Siapa Ki Hajar Dewantara? Tokoh di Balik Lahirnya Hardiknas

Siapa Ki Hajar Dewantara? Tokoh di Balik Lahirnya Hardiknas

Gheyna Sabila Z - detikJabar
Rabu, 29 Apr 2026 18:30 WIB
Pranata (1959) Ki Hadjar Dewantara : Perintis perdjuangan kemerdekaan Indonesia, Balai Pustaka. (Wikimedia Commons)
Pranata (1959) Ki Hadjar Dewantara : Perintis perdjuangan kemerdekaan Indonesia, Balai Pustaka. (Wikimedia Commons)
Bandung -

Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Peringatan ini ada bukan sekedar untuk seremoni tahunan, melainkan refleksi atas pentingnya pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan bangsa. Penetapan tanggal tersebut bukan tanpa alasan, melainkan memiliki makna historis yang kuat di belakangnya.

Hardiknas ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 pada masa pemerintahan Soekarno. 2 Mei ini dipilih karena bertepatan dengan hari lahir Ki Hajar Dewantara atas dasar bentuk penghormatan pada jasa besarnya dalam memperjuangkan hak pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia, terutama di masa penjajahan ketika akses pendidikan masih sangat terbatas dan diskriminatif.

Di balik gelarnya sebagai Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara menyimpan sisi lain yang jarang diketahui publik. Ia bukan hanya seorang pejuang gigih, politisi andal, dan tokoh pendidikan, tetapi juga pribadi yang kompleks.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

FILOSOFI HIDUP DAN PERJUANGAN KI HAJAR DEWANTARA

Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889 dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Ia merupakan keturunan bangsawan Pakualaman, putra dari K.P.A. Suryaningrat yang masih memiliki garis keturunan dari Sultan Hamengkubuwono II.

Lucunya, saat kecil ia sempat mendapat julukan 'Jemblung' karena kondisi fisiknya saat bayi yang berperut buncit. Julukan ini awalnya merupakan kelakar dari sang ayah. Selain itu, seorang tokoh agama bernama Kyai Soleman juga memberikan tambahan nama Trunogati, yang mengandung makna harapan bahwa kelak ia akan menjadi sosok penting.

ADVERTISEMENT

Perjalanan hidupnya kemudian menunjukkan bahwa ramalan tersebut tidak meleset. Soewardi tumbuh menjadi pribadi dengan kemauan keras, meski secara fisik tidak terlalu kuat. Hal ini juga diakui oleh sahabat seperjuangannya, Ernest François Eugène Douwes Dekker, yang menggambarkan bahwa dalam tubuhnya yang lemah terdapat tekad yang luar biasa kuat.

Nama Ki Hajar Dewantara sendiri ternyata tidak langsung digunakan sejak awal. Sebutan Ki Ajar muncul secara spontan dalam forum diskusi Selasa Kliwonan yang ia ikuti bersama para tokoh intelektual dan budayawan. Awalnya, panggilan tersebut hanya dianggap sebagai gurauan. Namun, seiring waktu, nama itu melekat dan akhirnya diresmikan pada 23 Februari 1928 menjadi Ki Hajar Dewantara.

Perjalanan Ki Hajar Dewantara dalam dunia pendidikan tidak bisa dilepaskan dari kiprahnya di bidang jurnalistik dan politik. Setelah menyelesaikan pendidikan di ELS, ia aktif menulis di berbagai surat kabar. Melalui tulisan-tulisannya, ia menyuarakan kritik tajam terhadap kebijakan kolonial yang diskriminatif, terutama dalam bidang pendidikan.

Bersama Cipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker, ia mendirikan Indische Partij pada tahun 1912. Organisasi ini memiliki tujuan yang progresif, yakni memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Belanda.

Salah satu tulisan paling terkenal yang ia buat adalah Als Ik een Nederlander was. Tulisan ini mengkritik keras kebijakan Belanda yang meminta rakyat jajahan merayakan kemerdekaan mereka. Akibatnya, ia diasingkan oleh pemerintah kolonial.

