Tak Lagi Jadi Beban, Sampah di Dago Bandung Kini bisa Jadi Emas

Tak Lagi Jadi Beban, Sampah di Dago Bandung Kini bisa Jadi Emas

Gheyna Sabila Z - detikJabar
Minggu, 03 Mei 2026 19:00 WIB
Bank sampah di Dago Bandung.
Bank sampah di Dago Bandung. (Foto: Gheyna Sabila Z/detikJabar)
Bandung -

Persoalan sampah masih menjadi tantangan serius di Kota Bandung. Namun, di tengah kondisi tersebut, warga RT 8 RW 5 Kelurahan Dago justru memilih langkah berbeda dengan menyulap sampah menjadi sesuatu yang bernilai.

Di lingkungan tersebut, warga sepakat mengubah cara pandang terhadap sampah. Tak sekadar limbah, melainkan sumber daya yang bisa diolah, bahkan ditabung menjadi emas.

Saban Sabtu pagi, warga membawa sampah yang telah disimpan dalam ember ke sebuah bangunan berukuran 4x6 meter. Bangunan itu disulap menjadi Bank Sampah, tempat petugas menimbang sekaligus mencatat jumlah setoran warga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Inisiatif ini lahir dari keresahan masyarakat terhadap potensi bahaya sampah yang tidak terkelola. Agus Sukaryat menjadi sosok penggerak di balik lahirnya gerakan peduli lingkungan tersebut.

ADVERTISEMENT

Dalam sehari, produksi sampah di Kota Bandung diperkirakan mencapai 1.500 ton. Sementara itu, kebijakan pembatasan pembuangan ke TPA Sarimukti membuat tidak semua sampah dapat terangkut. Kondisi ini mendorong perlunya solusi berbasis masyarakat.

Pada 2020, Agus mulai mengajak warga untuk memilah sampah organik dan anorganik. Namun, pada awalnya hanya sedikit warga yang terlibat karena tantangan utama adalah mengubah kebiasaan.

"Tantangan kita tuh kan bagaimana mengubah perilaku ya, masyarakat supaya mau memilah. Jadi gerakan ini terus kita bangun terkait warga mau memilah," kata Agus belum lama ini.

Seiring waktu, konsistensi yang dilakukan mulai membuahkan hasil. Kesadaran warga meningkat dan perlahan kebiasaan memilah sampah mulai terbentuk di lingkungan tersebut.

Berangkat dari sana, Agus kemudian menggagas pembentukan bank sampah sebagai sarana edukasi sekaligus fasilitas bagi warga. Sampah dipilah dari rumah menggunakan ember putih berkapasitas hingga 25 kilogram.

Secara keseluruhan, tersedia sekitar 75 ember untuk melayani 150 kepala keluarga di wilayah RT 8 RW 5 Kelurahan Dago. Warga tinggal mengumpulkan sampah sesuai jenisnya sebelum disetorkan.

Demi menjaga keberlanjutan program, Agus menggandeng Kelompok Sadar Masyarakat (KSM) Dabaresih. Ia juga menjalin koordinasi dengan Pemerintah Kota Bandung dan berbagai pihak terkait.

Setelah berjalan selama tiga tahun, perubahan mulai terlihat. Perilaku warga terhadap pengelolaan sampah menjadi lebih baik dan lingkungan pun lebih tertata.

Di bank sampah tersebut, sampah anorganik seperti plastik, kardus, dan styrofoam dijual kembali. Sementara sampah organik diolah melalui komposting, maggotisasi, hingga dijadikan pakan ternak.

Agus juga mengintegrasikan pengolahan sampah dengan kegiatan budidaya, seperti ayam petelur, ikan lele, dan lalat tentara hitam penghasil maggot.

"Kita juga mengintegrasikan ke perikanan dan peternakan. Dari maggot ini jadi pakan tambahan dengan nilai nutrisi tinggi. Dari sampah organik yang dipilah warga, kita pisahkan lagi organik lunak dan keras. Yang lunak untuk maggot," tuturnya.

Bank sampah tersebut berada di gang sempit yang padat penduduk. Sempat muncul kekhawatiran terkait bau dari aktivitas pengolahan, terutama dari kotoran hewan.

Untuk mengatasi hal itu, Agus memanfaatkan cairan eco enzyme yang dicampurkan ke sampah organik, pakan, maupun air kolam lele. Cairan ini dibuat dari fermentasi kulit buah.

Program ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap gerakan Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan) serta Kawasan Bebas Sampah (KBS) yang dicanangkan Pemkot Bandung.

"Kalau sistem seperti ini diterapkan di seluruh RW di Bandung, kontribusinya akan sangat besar untuk mengurangi timbunan sampah," katanya.

Tak hanya diolah, sampah anorganik yang dikumpulkan warga juga bisa ditukar menjadi emas. Program ini diharapkan dapat mendorong masyarakat lebih konsisten dalam memilah sampah.

Agus menjelaskan, pihaknya bekerja sama dengan Pegadaian untuk menghadirkan program tersebut. Warga kini memiliki dua jenis tabungan, yakni tabungan sampah dan tabungan emas.

Melalui skema ini, hasil penjualan sampah senilai Rp10.000 dapat dikonversi menjadi saldo emas dalam bentuk gram. Sistem ini membuat sampah memiliki nilai investasi nyata.

"Program ini namanya Sampah Menabung Emas. Jadi dari hasil pemilahan sampah, warga bisa menabung emas. Biasanya tiap minggu mereka bawa 3-4 karung sampah, bisa dapat sekitar Rp10.000 sampai Rp20.000, tergantung jenisnya," kata dia.

Jenis sampah dengan nilai tinggi di antaranya botol PET bersih, kardus, dan aluminium. Seluruh sampah yang disetorkan ditimbang setiap Sabtu dan dicatat dalam buku tabungan.

Sejumlah warga bahkan memanfaatkan hasil tabungan tersebut untuk kebutuhan menjelang Lebaran. Hal ini menunjukkan manfaat nyata dari kebiasaan memilah sampah.

"Pernah ada yang menabung rutin sampai dapat Rp400-600 ribu. Jadi mereka merasa hasil memilah sampah itu nyata," ujarnya.

Melalui gerakan ini, warga Dago Barat membuktikan bahwa sampah tidak selalu menjadi masalah. Jika dikelola dengan baik, sampah justru bisa menjadi sumber daya bernilai hingga investasi emas.

(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads