Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, kembali melontarkan kritik tajam kepada Amerika Serikat. Ia menilai Washington lebih memilih tindakan militer dibandingkan jalur diplomasi dalam menghadapi Iran.
Dalam pernyataan yang diunggah melalui media sosial X dan dikutip Middle East Monitor sebagaimana dilansir dari detikNews, pada Sabtu (9/5/2026), Araghchi menyebut AS selalu mengambil langkah agresif setiap kali peluang diplomasi muncul.
"Setiap kali solusi diplomatik ada di meja perundingan. AS memilih petualangan militer yang gegabah," kata Araghchi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apa pun penyebabnya, hasilnya sama: rakyat Iran tidak pernah tunduk pada tekanan," lanjutnya.
Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, Araghchi juga menyoroti meningkatnya aktivitas militer angkatan laut AS di kawasan Teluk Persia. Menurutnya, kondisi tersebut semakin menimbulkan keraguan Iran terhadap keseriusan Washington dalam menjalankan diplomasi dan mengakhiri konflik.
Seperti dilaporkan Tasnim News Agency dan Anadolu Agency, Araghchi menilai tindakan "provokatif" AS di Teluk Persia serta retorika keras para pejabat Amerika telah memperbesar kecurigaan Teheran terhadap komitmen diplomasi pemerintah AS.
Ia menegaskan bahwa penghentian serangan ilegal dan diakhirinya pendekatan yang disebutnya "tidak masuk akal dan berlebihan" menjadi syarat penting untuk melanjutkan proses diplomatik.
Selain itu, Araghchi juga membantah laporan penilaian intelijen AS dari Central Intelligence Agency atau CIA terkait kemampuan rudal Iran.
"CIA salah. Persediaan rudal dan kapasitas peluncur kami bukanlah mencapai 75 persen dibandingkan dengan 28 Februari. Angka yang benar adalah 120 persen," tegasnya.
"Adapun kesiapan kami untuk membela rakyat kami: 1000 persen," sambung Araghchi.
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat meski sebelumnya sempat diwarnai gencatan senjata sejak awal April lalu. Situasi memanas setelah Iran dan AS terlibat aksi saling serang di kawasan Selat Hormuz.
Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan rudal dan drone skala besar terhadap kapal militer AS di dekat Selat Hormuz pada Jumat (8/5). Iran menyebut serangan itu sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Washington.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengatakan militer AS menyerang kapal tanker Iran sebagai aksi balasan. Trump menuduh Iran lebih dulu menyerang tiga kapal militer AS yang melintas di wilayah tersebut.
Menurut Trump, serangan balasan AS membuat kapal-kapal Iran "hancur total".
Artikel ini sudah tayang di detikNews