Setelah kembali dari pengasingan, Ki Hajar Dewantara memfokuskan perjuangannya di bidang pendidikan. Pada 3 Juli 1922, ia mendirikan Perguruan Taman Siswa, sebuah lembaga pendidikan yang terbuka bagi rakyat pribumi.

Taman Siswa menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan Indonesia karena mengusung konsep pendidikan yang merdeka, berakar pada budaya bangsa, serta menekankan pembentukan karakter. Sistem pendidikan yang diterapkan dikenal sebagai sistem among, yang menempatkan guru sebagai pembimbing, bukan penguasa.

Meski memiliki pengaruh besar, Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai sosok yang menolak pengkultusan diri. Ia bahkan melarang anak-anaknya menulis biografinya semasa hidup karena khawatir tidak objektif. Baginya, setiap orang berhak memiliki pandangan berbeda tentang dirinya.

Sikap ini juga tercermin dalam pandangannya terhadap pendidikan dan kepemimpinan. Dalam sebuah surat kepada Gubernur Jenderal Belanda pada tahun 1932, ia menolak pemajangan gambar dirinya di lingkungan Perguruan Taman Siswa.

Menurutnya, hal tersebut dapat menimbulkan ketergantungan dan menghambat kemandirian. Salah satu filosofi hidup yang memengaruhi perjalanan Ki Hajar Dewantara terinspirasi dari tokoh wayang Batara Kresna dalam lakon Kresna Muksa. Dalam pemaknaannya, hidup diibaratkan sebagai perjalanan panjang yang penuh pendakian. Ia menambahkan bahwa hidup dan mati, sebagaimana sukses dan kegagalan, bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dipahami.

Dalam filosofi Jawa, ia menyinggung istilah kanthil yang berarti melekat atau bergantung. Ki Hajar ingin menanamkan nilai bahwa setiap individu harus mandiri dan tidak menggantungkan diri pada figur tertentu, termasuk dirinya sendiri.

Pemahaman inilah yang menjadi dasar sikap hidupnya. Bagi Ki Hajar, manusia harus mampu menguasai realitas, bukan justru dikuasai oleh keadaan. Filosofi ini kemudian ia terapkan dalam seluruh aspek kehidupannya, termasuk dalam perjuangan pendidikan yang ia jalani hingga akhir hayat.

Dedikasinya terhadap bangsa bahkan membuatnya nyaris tidak menyisakan ruang untuk kepentingan pribadi. Hal ini diungkapkan oleh putranya, Bambang Sokawati, dalam buku Ki Hajar Dewantara, Ayahku. Dalam buku tersebut digambarkan bagaimana keluarga turut merasakan konsekuensi dari perjuangan panjang yang ia tempuh.

Punya Kehidupan yang Sementara

Di luar perannya sebagai tokoh besar, Ki Hajar Dewantara menjalani kehidupan yang sederhana. Ia dikenal tidak segan menggunakan barang-barang bekas, termasuk perabot rumah tangga yang dibeli dari pelelangan. Bahkan beberapa barang yang ia gunakan berasal dari tokoh-tokoh besar seperti Soekarno.

Menariknya, setiap barang tersebut tetap diingat asal-usulnya. Ia kerap menyebut nama pemilik sebelumnya ketika menggunakan atau menunjuk barang tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya melihat nilai fungsi, tetapi juga nilai sejarah dan makna di baliknya.

Dalam kehidupan keluarga, Ki Hajar juga menerapkan nilai demokrasi. Ia terbiasa berdiskusi dengan istri dan anak-anaknya, bahkan dalam hal-hal sederhana seperti makan bersama. Tradisi ini menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan yang ia perjuangkan juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ki Hajar Dewantara wafat pada 26 April 1959. Namun, pemikiran dan perjuangannya tetap hidup dan menjadi fondasi dalam sistem pendidikan Indonesia. Penetapan hari lahirnya sebagai Hari Pendidikan Nasional menjadi pengingat akan pentingnya pendidikan dalam membangun peradaban bangsa.

Hingga saat ini, nilai-nilai yang ia ajarkan, seperti kemandirian, kebebasan belajar, dan pendidikan yang humanis, masih relevan dalam menghadapi tantangan zaman. Konsep pendidikan yang ia gagas tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kepribadian.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads