Sudah 65 tahun lamanya manusia mencoba menaklukkan luar angkasa. Hingga saat ini, rekor jarak terjauh yang pernah dicapai manusia ditorehkan pada bulan April bersama kru Artemis II. Mereka berhasil menembus jarak hingga 406.771 kilometer dari Bumi. Angka fantastis itu menjadi batas jangkauan terjauh penjelajahan manusia ke dalam kosmos untuk saat ini.
Namun, muncul pertanyaan besar, seberapa jauh sebenarnya kita bisa mengirim manusia jika memang menginginkannya? Jika hari ini kita terpaksa mengirim orang ke Mars, situasinya mungkin akan sangat menantang, namun peluang keberhasilannya cukup besar. Pada jarak terdekatnya, perjalanan ke Planet Merah memakan waktu sekitar tujuh bulan. Tapi, bagaimana jika targetnya adalah Saturnus?
Bayangkan sebuah misi ambisius, terbang ke Saturnus, mengambil sampel dari Enceladus-bulan es dengan samudra dalam-serta Titan yang memiliki danau metana, lalu kembali ke Bumi. Sebuah studi menilai kelayakan misi ini dan hasilnya cukup mengejutkan. Diperkirakan, waktu yang dibutuhkan untuk pulang-pergi mencapai sekitar 17 tahun!
Kabar baiknya, teknologi pendukung untuk mewujudkan rencana gila ini sebenarnya sudah tersedia. Para ilmuwan punya ide brilian untuk memangkas massa bahan bakar yang harus dibawa dari Bumi. Strateginya, begitu tiba di Titan, para astronaut akan menghabiskan waktu beberapa tahun untuk mengolah atmosfer kaya metana dan es air di sana menjadi bahan bakar roket.
Tantangan terbesarnya justru terletak pada kendaraan untuk pulang, yang wajib diisi ulang di Titan. "Apa yang kami tunjukkan adalah pada dasarnya sangat memungkinkan untuk membuat propelan dari bahan-bahan yang kita miliki di Titan," ungkap penulis studi Geoffrey Landis, fisikawan sekaligus ilmuwan roket di NASA.
Simak Video "Video: NASA dan Angkatan Laut AS Siap Jemput Astronaut Artemis II Usai Pendaratan"
(mso/mso)