Waspada Kekerasan Daycare, Simak Ceklis Keamanan dari IDAI

Waspada Kekerasan Daycare, Simak Ceklis Keamanan dari IDAI

Nur Khansa Ranawati - detikJabar
Jumat, 01 Mei 2026 05:00 WIB
Asian female teacher teaching mixed race kids reading book in classroom,Kindergarten pre school concept
Ilustrasi daycare (Foto: Getty Images/iStockphoto/Weedezign)
Bandung -

Kasus kekerasan anak di daycare kembali menjadi sorotan publik. Setelah mencuatnya kasus di daycare Little Aresha, Yogyakarta yang melibatkan puluhan anak, kejadian serupa juga dilaporkan terjadi di Banda Aceh. Rentetan peristiwa ini memperlihatkan bahwa keamanan anak di tempat penitipan masih menjadi isu serius.

Ketua Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Fitri Hartanto SpA, menilai kasus-kasus tersebut hanya sebagian kecil dari fenomena yang lebih besar. Ia menegaskan bahwa banyak kasus tidak terungkap, sehingga orang tua perlu lebih waspada dan selektif dalam memilih daycare yang aman.

"Kasus kekerasan anak adalah bagian kecil dari fenomena yang lebih besar. Selain di Yogyakarta dan Aceh, saya yakin di tempat lain juga ada karena tidak terlaporkan. Ini fenomena gunung es. Risiko kekerasan pada anak cukup besar," ungkapnya dalam diskusi daring, Rabu (29/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia juga menyoroti bahwa lemahnya sistem pengawasan menjadi salah satu penyebab utama. Menurutnya, aturan terkait pengelolaan daycare masih belum rinci dan transparan.

ADVERTISEMENT

"Metode pengawasan daycare itu belum jelas dan tidak transparan, belum ada aturan yang rinci bagaimana pemerintah daerah mengawasi (operasional daycare)," jelasnya.

Oleh karena itu, orang tua yang akan memasukkan anak ke daycare perlu benar-benar teliti. Pemilihan daycare tidak bisa dilakukan secara sembarangan, melainkan harus melalui pertimbangan matang.

Berikut ceklis memilih daycare aman versi IDAI yang bisa dijadikan panduan:

Ceklis Pemilihan Daycare yang Aman versi IDAI

1. Aspek Keamanan Fisik

Aspek ini penting untuk memastikan lingkungan daycare benar-benar aman bagi anak, terutama di usia dini yang masih aktif bergerak dan rentan mengalami kecelakaan.

  • Memiliki CCTV di semua ruang, termasuk ruang bermain dan tidur, yang bisa diakses oleh orang tua.
  • Stop kontak tertutup, tangga dilengkapi pagar pengaman, serta tidak ada sudut tajam.
  • Area bermain outdoor menggunakan lantai empuk seperti matras atau rumput untuk mengurangi risiko cedera.

2. Aspek Pengasuh

Pengasuh menjadi faktor kunci karena berinteraksi langsung dengan anak setiap hari. Kualitas dan jumlah pengasuh yang memadai akan sangat berpengaruh pada keamanan dan kenyamanan anak.

  • Rasio maksimal 1:3 untuk anak di bawah 2 tahun, 1:5 untuk usia 2-3 tahun, dan 1:7 untuk usia 4-5 tahun.
  • Pengasuh memiliki sertifikat PAUD atau psikologi anak serta sudah melalui background check.
  • Bersikap sabar, komunikatif, dan tidak pernah membentak anak.

3. Aspek Stimulasi dan Rutinitas

Daycare yang baik tidak hanya menjadi tempat penitipan, tetapi juga mendukung tumbuh kembang anak melalui stimulasi yang tepat dan aktivitas yang terarah.

  • Memiliki jadwal harian yang jelas dan terstruktur.
  • Menyediakan mainan edukatif sesuai usia anak.
  • Ada komunikasi rutin dengan orang tua melalui buku penghubung atau aplikasi.

4. Aspek Kesehatan dan Gizi

Kesehatan menjadi hal krusial, terutama karena anak berada dalam lingkungan bersama. Standar kebersihan dan kesiapan penanganan kondisi darurat harus benar-benar diperhatikan.

  • Menyediakan menu makanan sehat dan bergizi.
  • Anak yang sakit tidak diterima, atau tersedia ruang isolasi sementara.
  • Memiliki sertifikat higienitas dapur, pengasuh mampu menangani kecelakaan ringan, serta sudah mendapatkan imunisasi wajib.

Legalitas menjadi indikator bahwa daycare telah memenuhi standar tertentu. Selain itu, transparansi juga menunjukkan profesionalitas dalam pengelolaan.

  • Memiliki izin operasional resmi.
  • Menyediakan asuransi kecelakaan untuk anak.
  • Transparan terkait biaya serta kebijakan keterlambatan penjemputan.

Lebih lanjut, Fitri menekankan bahwa tumbuh kembang anak tidak bisa dilihat dari satu aspek saja. Anak membutuhkan perhatian menyeluruh agar dapat berkembang secara optimal, baik dari sisi fisik maupun nonfisik.

"Anak sehat dan normal bukan hanya secara fisik baik, tapi juga harus dilihat aspek biogenetik, neuropsikologi, dan aspek sosial. Kalau salah satu ada masalah maka ada keterkaitan," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa konsep pengasuhan anak kini telah berkembang dan digunakan secara global. Pendekatan ini menekankan pentingnya peran orang tua dalam memenuhi berbagai kebutuhan anak secara menyeluruh.

"Konsep asah, asih, asuh sekarang dipakai UNICEF sebagai nurturing care. Bagaimana anak terpenuhi nutrisi, kesehatan, lingkungan sehat, pola asuh yang konsisten positif, stimulasi positif, itu kebutuhan dasar anak yang harus dipenuhi oleh orang tuanya," jelasnya.

(iqk/iqk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads