Di balik keindahan objek wisata Sawah Lope dan Bukit Panagaran, terdapat peran signifikan Saparudin, Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sangga Emas, Desa Cikaso. Sambil menunjukkan setiap sudut area wisata Bukit Panagaran, Saparudin mengisahkan perjalanannya menjabat sebagai Direktur BUMDes sejak lima tahun lalu. Kala itu, sebelum ia memimpin, BUMDes Sangga Emas dalam kondisi mangkrak tanpa adanya pendapatan yang masuk.
"Dari 2016 itu BUMDes sudah ada kepengurusan cuman nggak berkembang, jalan di tempat. Barulah pas pergantian saya yang megang, tahun 2020 mulai dikembangkan lagi sampai 2023 itu diikutkan lomba," tutur Saparudin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saparudin memaparkan bahwa pada masa awal membangkitkan kembali badan usaha tersebut, tantangan yang dihadapi cukup berat. Dengan modal seadanya, ia rela menguras kolam renang milik desa yang terbengkalai untuk dialihfungsikan sebagai destinasi wisata.
"Pada waktu itu untuk berjalannya BUMDes, kita diserahkan kolam renang, kolam renang yang seperti penangkaran, yang sudah tidak berfungsi, udah jadi kolam lele, hitam gitu ya. Kita dengan rekan-rekan pada waktu itu beberapa bulan membersihkan kolam renang tanpa upah, tanpa apa-apa. Pokoknya kita bergerak. Ya alhamdulillah, akhirnya itu kolam Cimalati bisa aktif lagi," tutur Saparudin.
Tantangan tidak hanya datang dari aspek teknis, tetapi juga dari masyarakat sekitar. Menurutnya, gagasan pengembangan wisata desa sempat menuai penolakan karena situasi saat itu masih dalam masa pandemi COVID-19. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Saparudin.
"Saya sendiri selaku ketua BUMDes positif saja, bahwa orang kritik itu pertama karena ketidaktahuan. Terus yang kedua, kita kasih paham, bahwa kita positive thinking bahwa semua masyarakat Desa Cikaso pengen semuanya memajukan desanya. Makanya alhamdulillah di sini tidak ada suatu masalah yang tidak dapat diselesaikan. Sebab saya sendiri berkeyakinan bahwa semua masyarakat Cikaso pengen memajukan Cikaso," tutur Saparudin.
Selain sektor wisata seperti Sawah Lope, Kolam Cimalati, dan Bukit Panagaran, BUMDes Sangga Emas Cikaso juga merambah usaha ke bidang pertanian, pengelolaan beras, penyewaan ruko, hingga pengolahan bawang. Berbagai unit usaha tersebut diklaim mampu menyerap ratusan tenaga kerja harian.
"Kebetulan potensi lokalnya di pertanian. Kita dapat bantuan waktu itu Rp1 M dari Kementerian Pertanian buat bikin pabrik beras dengan kapasitas penggilingan sampai Rp 100 ton lebih. Kalau di pabrik ada 3 orang. Untuk di sawah lope sendiri hampir 11 orang. Kalau di pertanian banyak. Sekali mau tanam tuh hampir diangkat 150 orang. Upahnya harian sekitar Rp100.000," tutur Saparudin.
Melalui berbagai sektor usaha tersebut, BUMDes Sangga Emas mampu menyumbangkan pendapatan bagi desa hingga mencapai puluhan juta rupiah.
"Tahun 2021 pendapatan Rp 7 Juta, 2022-nya Rp 30 juta, 2023-nya 50 juta, 2024-nya di Rp 37 juta dan di tahun 2025 Rp 45 juta. Semua itu laba bersih, 25% ke desa, selebihnya di pengembangan. Iya sempat turun terus naik lagi. Itu karena Pertama Kolam Cimalati ada kendala di airnya. Terus pabrik goreng bawangnya kita terkendala di izin BPOM. Jadi nggak bisa kita jual," tutur Saparudin.
Pada tahun 2023, Desa Cikaso berhasil meraih juara kedua tingkat nasional dalam ajang Nugraha Karya Desa BRIlian yang diikuti oleh ribuan desa se-Indonesia. Pada tahun 2024, Desa Cikaso juga meraih penghargaan sebagai Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) terbaik se-Kabupaten Kuningan. Saparudin menilai penghargaan tersebut merupakan buah dari dedikasi serta kolaborasi seluruh warga dalam membangun desa.
Saparudin menjelaskan bahwa keberhasilannya dalam mengelola BUMDes berakar dari pengalamannya selama puluhan tahun sebagai petani dan pengusaha. Ia menegaskan bahwa keterlibatannya dalam BUMDes didasari oleh keinginan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
"Saya di pertanian dan pengusaha basic-nya. Motivasi saya pertama untuk untuk pengembangan desa atau supaya aset desa yang tidak bergerak supaya menghasilkan. Yang kedua, ya paling tidak saya ini berguna untuk masyarakat," pungkas Saparudin.
(iqk/iqk)
