Round-Up

Pakar ITB Beberkan Dugaan Faktor Pemicu Kecelakaan Kereta di Bekasi

Tim detikJabar - detikJabar
Rabu, 29 Apr 2026 06:31 WIB
Evakuasi KRL Ringsek di Bekasi 9Foto: Pradita Utama / detikfoto)
Bandung -

Dunia perkeretaapian Indonesia tengah dirundung duka mendalam. Kecelakaan maut yang melibatkan KA Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Senin (27/4/2026) pukul 20.52 WIB.

Hingga Selasa (28/4/2026), tragedi ini dilaporkan mengakibatkan 15 orang meninggal dunia. Salah satu korban jiwa dalam peristiwa nahas tersebut adalah Nur Ainia Eka Rahmadhynna (Ain), yang merupakan karyawati KompasTV.

Pakar Transportasi ITB, Sony Sulaksono Wibowo, turut menyoroti sejumlah faktor penyebab kecelakaan maut tersebut. Salah satunya terkait masalah sinyal peringatan, mengingat sebelum kejadian, sebuah taksi Green SM terlebih dahulu tertemper KRL.

"KNTT menang lagi menginvestigasi, cuma pertanyaan yang sederhana, katanya sih, kenapa taksi itu bisa mogok? Karena itu taksi listrik ya, mobil listrik bisa mogok di tengah jalan rel. Terus ada dugaan karena ini mobil listrik, mogoknya dia di tengah jalan rel yang kemungkinan mempengaruhi sinyal," katanya, Selasa (28/4/2026).

Karena masalah ini, dia menyatakan bahwa PT KAI seharusnya sudah mengantisipasi kejadian itu dengan mengirim sinyal emergency. Namun kemudian, muncul dugaan sinyal peringatan tersebut terganggu akibat tabrakan KRL dengan taksi listrik tersebut.

"Ada dugaan persinyalannya menjadi terganggu, ini yang lagi diinvestigasi. Karena ini kalau mobil biasa kan sebenarnya enggak masalah, tabrak terus kemudian ada peringatan ke belakangnya," ungkapnya.

Sony menyarankan agar PT KAI menyusun mitigasi khusus jika terdapat kendaraan yang tertemper kereta api. Kondisi ini harus menjadi perhatian serius agar tragedi serupa tidak terulang kembali.

"Kayaknya ini perlu jadi perhatian, ya. Terus yang kedua juga harus ada emergency signal. Kalau sudah ditabrak kan yang bisa dibatalkan lebih otomatis. Tidak harus manual dilakukan oleh kepala stasiun. Mereka harus mengingatkan kereta-kereta api sebelum dan setelahnya. Harusnya secara otomatis ada seperti itu," pungkasnya.




(ral/iqk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork