Anak Putus Sekolah di Bandung Capai 7.800

Anak Putus Sekolah di Bandung Capai 7.800

Rifat Alhamidi - detikJabar
Selasa, 28 Apr 2026 12:30 WIB
Ilustrasi sekolah, Ilustrasi libur sekolah, Ilustrasi berangkat sekolah, Ilustrasi siswa, Ilustrasi murid. (Freepik)
Foto: Ilustrasi siswa. (Freepik)
Bandung -

Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung mencatat sekitar 7.800 anak menyandang status putus sekolah. Angka ini merujuk pada hasil pemutakhiran data Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Kepala Disdik Kota Bandung, Asep Gufron, mengungkapkan bahwa berdasarkan data Pusdatin, angka putus sekolah di wilayahnya semula mencapai 22 ribu orang. Namun, setelah proses verifikasi ulang, angka tersebut menyusut menjadi 11 ribu orang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dari 11 ribu, kita cek lagi datanya. Ada sekitar 1.600 di luar warga Kota Bandung masuk di data itu. Jadi totalnya sekarang tinggal 7.800," katanya, Selasa (28/4/2026).

Asep menjelaskan, data tersebut masih terus diverifikasi. Pasalnya, ditemukan warga berusia 40 tahunan yang justru masuk dalam daftar angka putus sekolah di Kota Bandung.

ADVERTISEMENT

"Itu kan bukan produktif lagi, nanti kita akan kompres terus datanya. Terus ternyata banyak juga yang terdata bukan warga Kota Bandung. Ada yang Cimahi, ada yang Kabupaten Garut, banyak lah di luar Kota Bandung," tuturnya.

Ia membeberkan sejumlah faktor yang menyebabkan angka putus sekolah di Bandung masih menyentuh ribuan kasus. Selain faktor ekonomi yang mendominasi, kecanduan ponsel pintar (HP) menjadi pemicu baru yang membuat anak enggan bersekolah.

"Jadi kemarin itu banyak faktor ekonomi, si anak itu sama orang tuanya daripada sekolah lebih baik nyari kerja. Misalnya jadi tukang parkir, terus jadi yang di pasar dan sebagainya," ungkapnya.

"Terus ada juga, si anaknya sama sekali tidak mau sekolah karena kecanduan HP. Ini kondisi di lapangan seperti itu, kta terus berupaya meyakinkan orang tua supaya anak itu mau sekolah," tambahnya.

Disdik Kota Bandung pun telah menyiapkan opsi agar anak-anak tersebut kembali mengenyam pendidikan. Mereka akan diarahkan untuk mengikuti program kesetaraan Paket A, B, dan C.

"Mudah-mudahan bisa turun lagi, karena program kita terus masih dilakukan. Kita koordinasi dengan kewilayahan, bagi yang misalnya tidak sekolah kita ada pola pembelajaran kesetaraan paket A, B, C. Minimal si anak tersebut sekolah, itu dapat ijazah. Siapa tahu nanti nanti rubah pemikiran, dia mau kuliah," pungkasnya.

(ral/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads