Proses kerja sama pengelolaan Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo telah dimulai. Tercatat, ada 10 lembaga yang berminat menjadi calon pengelola area wisata edukasi satwa di Kota Bandung tersebut.
Sebagaimana diketahui, Pemkot Bandung telah menggelar agenda bernama market sounding pada 13 April 2026. Agenda tersebut mengundang sejumlah lembaga konservasi untuk diajak mengelola Bandung Zoo.
Dipusatkan di Hotel Aryaduta, Kota Bandung, tercatat ada 10 lembaga yang tertarik menjadi calon pengelola Bandung Zoo. Mereka bahkan hadir secara langsung pada agenda market sounding, sementara sebagian lainnya ikut melalui zoom meeting.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan dokumen yang diperoleh detikJabar, Kamis (7/5/2026), ada 16 orang yang mengisi absensi saat agenda market sounding. Mereka berasal dari 10 lembaga konservasi yang sudah berpengalaman mengelola area kebun binatang.
Adapun ke-10 lembaga itu adalah Taman Satwa Taru Jurug Solo Safari, Taman Satwa Cikembulan Garut, Taman Satwa Semarang hingga Taman Safari Indonesia. Kemudian Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta, Kebun Binatang Surabaya, Museum Zoologi Yayasan Mardi Wiyata, Jember Mini Zoo, PT Cagar Alam Cikao dan PT Bunga Wangsa Sedjati (Jatim Park).
Sebelumnya diberitakan, proses kerja sama pengelolaan Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo ternyata masih jauh dari harapan. Sebab masalahnya, lembaga konservasi yang berminat untuk mengelola area wisata edukasi satwa itu masih sepi dari yang ditargetkan.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan beberapa hari yang lalu telah mengundang 85 lembaga konservasi untuk pengelolaan Bandung Zoo. Namun Farhan mengakui, lembaga yang berminta untuk mengelola kebun binatang masih jauh dari target yang diharapkan.
"Ya, 85, tapi belum semuanya kembali ke kita. Yang ngasih sinyal sih saya lihat baru sekitar 4 ya," kata Farhan di Balai Kota Bandung, Kamis (30/4/2026).
Farhan mengakui, syarat yang ditentukan untuk calon pengelola Bandung Zoo memang ketat. Untuk itu, tidak semua lembaga konservasi menyanggupi syarat yang telah ditentukan itu.
"Kalau proses seleksi, sekarang kita masih terima pendaftaran. Karena syaratnya kan ketat pisan, dan tidak semua lembaga konservasi menyanggupi itu. Makanya, ini yang sedang kita hadapi. Tapi, saya gini, pada dasarnya berbagai macam opsi sedang kita siapkan, dan semuanya sedang dilakukan langkah-langkah antisipasinya," pungkasnya.
(ral/sud)
