Sigasir atau orong-orong, yang sering juga dikenal dengan sebutan "anjing tanah", adalah serangga unik dari keluarga Gryllotalpidae yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di bawah permukaan tanah.
Serangga ini memiliki sifat nokturnal yang artinya hewan ini aktif beraktivitas di malam hari. Ia menyukai tempat-tempat yang kering, pekarangan serta lapangan rumput. Hewan ini dapat ditemukan di berbagai tempat di dunia, kecuali daerah dekat kutub bumi.
Bila diamati, orong-orong mempunyai bentuk kaki depan yang unik yang menyerupai sekop yang menunjang aktivitasnya di dalam tanah. Tubuhnya berbentuk silindris, berwarna cokelat tua, dan dilapisi bulu halus seperti beludru yang melindunginya dari gesekan tanah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ciri paling mencolok adalah kaki depannya yang lebar, kuat, dan bergerigi, menyerupai sekop atau cakar tikus mondok (mole), sehingga serangga ini juga dijuluki mole cricket. Sementara itu di Tatar Pasundan hewan ini disebut gaang, sedangkan di wilayah Toba disebut singke.
Sama seperti jangkrik, orong-orong jantan ini juga bisa mengeluarkan bunyi keras yang monoton pada malam hari. Tujuannya untuk menarik pasangan. Umumnya orong-orong akan berhenti berbunyi ketika lubangnya didekati, dan akan kembali berbunyi jika ia merasa telah aman dari gangguan.
Meski terlihat berat, orong-orong dewasa memiliki sayap dan mampu terbang cukup jauh di malam hari untuk mencari pasangan. Berdasarkan ulasan dari Britannica, serangga ini memiliki panjang tubuh sekitar 3-5 cm dengan kepala yang meruncing untuk memudahkannya menembus lapisan tanah.
Hama yang Merugikan
Walau bentuknya cukup menyeramkan, ternyata serangga ini tak berbahaya secara langsung bagi manusia. Hewan ini tak memiliki racun atau perilaku yang agresif. Namun berdasarkan data dari IRRI Rice Knowledge Bank, orong-orong diklasifikasikan sebagai hama yang cukup merugikan karena mereka memakan benih, akar, dan tunas muda tanaman pertanian.
Sedianya orong-orong adalah pemakan segala yang juga memangsa cacing, larva, serangga kecil dan materi organik lainnya. Perilaku memakan tanaman, disinyalir akibat kurangnya mangsa.
Dikutip dari Science Direct, beberapa spesies jangkrik tanah merupakan hama tanaman yang serius, bukan hanya karena mereka memakan akar tanaman tetapi juga karena mereka merusak seluruh sistem akar saat menggali terowongan. Spesies Gryllotalpa yang baru-baru ini secara tidak sengaja masuk ke Australia dengan cepat menjadi salah satu ancaman utama bagi industri golf Australia dengan merusak lapangan putting yang dirawat dengan cermat.
Apakah Bisa Dimakan
Di sejumlah daerah, orong-orong dibudidayakan. Pertanyaannya kemudian: apakah orong-orong halal untuk dikonsumsi?
Melalui fitur Tanya Ulama MUI Digital, anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) 2020-2025, KH Muhammad Alvi Firdausi, SSi, MA menjelaskan orong-orong termasuk hewan yang hidup di dalam tanah dan berada dalam satu ordo dengan jangkrik dan belalang, yaitu Orthoptera.
Fatwa MUI No. 139/MUI/IV/2000 tentang konsumsi dan budidaya jangkrik dan cacing menetapkan bahwa jangkrik adalah hewan yang boleh dimanfaatkan, baik untuk konsumsi maupun keperluan lain, selama tidak menimbulkan mudarat.
Karena orong-orong berada dalam satu ordo dengan jangkrik dan memiliki karakteristik serupa, maka hukumnya dikiaskan kepada jangkrik. Dengan demikian, orong-orong termasuk hewan yang boleh dikonsumsi, selama aman dan tidak membahayakan.
(yum/yum)
