Kecelakaan maut terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi. Kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek bertabrakan dengan KRL Commuter Line pada Senin (27/4/2026) pukul 20.52 WIB, hingga menyebabkan 14 orang meninggal dunia.
Pakar Transportasi ITB Sony Sulaksono Wibowo pun turut menyoroti faktor sinyal peringatan di tragedi maut tersebut. Sebab diketahui, sebelum kejadian, sebuah taksi Green SM terlebih dahulu tertemper KRL.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"KNTT menang lagi menginvestigasi, cuma pertanyaan yang sederhana, katanya sih, kenapa taksi itu bisa mogok? Karena itu taksi listrik ya, mobil listrik bisa mogok di tengah jalan rel. Terus ada dugaan karena ini mobil listrik, mogoknya dia di tengah jalan rel yang kemungkinan mempengaruhi sinyal," katanya, Selasa (28/4/2026).
Menurutnya, PT KAI seharusnya sudah mengantisipasi kejadian ini dengan mengirim sinyal emergency. Namun kata dia, muncul dugaan sinyal peringatan itu menjadi terganggu akibat tabrakan KRL dengan taksi listrik tersebut.
"Ada dugaan persinyalannya menjadi terganggu, ini yang lagi diinvestigasi. Karena ini kalau mobil biasa kan sebenarnya enggak masalah, tabrak terus kemudian ada peringatan ke belakangnya," ungkapnya.
Sony pun menyarankan supaya PT KAI membuat mitigasi jika ada kejadian mobil yang tertemper kereta api. Kondisi ini harus jadi perhatian supaya tragedi serupa tak terulang kembali.
"Kayaknya ini perlu jadi perhatian, ya. Terus yang kedua juga harus ada emergency signal. Kalau sudah ditabrak kan yang bisa dibatalkan lebih otomatis. Tidak harus manual dilakukan oleh kepala stasiun. Mereka harus mengingatkan kereta-kereta api sebelum dan setelahnya. Harusnya secara otomatis ada seperti itu," pungkasnya.
(ral/sud)
