1,79 Juta Orang di Jabar Masih Menganggur

1,79 Juta Orang di Jabar Masih Menganggur

Bima Bagaskara - detikJabar
Rabu, 06 Mei 2026 12:30 WIB
Ilustrasi Pencari Kerja
Foto: Bima Bagaskara/detikJabar
Bandung -

Di tengah laju ekonomi yang melampaui rata-rata nasional, Jawa Barat masih menghadapi pekerjaan rumah besar dimana jutaan orang belum mendapatkan pekerjaan. Penurunan angka pengangguran memang terjadi, tetapi skalanya belum cukup signifikan untuk mengimbangi besarnya angkatan kerja di provinsi ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat mencatat, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Februari 2026 berada di angka 6,64 persen atau setara dengan 1,79 juta orang. Angka ini turun tipis 0,10 persen poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sisi lain, ekonomi Jawa Barat justru menunjukkan performa impresif. Sepanjang Triwulan I-2026, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,79 persen secara tahunan (year-on-year), melampaui capaian nasional sebesar 5,61 persen.

"Kinerja ekonomi Triwulan I-2026 didorong oleh beberapa faktor kunci, di antaranya peningkatan mobilitas masyarakat yang mencapai 56,54 juta perjalanan wisatawan nusantara akibat momen Ramadan dan Idulfitri," ungkap Kepala BPS Jabar, Margaretha Ari Anggorowati, Rabu (6/5/2026).

ADVERTISEMENT

Namun, di balik angka pertumbuhan itu, realitas ketenagakerjaan masih menyisakan celah. Dari total 39,47 juta penduduk usia kerja, hanya 25,10 juta yang terserap bekerja. Sisanya, 1,79 juta orang masih menganggur, sementara 12,58 juta lainnya tidak masuk angkatan kerja.

Dalam setahun terakhir, memang ada tambahan penyerapan tenaga kerja sebesar 110,19 ribu orang. Jumlah pengangguran pun berkurang 20,79 ribu orang. Tapi jika dibandingkan dengan besarnya populasi usia kerja, penurunan ini tergolong lambat.

"Terjadi penambahan penyerapan tenaga kerja sebanyak 110,19 ribu orang dalam setahun terakhir. Dan jumlah pengangguran turun sebanyak 20,79 ribu orang," jelas Ari.

Struktur ketenagakerjaan juga memperlihatkan tantangan lain. Mayoritas tenaga kerja masih terserap di sektor dengan produktivitas relatif rendah. Sektor perdagangan besar dan eceran menjadi penyerap terbesar dengan porsi 21,81 persen, diikuti industri 18,32 persen dan pertanian 15,57 persen.

Dari sisi status pekerjaan, buruh atau karyawan mendominasi sebesar 40,67 persen, sementara pekerja mandiri mencapai 22,40 persen. Namun yang lebih mencolok, pekerja informal masih mendominasi pasar tenaga kerja.

"Proporsi pekerja formal periode Februari 2026 sebanyak 11,09 juta orang atau 44,20 persen, sedangkan pekerja informal sebanyak 14,01 juta orang atau 55,80 persen," rinci Ari.

Persoalan lain muncul dari sisi pendidikan tenaga kerja. Mayoritas pekerja didominasi lulusan pendidikan dasar yakni sebanyak 34,18 persen atau 8,58 juta orang. Lulusan SMP dan SMA masing-masing menyumbang sekitar 17 persen, sementara lulusan pendidikan tinggi hanya sekitar 11,31 persen.

"Sedangkan jenjang pendidikan tinggi yaitu Diploma I/II/III sebanyak 0,62 juta orang atau 2,46 persen, dan Diploma IV/S1/S2/S3 sebanyak 2,84 juta orang atau sebanyak 11,31 persen," ungkapnya.

(bba/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads