Viral di media sosial kondisi tempat pembuangan sampah (TPS) di Kampung Cembul Pojok, Desa Rancamanyar, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Warga mengeluhkan kepulan asap yang muncul akibat aktivitas pembakaran sampah di lokasi tersebut.
Pantauan detikJabar di lokasi, Kamis (7/5/2026), aktivitas pengelolaan sampah dilakukan di lahan milik pribadi dan yayasan. Pengelolaan sampah dikerjakan oleh warga sekitar TPS.
Terlihat sejumlah warga tengah memilah sampah sebelum sebagian di antaranya dimasukkan ke tungku pembakaran berbentuk persegi. Namun, tungku tersebut tampak tidak dilengkapi cerobong asap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lokasi TPS berada di dekat area pemakaman dan berdekatan dengan aliran anak Sungai Citarum. Kondisi itu membuat sebagian area TPS kerap terdampak banjir.
Salah satu pengelola sekaligus tokoh warga, Bunyamin (57), mengatakan sampah yang dikelola berasal dari beberapa RW di Desa Rancamanyar, di antaranya RW 10, RW 9, dan RW 16.
"Oh, ini sampah dari khusus Desa Rancamayar, Pak. Tapi yang saya ngambil bukan satu RW, bukan paling per RT ngambilnya. Dari RW 10, RW 9, RW 16, khususnya warga setempatlah," ujar Bunyamin saat ditemui di lokasi.
Bunyamin tidak membantah adanya aktivitas pembakaran sampah di TPS tersebut. Namun menurutnya, kepulan asap tidak sepenuhnya berasal dari lokasi yang dikelolanya.
"Oh, kalau terkait pembakaran sampah ini kemarin viral itu masalah asap, Kan asap ada titik-titik pembakaran kan bukan di sini. Adalah banyak yang mau bakar, berikut Sukamukti juga dibakar. Kadang-kadang tukang rongsokan yang di sebelah sana juga membakar. Asap kan gimana mengikuti arah angin begitu," katanya.
Ia mengaku rutin turun langsung ke lapangan untuk mengecek dan memadamkan sumber api saat malam hari.
"Ya, termasuk saya juga turun ke lapangan gitu. Kalau ada api saat malam ya saya padamkan," jelasnya.
Terkait isu adanya bayi yang terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat asap pembakaran, Bunyamin meminta hal itu dikaji lebih lanjut secara medis.
"Iya katanya ada bayi yang kena ISPA. Padahal dari informasi yang diterima, itu sudah dari lahir. Nah dari ibu yang viralin bilang karena kena asap ini. Sementara di rumahnya itu perokok semua. Faktanya di sini banyak bayi, tapi sehat-sehat aja. Kan jadi bisa jadi dari lingkungan di dalam rumahnya kan," tegasnya.
Setelah video TPS viral, sejumlah pihak terkait langsung melakukan inspeksi mendadak ke lokasi, di antaranya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung, pihak kecamatan, Polsek, hingga Satgas Citarum Harum.
"Iya kemarin ada pihak terkait ke sini. Solusinya ini minta di dikarungi nanti ditarik sama DLH. Masalah ke depannya, bukan ini ditutup juga. Tapi nanti ke depannya supaya yang bisa dipilah, dipilah. Yang enggak bisa dipilah, minta dikarungi, ditarik lagi," kata Bunyamin.
Ia mengungkapkan pernah mengajukan penyediaan mesin insinerator atau pembakar sampah beberapa tahun lalu. Namun rencana tersebut terkendala ketersediaan lahan.
"Memang dulu pernah (mengajukan) pas saya masih jadi ketua RW, cuman kendala di lokasinya, di tempatnya. Enggak ada tempat gitu lah dulu mah," bebernya.
Menurutnya, wilayah tersebut sebenarnya sudah memiliki TPS sementara, tetapi masih membutuhkan fasilitas pengolahan sampah yang lebih ramah lingkungan.
"Ke depannya mudah-mudahan lah ada ya donatur-donatur atau relawan lah yang membeli tanah lah untuk pembuangan sampah yang ramah lingkungan," ungkapnya.
Bunyamin menyebutkan terdapat sekitar 10 orang yang menjadi pengelola sampah di lokasi tersebut. Mereka juga turut membersihkan sampah liar yang dibuang sembarangan di pinggir jalan.
"Iya, kan di pinggir jalan kadang saya yang ambil suka diambil di pinggir jalan kan gitu. Kan ada yang lewat bekerja, terus bawa sampah di motor lalu ditendang ke pinggir jalan saya ambil kan gitu," tuturnya.
Sementara itu, relawan kebersihan setempat, Ertandi, mengatakan sampah-sampah tersebut dikumpulkan demi mencegah banjir akibat saluran tersumbat.
"Kita ada sampah pungutin supaya mencegah banjir yang masuk ke area warga. Kalau untuk upah dari warga. Itupun seikhlasnya aja dari warga," kata Ertandi.
Ia juga memastikan TPS tersebut tidak menerima limbah dari pabrik karena dikhawatirkan mengandung bahan kimia berbahaya.
"Enggak ada. Kalau untuk dari pabrik pembuangan di sini enggak menerima, karena kan ada bahan kimianya kan, dari bahan sepatu itu kan lebih asapnya lebih pekat. Jadi saya pastikan tidak ada sampah pabrik majun ke sini," pungkasnya.
(dir/dir)
