"Kredit aing (saya) macet," pekik salah seorang ibu di tengah demonstrasi.
Suara protes itu datang dari mereka yang selama ini hidup di sekitar tambang. Mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Cigudeg, Rumpin, dan Parung Panjang, mereka membawa satu keresahan yang sama, yakni mata pencaharian yang mendadak terputus sejak aktivitas tambang dihentikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di balik tuntutan yang disuarakan di Pemda Kabupaten Bogor, Senin (4/5/2026), ada cerita-cerita kecil yang bergerak pelan di dalam rumah. Cerita tentang dapur yang mulai kosong, cicilan yang menumpuk, hingga hubungan keluarga yang ikut goyah.
Heru (23), pekerja tambang dari Desa Batujajar, Kecamatan Cigudeg, menjadi salah satu yang merasakan perubahan itu secara langsung. Ia sebelumnya bekerja sebagai bogeg, yang mengatur keluar-masuk mobil muatan di lokasi tambang. Dari pekerjaan itu, ia bisa membawa pulang Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per hari, cukup untuk menjaga kebutuhan rumah tangga tetap berjalan.
Namun, sejak tambang, baik legal maupun ilegal, ditutup pada September, penghasilan itu hilang seketika. Heru mengaku ia berasal dari perusahaan tambang legal.
"Sekarang, karena tidak ada pemasukan, saya terpaksa pinjam ke pinjol. Istilahnya tutup lubang gali lubang," kata Heru kepada detikJabar, seraya memperlihatkan aplikasi pinjaman online di telepon genggamnya.
Pinjaman pertama yang ia ambil sebesar Rp4 juta, digunakan untuk kebutuhan Lebaran. Setelah itu, pinjaman demi pinjaman mulai bertambah. Bukan untuk sesuatu yang mewah, tetapi sekadar membeli bahan makanan agar hari tetap berjalan.
Situasi itu membawa konsekuensi lain. Telepon dan pesan singkat mulai berdatangan. Ancaman penagihan muncul, meski belum sampai ke pintu rumah.
"Mereka bilang mau datang. Tapi saya juga bingung, mau bayar bagaimana, karena tidak ada penghasilan," ujarnya.
Tekanan ekonomi yang terus menumpuk perlahan merembet ke dalam rumah. Heru mengakui, hubungan dengan istrinya mulai sering diwarnai pertentangan. Masalah sederhana berubah menjadi konflik yang berulang, dipicu oleh kondisi yang tak kunjung membaik.
Cerita serupa datang dari Nia (38). Ia tidak lagi bicara soal kehilangan pekerjaan semata, melainkan perubahan hidup secara menyeluruh. "Semua berubah sejak ada dampak penutupan itu," katanya.
Ketika sumber penghasilan utama hilang, pilihan yang tersisa menjadi semakin terbatas. Nia, yang sebelumnya hanya bergantung pada aktivitas tambang, kini harus turun langsung melakukan pekerjaan kasar, mengambil batu di kali, mencuci, hingga kerja serabutan lainnya.
Namun, upaya itu tidak selalu cukup. Ketika semakin banyak orang beralih ke sumber penghidupan yang sama, persaingan menjadi tak terhindarkan. Penghasilan yang didapat tidak lagi mampu menutup kebutuhan dasar.
Di tengah situasi itu, pinjaman menjadi jalan pintas yang sulit dihindari. "Saya juga akhirnya pinjam uang, sekitar Rp2,5 juta. Padahal sebelumnya tidak pernah kepikiran," ujarnya.
Langkah itu diambil dengan kesadaran penuh akan risikonya. Namun, bagi Nia, pilihan lain nyaris tidak tersedia.
Dampaknya tidak berhenti di soal ekonomi. Tekanan yang terus berlangsung mulai menggerus ketahanan keluarga. Nia mengaku rumah tangganya nyaris runtuh di tengah situasi tersebut.
"Saya sendiri hampir cerai, karena tekanan ekonomi," ungkapnya.
Kondisi itu juga menjalar ke generasi berikutnya. Keterbatasan biaya membuat sebagian anaknya harus berhenti sekolah. Ada yang hanya sampai kelas enam, ada pula yang tidak melanjutkan pendidikan.
Koordinator aksi, Asep Fadhlan, menilai kondisi di tiga kecamatan tersebut sudah memasuki fase darurat. "Saat ini di wilayah tiga kecamatan itu sudah darurat ekonomi sosial, sudah banyak tingkat kriminal," ujarnya.
Asep menyebut peningkatan kasus pencurian hingga curanmor sebagai dampak lanjutan dari terhentinya aktivitas ekonomi. Menurutnya, masyarakat tidak bisa begitu saja dialihkan ke pekerjaan lain karena keterbatasan keahlian dan pengalaman.
"Tambang dibuka kembali supaya ada aktivitas masyarakat. Kalau memang ditutup, harus ada solusi," tandasnya.
(orb/orb)
