Kasus kekerasan anak di daycare kembali menjadi perhatian publik. Setelah mencuatnya kasus di daycare Little Aresha, Yogyakarta, kini muncul laporan kekerasan anak di Aceh. Kondisi tersebut menunjukan bahwa keamanan anak di tempat penitipan masih menjadi isu serius.
Ketua Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI Fitri Hartanto mengatakan masih banyak daycare di Indonesia yang belum memenuhi standar. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia tahun 2020 menunjukkan sebanyak 66,7 persen pengasuh daycare tidak memiliki sertifikasi profesi. Selain itu, sebanyak 25,3 persen tidak memiliki SOP, dan 44 persen tidak memiliki legalitas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selain di Yogyakarta dan Aceh, saya yakin di tempat lain juga ada karena tidak terlaporkan. Ini fenomena gunung es. Risiko kekerasan pada anak cukup besar," ungkapnya dalam diskusi daring, Rabu (29/4/2026).
Ia menjelaskan trauma pada anak akibat tindak kekerasan bisa tertanam dan berdampak jangka panjang. Bahkan, pengalaman negatif di masa golden period bisa terus terbawa hingga dewasa jika tidak ditangani dengan baik.
"Di saat golden period, sel anak sangat sensitif untuk belajar dan mendapat stimulasi. Ketika yang diterima adalah hal menakutkan, itu akan tersimpan dalam memori dan sulit hilang," jelasnya.
Karena itu, orang tua perlu mengenali sejak dini ciri-ciri anak yang mengalami kekerasan atau trauma di daycare. Berikut tanda-tanda yang perlu diperhatikan, berdasarkan pemaparan dr. Fitri Hartanto:
Ciri-ciri Anak Mengalami Kekerasan atau Trauma di Daycare
1. Menolak Pergi ke Daycare Secara Ekstrem
Anak menunjukkan reaksi berlebihan saat akan dititipkan, seperti menangis histeris, meronta, bahkan terlihat ketakutan. Ini bisa menjadi sinyal bahwa anak merasa tidak aman di lingkungan tersebut.
"Ketika anak mau dibawa ke daycare, dia sudah menangis meronta-ronta atau bahkan panas (demam)," ungkapnya.
2. Mengalami Keluhan Fisik Tanpa Penyebab Jelas
Beberapa anak bisa mengalami demam, sakit perut, atau mual tanpa penyebab medis yang pasti. Kondisi ini bisa dipicu oleh tekanan psikologis.
"Pernah ada pasien saya yang mengalami panas, dicari penyebabnya tidak ketemu. Begitu tidak lagi pergi ke daycare, panasnya hilang. Aspek psikologi ternyata berpengaruh," jelasnya.
3. Perubahan Perilaku (Regresi)
Anak yang sebelumnya sudah mandiri bisa kembali ke kebiasaan lama, seperti mengompol atau menjadi lebih manja. Ini merupakan bentuk respons terhadap stres atau trauma.
"Awalnya sudah tidak ngompol jadi kembali mengompol, ini sangat perlu diperhatikan," tambahnya.
4. Menjadi Murung dan Menarik Diri
Anak terlihat lebih pendiam, tidak mau diajak berbicara, atau kehilangan minat bermain. Perubahan emosi ini bisa menjadi tanda adanya tekanan yang dialami anak.
"Tanda-tanda seperti tidak mau diajak ngomong dan murung perlu diwaspadai," ujarnya.
5. Mengalami Gejala Psikosomatis
Anak bisa mengeluhkan mual, muntah, atau sakit perut setiap kali akan pergi ke daycare. Gejala ini sering kali berkaitan dengan kondisi psikologis.
"Pada saat mau pergi mules, muntah, dan sebagainya. Itu tanda yang perlu diperhatikan," katanya.
6. Tidak Mau Bercerita atau Selalu Menjawab 'Tidak Tahu'
Anak yang mengalami trauma seringkali kesulitan mengungkapkan apa yang dialami. Mereka cenderung diam atau menghindari pertanyaan.
"Setiap ditanya dia menjawab tidak tahu, tidak tahu. Itu salah satu tanda trauma," jelasnya.
7. Ditemukan Tanda Fisik yang Mencurigakan
Memar, lebam, atau luka pada tubuh anak perlu menjadi perhatian serius, terutama jika penjelasannya tidak konsisten.
"Tindakan kekerasan itu bisa dilihat. Misalnya ada lebam di tangan. Jangan langsung percaya kalau dibilang hanya jatuh, kita bisa menilai. Kalau ada kecurigaan, coba bawa ke dokter. Apakah benar karena jatuh atau karena faktor lain seperti kekerasan fisik," paparnya.
Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak menunggu hingga muncul tanda bahaya. Pencegahan harus dilakukan sejak awal dengan memastikan lingkungan daycare aman dan nyaman bagi anak.
"Jangan menunggu red flag, karena kalau sudah muncul, berarti (kekerasan) sudah terjadi. Orang tua harus lebih peka sejak awal," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penanganan anak yang sudah mengalami trauma tidak bisa dilakukan dengan cara memaksa. Pendekatan yang tepat justru dengan menciptakan lingkungan yang aman dan menyenangkan.
"Ketika sudah mengalami trauma, kita tidak bisa banyak bertanya karena akan memperparah. Kita harus meningkatkan faktor protektif dan membuat anak merasa senang," jelasnya.
Dengan memahami ciri-ciri tersebut, orang tua diharapkan bisa lebih cepat mengenali tanda-tanda kekerasan atau trauma pada anak.
(sud/sud)
