Wali Kota Bandung Muhammad Farhan merespons aksi kerusuhan yang dilakukan sekelompok massa saat Hari Buruh Internasional atau May Day 2026. Farhan menyayangkan insiden itu terjadi saat pemerintah memberikan ruang kebebasan berpendapat untuk masyarakat.
Ditemui wartawan, Farhan awalnya mengaku tidak bisa memantau langsung kejadian itu karena mengalami sakit tifus. Meski demikian, Pemkot Bandung kata Farhan sudah mengantisipasi berbagai macam potensi kerusuhan agar tidak meluas seperti Agustus 2025 yang lalu.
"Saya teh lagi tifus, jadi tidak bisa memantau langsung ke lapangan. Tapi intinya, kita memang sudah mengantisipasi dari sejak Kamis malam. Kita sudah melakukan yang namanya siskamling dan juga ronda di seluruh kewilayahan," katanya di Balai Kota Bandung, Senin (4/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hastag warga jaga warga, warga jaga kota juga sangat kuat, itu sebabnya bersama-sama dengan kepolisian kita bisa menjaga sehingga apa yang terjadi hanya ada di titik-titik itu saja," ungkapnya menambahkan.
Farhan menyatakan, kelompok manapun diberi ruang untuk menyampaikan pendapatannya di muka umum. Namun jika kebebasan malah berujung kerusuhan, maka mereka harus ditindak sesuai ketentuan.
"Kebebasan berpendapat tentu sangat dihargai dan dilindungi. Tapi ketika itu menjadi sebuah kerusuhan, ya harus dihentikan karena juga sudah melanggar jam sesuai dengan ketentuan," ujarnya.
Farhan meyakini, aksi kerusuhan itu bukan dilakukan kelompok buruh. Sebab menurutnya, para serikat buruh di Kota Bandung dalam situasi yang kondusif ketika menyampaikan aspirasinua.
"Anomali memang bahwa buruhnya mah baik-baik saja gitu yah, tapi kan suara masyarakat harus tetep kita denger. Membentangkan spanduk harus kita hargai, tapi begitu mulai melakukan pembakaran ya pasti kita cegah dan kita tangani," pungkasnya.
(ral/dir)
