Cara Menyedihkan Lansia di Jepang Habiskan Hari Tua

Kabar Internasional

Cara Menyedihkan Lansia di Jepang Habiskan Hari Tua

Sarah Oktaviani Alam - detikJabar
Sabtu, 30 Mei 2026 06:00 WIB
A 92-year-old man is helped by a care worker on his bed in a hospital ward at the Tokushima prison in Tokushima, Japan, March 2, 2018. Picture taken March 2, 2018. REUTERS/Toru Hanai
Penjara Lansia di Jepang (Foto: REUTERS/Toru Hanai)
Bandung -

Suasana menyedihkan tampak di dalam Penjara Tochigi. Di sebuah ruangan, seorang perempuan lanjut usia duduk di kursi roda sambil merangkai lipatan origami dengan tangan renta yang tetap bergerak cekatan.

Tak jauh darinya, sejumlah lansia perempuan lain melakukan aktivitas serupa dalam suasana hening. Mereka bekerja tanpa percakapan karena aturan di fasilitas tersebut melarang para narapidana berbicara saat bekerja.

Kondisi itu menggambarkan persoalan sosial yang sedang dihadapi sistem pemasyarakatan di Jepang. Sejumlah perempuan lansia diketahui berulang kali melakukan pelanggaran ringan seperti pencurian kecil agar bisa kembali masuk penjara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi sebagian dari mereka, kehidupan di balik jeruji justru dianggap lebih terjamin. Di penjara, mereka memperoleh makanan, layanan kesehatan, hingga perawatan harian yang sulit didapatkan saat hidup sendiri di luar akibat kemiskinan dan kesepian sosial.

"Proporsi narapidana lanjut usia meningkat. Setelah keluar dari penjara, banyak yang melakukan kejahatan serupa dan kembali lagi," kata Hirotsugu Hori, direktur Divisi Urusan Umum penjara, dikutip dari South China Morning Post.

ADVERTISEMENT

"Dan narapidana ini sering membutuhkan perawatan harian. Mereka membutuhkan bantuan saat mandi atau saat makan," sambungnya.

Menu Makanan Khusus Lansia dan Masalah Mental

Saat ini, Penjara Tochigi menampung 456 narapidana perempuan, sekitar 32 persen di antaranya merupakan lansia berusia di atas 60 tahun. Mirisnya, hanya 40 persen dari total narapidana yang diklasifikasikan berada dalam kondisi sehat.

Sisanya membutuhkan berbagai bentuk dukungan medis, termasuk 21 persen yang diidentifikasi memiliki kecacatan mental.

Pihak penjara menjelaskan bahwa proporsi narapidana perempuan yang memiliki masalah kesehatan mental di fasilitas ini jauh lebih tinggi, daripada di penjara pria.

"Ini mungkin disebabkan oleh pengabaian orang tua mereka ketika mereka masih muda, pada masa perkembangan mereka, dan berarti mereka tidak mendapatkan akses ke pendidikan dan kemudian tidak menghasilkan cukup uang untuk menghidupi diri sendiri," jelas Hori.

Demi merawat para tahanan lansia ini, manajemen penjara bahkan harus mengubah menu makanan mereka. Makanan pokok diganti menjadi bubur dan sayuran dipotong dengan tekstur yang jauh lebih halus, agar lebih mudah dikonsumsi oleh para lansia.

Hambatan Bahasa dan Isu Hak Asasi Manusia

Selain merawat lansia, Penjara Tochigi juga menghadapi kendala besar dalam mengelola narapidana asing. Sekitar sepertiga dari total penghuni penjara berasal dari luar negeri (mencakup 33 negara), dengan persentase tertinggi berasal dari Thailand (17 persen) dan China (10 persen), yang mayoritas terjerat kasus penyelundupan narkotika.

"Para petugas menggunakan penerjemah dan alat penerjemah bahasa. Tetapi, penggunaan metode ini cukup sulit dan dapat menyebabkan stres bagi para narapidana," beber Kepala Penjara, Kiyochika Miyoshi.

"Dan karena petugas tidak dapat memahami semua bahasa ini, ada juga masalah keamanan," tambahnya.

Di sisi lain, kritik tajam juga datang dari organisasi Hak Asasi Manusia (HAM). Teppei Kasai, petugas program senior untuk Human Rights Watch, menyoroti bahwa penjara bukanlah tempat yang tepat bagi para wanita lansia ini sejak awal.

Tanpa adanya mekanisme dukungan untuk membantu mereka berintegrasi kembali ke masyarakat, lingkaran setan kriminalitas lansia ini tidak akan pernah putus.

"Banyak dari perempuan ini dipenjara karena kejahatan tanpa kekerasan, dengan sebagian besar perempuan yang lebih tua (dihukum karena) melakukan pencurian kecil, jadi pertanyaan yang lebih besar adalah apakah mereka seharusnya dipenjara sejak awal," tegas Kasai.

Artikel ini telah tayang di detikHealth. Baca selengkapnya di sini.

(sao/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads