KDM Buka Opsi Kirim Perusuh di Tamansari Bandung ke Barak Militer

KDM Buka Opsi Kirim Perusuh di Tamansari Bandung ke Barak Militer

Dwiky Maulana Vellayati - detikJabar
Minggu, 03 Mei 2026 08:30 WIB
Kerusakan imbas aksi anarkis di Tamansari Bandung
Kerusakan imbas aksi anarkis di Tamansari Bandung (Foto: Bima Bagaskara)
Bandung -

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membuka opsi untuk memasukkan para pelaku kerusuhan di Bandung yang masih berstatus pelajar ke barak militer. Sebelum itu, Dedi pun mengaku ingin melihat terlebih dahulu aspek hukum dari seluruh pelajar dalam kasus tersebut.

"Kita lihat aspek hukumnya. Di dalamnya kan ada pembinaan, kita lihat aspek KUHP-nya, berarti pidana anak di bawah umur. Nanti bisa juga diarahkan mereka untuk mengikuti program pendidikan barak militer," ujar Dedi, Sabtu (2/5/2026) malam.

Menurut Dedi, jika aspek hukum para pelajar itu masuk ke pembinaan, dirinya meminta seluruhnya untuk mengikuti pendidikan barak militer bersama para ketua OSIS yang rencananya akan digelar pada Juni 2026 mendatang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bulan Juni ini ada sekitar 250 orang, termasuk para ketua Osis, yang akan mengikuti pendidikan barak militer itu. Itu bisa saja mereka segera dibina agar mengerti arah bangsa ini ke mana dan apa yang harus dilakukan," katanya.

ADVERTISEMENT

Diberitakan sebelumnya, Polda Jabar telah mengamankan sejumlah peserta aksi peringatan May Day 2026 di Jalan Tamansari, Kota Bandung, yang berakhir ricuh. Enam orang di antaranya ditetapkan sebagai tersangka.

Informasi tersebut dikonfirmasi Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan. Hendra menjelaskan, Tim Satgas Gakkum Polda Jabar awalnya mengamankan tujuh orang terduga pelaku. Namun, setelah melalui serangkaian pemeriksaan, enam orang yang seluruhnya berstatus pelajar kini resmi menyandang status tersangka.

"Setelah dilakukan pemeriksaan intensif, enam orang yang berstatus pelajar yakni MRN, MRA, RS, MFNA, FAP, dan HIS ditetapkan sebagai tersangka," kata Hendra, Sabtu (2/5/2026).

Polisi menyita sejumlah barang bukti berbahaya dari tangan para pelaku, mulai dari dua bom molotov, bensin, hingga atribut kelompok tertentu seperti bendera bertuliskan 'Punk Football Hate Cops' dan stiker 'Jaringan Konspirasi Sel-Sel Api'.

"Peran masing-masing tersangka sudah kami identifikasi. Ada yang menyiapkan bom molotov, ada yang melakukan pelemparan, hingga provokator aksi," ucapnya.

"Saat ini tim Resmob Ditreskrimum Polda Jabar masih melakukan pengembangan untuk mengejar pelaku lain melalui analisa CCTV dan ekstraksi data dari ponsel para pelaku," terangnya.

Menurut Hendra, insiden anarkis tersebut mengakibatkan sejumlah fasilitas umum di Kota Bandung mengalami kerusakan cukup serius. "Aksi anarkis tersebut menyebabkan terbakarnya satu unit videotron, satu Pos Polisi Gatur, serta pengrusakan fasilitas publik berupa traffic light," pungkasnya.

Pelaku Positif Konsumsi Obat Terlarang

Enam pelaku aksi ricuh yang berstatus pelajar ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Jabar. Selain itu, keenam tersangka ini dinyatakan positif mengonsumsi obat-obatan terlarang.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Hendra Rochmawan mengatakan enam tersangka ini dinyatakan positif mengonsumsi obat keras jenis Tramadol.

"Ini sangat memprihatinkan. Selain melakukan aksi anarkis, para tersangka ini diketahui di bawah pengaruh obat-obatan terlarang jenis Tramadol saat beraksi," kata Hendra, Sabtu (2/5/2026).

"Terkait temuan ini, kasusnya juga ditindaklanjuti oleh Ditresnarkoba Polda Jabar," tambahnya.

Selain hasil tes urine, petugas juga mengamankan berbagai jenis psikotropika dari salah satu tersangka berupa butiran Alprazolam, Mersi, Euforis, dan Risperidon. "Kami juga amankan berbagai atribut yang mengindikasikan kelompok "pelajar pembangkang" dan antifasis juga turut disita dari tas para pelaku," ujarnya.

Hendra menegaskan pihak kepolisian akan mendalami keterlibatan kelompok tertentu yang diduga mencoba memanfaatkan para pelajar tersebut untuk memicu aksi kekerasan.

"Kami akan melakukan pemeriksaan mendalam terkait asal-usul obat-obatan tersebut dan motivasi di balik simbol-simbol perlawanan yang mereka bawa. Kami mengimbau orang tua untuk lebih ketat mengawasi pergaulan dan aktivitas anak-anaknya agar tidak terjebak dalam pusaran anarkisme dan narkoba," pungkasnya.

(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads