Upaya mengatasi masalah sampah, terutama jenis plastik menjadi sesuatu yang bernilai guna dan berharga kini ada di depan mata. Tak melulu mesti dibakar atau dibiarkan begitu saja di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Di Kota Cimahi misalnya, sebuah bangunan berpagar seng warna biru mengoperasikan pengolahan sampah-sampah plastik yang bernilai rendah (low value) menjadi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar.
Dalam wadah Bank Sumberdaya Sampah Induk - Melong 26, di Kelurahan Melong, Kecamatan Cimahi Selatan, Lionardi Sutandi dan Wahyu Dharmawan menginisiasi langkah mengurangi timbulan sampah plastik itu menjadi BBM.
Baca juga: Anak Putus Sekolah di Bandung Capai 7.800 |
Namun jika ditarik ke belakang, mereka sebetulnya hanya pelebaran sayap dari Bank Sampah Banjarnegara (BSB) di Jawa Tengah yang sudah beroperasi mengolah sampah plastik menjadi BBM jenis solar sejak 2014. Sementara BSS Induk - Melong 26, baru bergerak sejak Februari 2025.
Tak jadi soal, kabar pentingnya yakni bagaimana mereka melangkah lebih dulu ketimbang pemerintah dalam mengatasi persoalan sampah. Lionardi Sutandi sebagai salah seorang inisiator, mengatakan ide ini juga berangkat dari kebingungan namun didukung kejelian.
"Ya, sebetulnya awal mulanya kami itu bergerak di bank sampah. Seperti yang sudah kita ketahui, lewat bank sampah sebetulnya semua jenis sampah itu hampir beres. Tapi plastik low value itu bingung mau diapakan, akhirnya dibakar. Nah, kami gelisah, kemudian coba cari solusi, ternyata sampah plastik ini bisa diubah menjadi BBM, bisa diolah menjadi bahan bakar minyak terbarukan," kata Lionardi saat ditemui di BSS Induk - Melong 26, Selasa (28/4/2026).
Di Banjarnegara, mereka melahirkan mesin pirolisis yang secara prinsip mampu mengubah plastik menjadi gas. Pada mesin pirolisis, terdiri atas empat komponen utama di antaranya reaktor, sistem pemanas tungku, kondensor, serta tangki penampung.
Langkah mereka mengubah plastik menjadi BBM sebetulnya sesederhana mengembalikan benda tersebut ke asalnya. Sebab plastik asal muasalnya dari minyak bumi dan gas alam. Sehingga ketika diolah pada mesin pirolisis, secara prinsip mereka mengembalikan lagi bentuk plastik pada sumbernya.
"Plastik itu rantai karbonnya panjang, ribuan rantai karbon. Kami pecah jadi rantai karbon yang pendek, yaitu solar dan ternyata bisa. Jadi, alat ini memutus rantai karbon yang asalnya panjang menjadi hanya 5-20 rantai karbon, yaitu solar. Bentuknya jadi cair," ujar Lionardi.
Lolos 17 Parameter Uji Produk BBM
Pertanyaan publik tentu soal kualitas dari BBM yang dihasilkan melalui pengolahan plastik, sementara lazimnya BBM yang beredar di pasaran merupakan hasil pengeboran minyak bumi.
Wahyu Dharmawan, inisiator lain di BSS Induk - Melong 26, mengatakan BBM solar terbarukan yang mereka hasilkan salah satu rujukan untuk memastikan kualitasnya adalah cetane number.
"Nah, cetane number dari produk kami ini antara 54 sampai 56. Sebagaimana kita ketahui, bahan bakar solar lainnya yang biasa kita lihat di pasaran, yang subsidi itu cetane number-nya 48, lalu yang non-subsidi antara 51 dan 53. Sementara produk kami ini 54. Jadi, kita bisa memahami bahwasanya dari sisi kualitas, insyaallah setara dengan kualitas solar premium lainnya," kata Wahyu.
Dukungan mengalir deras sejak proyek tersebut digagas, mulai dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) hingga Kementerian ESDM. Terlebih dengan terbitnya Perpres Nomor 9 Tahun 2025 yang secara spesifik mengatur tentang dukungan terhadap alat pengolahan sampah plastik menjadi minyak terbarukan, posisi Petasol pun semakin kuat secara regulasi.
"Dan untuk itu, kami perlu regulasi terakhir yaitu sertifikat niaga. Kalau sudah punya sertifikat niaga, maka kami secara legal sudah clear and clean. Untuk saat ini, kami membatasi siapa pun yang mendapatkan BBM terbarukan Petasol adalah mereka yang sudah setor sampah plastik low value," ujar Wahyu.
Simak Video "Video Ilmuwan Serbia Latih Ulat Hongkong Agar Dapat Makan Plastik"
(dir/dir)