Pertemanan Tak Biasa Caca dan Ular King Koros yang Buat Heboh Jagat Maya

Round-Up Sepekan

Pertemanan Tak Biasa Caca dan Ular King Koros yang Buat Heboh Jagat Maya

Tim detikJabar - detikJabar
Minggu, 03 Mei 2026 10:00 WIB
Meisa alias Caca bermain dengan ular.
Caca saat bermain dengan ular peliharaannya (Foto: Dok. Jepi Kartiwa).
Cianjur -

Dunia reptil biasanya identik dengan hobi kaum pria atau orang dewasa. Namun, seorang siswi sekolah dasar di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mendadak viral dan mencuri perhatian publik karena kedekatannya yang ekstrem dengan ular King Koros.

Bocah perempuan bernama Meisa Arifa Kartiwa ini mendadak jadi buah bibir di jagat maya. Di usianya yang baru menginjak 8 tahun, siswi kelas 2 SD yang akrab disapa Caca ini menunjukkan keberanian luar biasa dengan menjadikan ular sebagai sahabat karibnya.

Bukan sekadar hobi biasa, Caca bahkan kerap membawa ular kesayangannya itu di dalam tas sekolah. Dalam sebuah video yang beredar luas, siswi asal Desa Cimaskara, Kecamatan Cibinong tersebut tampak tenang memegang dan mengajak bermain ular sepanjang 2 meter tanpa raut wajah takut sedikit pun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ular yang viral tersebut diketahui berjenis King Koros (Ptyas carinata), spesies dari keluarga Colubridae yang tersebar di Asia Tenggara. Meski sering disalahpahami karena ukurannya yang besar, King Koros sebenarnya tidak memiliki bisa, berbeda jauh dengan King Kobra yang mematikan.

"Dari sebelum sekolah memang suka main sama ular. Yang di video itu namanya Zoro ular King Koros. Tapi masih banyak yang lain di rumah," kata Caca, Senin, 27 April 2026.

ADVERTISEMENT

Keberanian Caca ternyata bukan tanpa alasan. Rata-rata ular yang ia mainkan telah melalui proses domestikasi atau penjinakan oleh ayahnya sendiri yang memang seorang ahli.

"Nggak takut, kan sudah dibuat jinak sama ayah. Makanya sampai tidur juga sama Zoro atau ular yang lain," ungkapnya.

Darah pecinta reptil ini rupanya mengalir dari sang ayah, Jepi Kartiwa. Jepi mengungkapkan bahwa putri keduanya itu sudah akrab dengan hewan melata sejak usia 3 tahun. Ketertarikan Caca muncul karena sering melihat aktivitas ayahnya dalam menangani ular hasil evakuasi.

"Saya kan memang dulu sering berkumpul dan belajar soal penanganan ular bersama konten kreator Sahabat Alam, terus Dede Inoen, dan lainnya. Makanya di rumah ada koleksi hasil rescue. Ternyata anak saya malah ikut merawat dan bermain sama ular-ular ini," ucap Jepi.

Uniknya, sebelum jatuh cinta pada ular, Caca kecil ternyata sudah berani berinteraksi dengan hewan ekstrem lainnya. Jepi menceritakan bagaimana anaknya itu kerap menangkap kalajengking dengan tangan kosong saat masih balita.

"Awalnya malah yang ditangkap itu kalajengking. Kemudian baru main ular," ujarnya.

Ikatan batin antara Caca dan ular kesayangannya, Zoro, terbilang sangat kuat. Jepi mengisahkan sebuah momen emosional ketika Caca melakukan aksi mogok makan hanya karena Zoro tidak ada di rumah.

"Pernah sekali saya coba sembunyiin ularnya, bilang dipinjam teman saya untuk ngonten. Langsung nangis saat pulang sekolah. Kemudian tidak mau makan sampai besoknya," ucap Jepi.

Meski membebaskan anaknya bermain dengan reptil, Jepi tetap menerapkan aturan keselamatan yang sangat ketat. Caca hanya diizinkan menyentuh ular yang tidak berbisa atau yang memiliki tingkat bisa rendah.

"Saya sekaligus edukasi juga, mana saja ular yang berbisa atau bisanya mematikan. Itu jangankan dipelihara, ditangkap atau dimainkan tidak boleh karena berbahaya. Untungnya anak saya ini penurut, dan cepat pahamnya. Makanya hanya koleksi King Koros, sanca, serta ular tidak berbisa ataupun yang bisanya kategori ringan," terangnya.

Caca kini memiliki cita-cita yang tak biasa bagi anak perempuan seusianya, yakni menjadi pawang ular profesional. Jepi mendukung penuh impian tersebut, namun tetap menekankan bahwa menjadi pawang membutuhkan pengetahuan mendalam, bukan sekadar nyali.

Zoro sendiri ditemukan pada tahun 2025 lalu dan sejak saat itu menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian Caca, bahkan hingga ke tempat tidur.

"Sampai tidur juga kadang ditemani ular kesayangannya. Dibiarkan itu karena ularnya memang jenis yang tidak berbisa. Kalau ular berbisa saya larang. Bahkan untuk sekadar memegang juga belum diizinkan sebelum paham bagaimana menangani ular berbisa," ucapnya.

Keahlian Caca dalam menenangkan reptil pun seringkali membuat takjub. Ular yang baru saja dievakuasi dari pemukiman warga dan masih dalam kondisi stres pun bisa mendadak tenang saat berada di tangan bocah kelas 2 SD ini.

"Pernah dapat ular baru evakuasi dari rumah warga. Begitu dipegang sama Caca langsung nurut ularnya, jadi tenang. Mungkin karena sudah lama dengan ular, jadi bisa memahami karakter ular," pungkasnya.

Pesan Panji Petualang

Panji Petualang turut mengomentari aksi Meisa atau yang akrab disapa Caca yang bersahabat dan kerap bermain dengan ular. Namun, konten kreator sekaligus ahli reptil tersebut meminta agar aksi Caca tidak memicu tren fear of missing out (FOMO) pada anak lain.

Dia juga berharap adanya peran orang tua dan profesional dalam mencegah FOMO yang bisa berujung fatal.

Menurut Panji, aksi Caca sangat aman lantaran dalam pemantauan orang tuanya yang memiliki pengetahuan tentang reptil, terutama ular.

"Aksi dari Caca bisa memberikan nilai positif untuk tidak memusuhi alam, tapi bisa juga menjadi sahabat dari alam terutama kekayaan faunanya. Tapi perlu digarisbawahi, Caca melakukan aksinya secara aman karena dalam pemantauan orangtua yang paham tentang ular," ujar dia, Selasa (28/4/2026).

Menurutnya, aksi Caca juga dapat memberikan pemahaman pada warga untuk tidak langsung membunuh ular yang ditemui.

"Jangan karena ada ular masuk, langsung dibunuh apalagi dikaitkan dengan hal mistis. Ini bisa menjadi salah satu cara edukasi masyarakat," kata dia.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Heboh Babi Hutan Masuk Rumah Warga di Serdang Bedagai, 1 Orang Terluka"
[Gambas:Video 20detik] (wip/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads