Di balik riuh Kota Bandung, ada sebuah rumah sederhana yang setiap harinya dipenuhi suara anak-anak belajar membaca, menggambar, hingga menulis cerita. Tempat itu bernama Yayasan Bagea, sebuah ruang aman bagi anak jalanan dan anak-anak dari keluarga rentan yang selama ini kerap luput dari perhatian.
Bukan sekolah formal dengan seragam rapi dan ruang kelas megah, Yayasan Bagea justru tumbuh dari empati dan kepedulian terhadap anak-anak yang hidup di tengah kerasnya jalanan kota.
Berlokasi di Jl. Cibuntu Selatan, Wr. Muncang, Kec. Bandung Kulon, yayasan ini menjadi tempat bagi mereka yang terpinggirkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Waktu itu saya tinggal di sini dengan kondisi lingkungan yang tidak sehat. Banyak anak yang tidak bersekolah, mereka semua dieksploitasi secara ekonomi," kenang Ibu Sumi menceritakan awal mula berdirinya yayasan ini.
Suminah (50) mendirikan Yayasan Bagea pada tahun 2005. Nama Bagea sendiri merupakan singkatan dari "Bangun Bahagia Sejahtera".
Ia bercerita, awal mula mendirikan yayasan berangkat dari kondisi lingkungan tempat tinggalnya yang dipenuhi anak-anak putus sekolah dan keluarga dengan kondisi ekonomi sulit.
"Banyak anak yang tidak sekolah dan orang tuanya hidup dalam tekanan ekonomi. Dari situ muncul empati untuk membantu mereka lewat pendidikan," ujarnya.
Awalnya, Suminah bergerak bersama sejumlah NGO internasional untuk membantu anak-anak marginal. Seiring waktu, ia membangun pendampingan secara mandiri dan menjadikan Yayasan Bagea sebagai tempat belajar alternatif bagi anak-anak jalanan di Bandung.
Anak-anak yang dibina Yayasan Bagea berasal dari latar belakang yang beragam. Tidak hanya anak jalanan, tetapi juga anak pemulung hingga anak dari keluarga pekerja malam.
Menurut Suminah, sebagian anak datang dengan rasa minder dan tidak percaya diri karena kondisi keluarga mereka.
"Ada anak-anak yang malu keluar rumah karena sering mendapat stigma dari lingkungan sekitar," katanya.
Yayasan Bagea Bandung Foto: Shifa Lupiah Ajijah/detikJabar |
Karena itu, Yayasan Bagea tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang aman untuk tumbuh dan diterima.
Meski sudah mengabdi selama lebih dari dua dekade, Yayasan Bagea masih harus berjuang dengan keterbatasan fasilitas. Hingga saat ini, mereka masih menempati bangunan dengan status mengontrak seharga Rp1 juta per bulan. Biaya ini merupakan tantangan tersendiri di samping kebutuhan pangan dan pendidikan harian 122 anak binaan yang aktif.
"Besar sekali artinya, karena di dalamnya tadi terdiri orang-orang miskin yang perlu ditangani oleh kita. Jadi kita perlu memanusiakan manusia, di sinilah tempatnya," ujar Ibu Sumi.
Ia ingin anak-anak binaannya memiliki pilihan hidup yang lebih baik saat dewasa nanti, agar tidak lagi menjadi orang jalanan yang kerap dicap negatif oleh masyarakat.
Dari sekitar 122 anak yang binaan aktif, hanya sekitar 41 anak yang mengenyam pendidikan formal, sementara sisanya mengikuti pembelajaran alternatif dan penguatan keterampilan hidup.
Bagi Suminah, pendidikan menjadi cara penting untuk memutus lingkaran kehidupan jalanan. Ia mengaku tidak ingin anak-anak binaannya tumbuh tanpa arah hingga terjebak dalam kriminalitas.
"Kalau mereka tetap hidup di jalan tanpa pendidikan, risikonya bisa terjerumus ke hal-hal negatif," ujarnya.
Karena itu, Yayasan Bagea berupaya memberikan pendampingan hingga anak-anak memasuki usia dewasa. Setelah menyelesaikan pendidikan setara Paket C, sebagian anak diarahkan untuk bekerja di perusahaan atau mencari pekerjaan yang lebih layak.
Menjalankan yayasan dengan ratusan anak binaan tentu bukan hal mudah. Suminah mengatakan, sebagian besar biaya yayasan berasal dari donasi masyarakat dan mahasiswa yang peduli terhadap isu sosial.
Meski memiliki keterbatasan, ia tetap berharap Yayasan Bagea suatu hari memiliki tempat belajar yang lebih layak dan permanen.
"Harapan saya, anak-anak ini punya kehidupan yang lebih baik dan dihargai sebagai manusia," katanya.
Salah satu bukti nyata keberadaan yayasan ini adalah Daffa (14), yang sudah belajar di sini selama tiga tahun. Meski setiap hari ia harus berjalan jauh dari Pasir Koja hingga ke Alun-Alun Bandung untuk berjualan permen, Daffa tetap menyempatkan diri untuk belajar. Di Yayasan Bagea, Daffa belajar menulis, menggambar, hingga Bahasa Inggris.
"Disini belajar gambar, bahasa Inggris. Terus senengnya belajar matematika," kata Daffa singkat saat menceritakan kegiatannya di yayasan.
Meskipun jalannya tidak mudah, Daffa memiliki mimpi setinggi langit yang terus dipupuk melalui bimbingan kakak-kakak pengajar. "Cita-citanya pengen jadi TNI Angkatan Udara. Jadi pilot," tambahnya dengan penuh harap.
(dir/dir)

