaminya, perasaan saya tentu tak bisa digambarkan. Sedih dan khawatir sebagai ibu adalah hal yang manusiawi. Namun, di saat yang sama, saya tahu saya harus tegar demi Ody," bebernya.

"Tapi tetap aja kaget sih kalau dengar kabar, walaupun sudah kita ancang-ancang tetap gitu ya ketika dapat kabar itu mah sedih weh kaget. Keluarga juga semuanya syok. Tapi kita mencoba enggak panik, tenang. Maksudnya mengendalikan terkendali gitu, mengendalikan emosi sambil rasional," tambahnya.

Menurutnya, saat ini pihak keluarga memilih untuk tetap tenang dan tidak panik. Salah satu langkahnya adalah berkoordinasi dengan tempat Ody bekerja dan berbagai pihak yang bertanggung jawab terkait keberangkatan tersebut.

"Pertama yang kami lakukan adalah bergerak secara terukur, berkoordinasi intensif dengan ruang redaksi tempat Ody bekerja, serta berkomunikasi dengan perwakilan Global Sumud Flotilla. Kami fokus mengumpulkan informasi resmi dan valid agar tidak terjebak dalam spekulasi," kata Hani.

Hani menambahkan, saat ini harapan keluarga bertumpu pada langkah pemerintah Indonesia. Dia meyakini pemerintah Indonesia akan turut membantu memulangkan sejumlah WNI yang tertahan dalam misi tersebut.

"Iya kami juga sangat memahami bahwa situasi di lapangan memiliki kompleksitas tersendiri. Oleh karena itu, kami menaruh kepercayaan penuh kepada Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Luar Negeri dan jajaran direktorat terkait, yang kami yakini tengah bekerja keras menggunakan jalur diplomasi internasional yang profesional untuk memastikan keselamatan dan pemulangan seluruh warga negara Indonesia," pungkasnya.

(orb/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads