Duduk Perkara Video Viral Pasien Diduga Ditolak RSUD Otista Bandung

Duduk Perkara Video Viral Pasien Diduga Ditolak RSUD Otista Bandung

Yuga Hassani - detikJabar
Kamis, 21 Mei 2026 10:30 WIB
Gedung Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Oto Iskandar Di Nata (Otista), Soreang, Kabupaten Bandung.
Gedung Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Oto Iskandar Di Nata (Otista), Soreang, Kabupaten Bandung. (Foto: Yuga Hassani/detikJabar)
Bandung -

Seorang pasien mengeluhkan pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Oto Iskandar Di Nata (Otista), Soreang, Kabupaten Bandung. Keluarga pasien tampak tidak menerima dan mengunggah video ke media sosial hingga viral.

Dari video yang diterima detikJabar, Kamis (21/5/2026), tampak pasien tersebut tengah mengeluh kesakitan dengan didampingi keluarga. Terlihat pasien tersebut berada di dalam IGD dan berjalan ke luar sambil meringis kesakitan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam narasi di media sosial, pasien tersebut mengalami asma dan diduga mengalami penolakan pemeriksaan dari pihak rumah sakit dengan alasan penuh. Kemudian, perekam video tersebut tampak murka dan memaki petugas yang ada di dalam IGD tersebut.

Peristiwa tersebut diketahui terjadi pada Selasa, 19 Mei 2026 lalu. Setelah itu, keluarga korban langsung mengunggah video tersebut ke media sosial hingga viral. Berbagai reaksi dan kecaman muncul dari laman media sosial tersebut.

ADVERTISEMENT

Menanggapi permasalahan tersebut, Direktur Utama (Dirut) RSUD Otista Yuli Irnawaty Mosjasari langsung buka suara. Bahkan, dirinya meminta maaf kepada masyarakat terkait adanya peristiwa tersebut.

"Terkait dengan video yang kemarin viral, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan kepada pasien, keluarga, maupun masyarakat," ujar Yuli, kepada awak media, Kamis (21/5/2026).

Pihaknya menjelaskan, IGD rumah sakit dalam kondisi melayani banyak pasien saat peristiwa terjadi. Menurutnya, pasien-pasien tersebut membutuhkan penanganan secepatnya dari tenaga kesehatan.

"Pada saat itu memang di IGD kami kondisi pasien yang sangat banyak, sehingga menumpuk pasien penuh. Sehingga sesuai dengan kegawat daruratan, kami harus melakukan prioritas dalam penanganan pasien," katanya.

Yuli memahami kondisi pasien yang viral di media sosial tersebut dalam kondisi cemas. Namun menurutnya, saat peristiwa terjadi para tenaga kesehatan harus melaksanakan pelayanan pasien lainnya.

"Jadi saat itu sebelumnya ada datang dua pasien yang memang gawat darurat. Penanganannya juga harus menggunakan banyak peralatan, sehingga tenaga kami terkonsentrasi kepada yang gawat darurat tersebut. Sehingga pasien yang datang menjadi menunggu," jelasnya.

Dia menyadari dengan kedatangan pasien ke IGD adalah sebuah bukti masyarakat percaya terhadap RSUD Otista. Kata dia, hadirnya pasien itu pun harus dibarengi dengan pelayanan yang optimal.

"Jadi kami akan melakukan perbaikan, penyiapan perluasan pelayanan yang mana pasti membutuhkan waktu untuk itu karena harus disiapkan sarana-prasarana dan SDM-nya," ucapnya.

Dia menambahkan, kunjungan pasien ke RSUD Otista meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Sehingga, sejumlah perbaikan dan evaluasi akan dilakukan oleh pihak rumah sakit.

"Sehingga hal tersebut akan kami lakukan perbaikan ke depannya dengan melakukan suatu mungkin penambahan kapasitas. Karena memang akhir-akhir ini pasien semakin meningkat kunjungan ke rumah sakit ini," pungkasnya.

(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads