Pakar Soroti Faktor Sinyal di Tragedi Maut Tabrakan Kereta di Bekasi

Pakar Soroti Faktor Sinyal di Tragedi Maut Tabrakan Kereta di Bekasi

Rifat Alhamidi - detikJabar
Selasa, 28 Apr 2026 14:29 WIB
Proses evakuasi gerbong kereta rel listrik (KRL) yang terlibat kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, berlangsung dramatis pada Selasa (28/4/2026). Petugas gabungan terlihat berjibaku mengevakuasi gerbong yang ringsek parah usai tabrakan dengan kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek.
Detik-detik Evakuasi Gerbong KRL Usai Tabrakan Maut di Bekasi Timur. Foto: Pradita Utama/detikFoto
Bandung -

Kecelakaan maut terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi. Kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek bertabrakan dengan KRL Commuter Line pada Senin (27/4/2026) pukul 20.52 WIB, hingga menyebabkan 14 orang meninggal dunia.

Pakar Transportasi ITB Sony Sulaksono Wibowo pun turut menyoroti faktor sinyal peringatan di tragedi maut tersebut. Sebab diketahui, sebelum kejadian, sebuah taksi Green SM terlebih dahulu tertemper KRL.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"KNTT menang lagi menginvestigasi, cuma pertanyaan yang sederhana, katanya sih, kenapa taksi itu bisa mogok? Karena itu taksi listrik ya, mobil listrik bisa mogok di tengah jalan rel. Terus ada dugaan karena ini mobil listrik, mogoknya dia di tengah jalan rel yang kemungkinan mempengaruhi sinyal," katanya, Selasa (28/4/2026).

Menurutnya, PT KAI seharusnya sudah mengantisipasi kejadian ini dengan mengirim sinyal emergency. Namun kata dia, muncul dugaan sinyal peringatan itu menjadi terganggu akibat tabrakan KRL dengan taksi listrik tersebut.

ADVERTISEMENT

"Ada dugaan persinyalannya menjadi terganggu, ini yang lagi diinvestigasi. Karena ini kalau mobil biasa kan sebenarnya enggak masalah, tabrak terus kemudian ada peringatan ke belakangnya," ungkapnya.

Sony pun menyarankan supaya PT KAI membuat mitigasi jika ada kejadian mobil yang tertemper kereta api. Kondisi ini harus jadi perhatian supaya tragedi serupa tak terulang kembali.

"Kayaknya ini perlu jadi perhatian, ya. Terus yang kedua juga harus ada emergency signal. Kalau sudah ditabrak kan yang bisa dibatalkan lebih otomatis. Tidak harus manual dilakukan oleh kepala stasiun. Mereka harus mengingatkan kereta-kereta api sebelum dan setelahnya. Harusnya secara otomatis ada seperti itu," pungkasnya.

(ral/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads