Badai PHK Mengintai, Ini Sektor yang Paling Rentan Terdampak

Badai PHK Mengintai, Ini Sektor yang Paling Rentan Terdampak

Tim detikFinance - detikJabar
Selasa, 05 Mei 2026 06:30 WIB
Ilustrasi PHK
Foto: Ilustrasi PHK (Tim Infografis: Zaki Alfarabi)
Bandung -

Kekhawatiran baru mulai menyelimuti dunia industri nasional. Dalam tiga bulan ke depan, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) disebut berpotensi meningkat, terutama di sektor-sektor padat karya yang selama ini menjadi penopang tenaga kerja.

Dilansir detikFinance, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, mengungkapkan sinyal ini bukan sekadar prediksi. Ia menyebut laporan tersebut datang langsung dari serikat pekerja di berbagai perusahaan, khususnya industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sektor ini dinilai paling rentan karena sangat bergantung pada stabilitas pasar global. Mulai dari benang, kain, hingga polyester, seluruh rantai produksi disebut sudah merasakan tekanan yang semakin berat.

"Tapi realitanya, laporan dari anggota KSPI, bukan orang lain, serikat pekerja di perusahaan, terutama di sektor industri TPT, tekstil dan produk turunannya. Benang, kain, dan polyester dan sebagainya," katanya dalam konferensi pers virtual, Senin (4/5/2026).

ADVERTISEMENT

Tak hanya tekstil, ancaman juga mulai menjalar ke industri plastik. Lonjakan harga bahan baku impor menjadi pemicu utama. Kondisi ini diperparah dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang membuat biaya produksi membengkak.

"Kemudian industri plastik, karena harga bahan baku plastik naik tajam, sehingga industri kesulitan. Dia kan bahan bakunya impor, polimer impor, petrokimia banyak yang impor. Begitu diproduksi, impor kan berarti beli barangnya pake dolar, jualnya di pasar domestik pakai rupiah, sedangkan harga rupiah anjlok terhadap dolar, ya buntung lah, makanya harga plastik naik," jelas Said Iqbal.

Dampaknya mulai terasa hingga ke tingkat konsumen. Harga plastik yang melonjak bahkan disebut telah mengubah kebiasaan masyarakat dalam aktivitas sehari-hari.

"Nah kalau harga plastik naik sampai 50%, daya beli masyarakatnya jadi menurun. Ada ibu-ibu cerita yang jualan di pasar biasa bungkus pake plastik, sekarang pake daun. Nah itu kan plastik turun. Itu kan ancaman PHK di industri plastik," sambung dia.

Efek berantai dari kondisi ini berpotensi meluas. Industri elektronik dan otomotif yang banyak menggunakan komponen berbahan plastik diperkirakan ikut terdampak dalam waktu dekat.

"Begitu pula industri elektronik bisa kena. Mudah-mudahan perang bisa kembali damai, selesai sehingga bisa turun harga plastik. Tapi nggak semudah itu kata perusahaan-perusahaan, dalam 3 bulan kepada serikat pekerja, di elektronik kan pakai plastik frame nya. Di otomotif spakbor, beberapa komponen lain juga pake plastik," bebernya.

Di sisi lain, industri semen juga menghadapi persoalan berbeda. Kelebihan pasokan di tengah permintaan yang melemah membuat persaingan semakin ketat, sehingga efisiensi tenaga kerja sulit dihindari.

"Apalagi sekarang dalam suasana perang. Permintaan terhadap semen kan berkurang. Udah mah oversupply, pabrik baru bikin lagi kemudian izinnya diberikan dan mulai operasional, permintaan semen akibat semen turun. Ya otomatis terjadi efisiensi buruh dan pekerja ya PHK," sebut dia.

Situasi global yang belum stabil, termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah, turut memperparah tekanan pada sektor industri dalam negeri. Kenaikan biaya produksi dan melemahnya daya beli menjadi kombinasi yang sulit dihindari oleh pelaku usaha.

Hingga saat ini, kalangan buruh mengaku belum mendapatkan respons resmi dari pemerintah terkait potensi gelombang PHK tersebut. Belum ada pula rencana dialog yang konkret untuk membahas langkah mitigasi.

Artikel ini telah tayang di detikFinance.

(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads