Datang, Duduk dan Baca di Rumah Anjangsana

Datang, Duduk dan Baca di Rumah Anjangsana

Andry Haryanto - detikJabar
Senin, 27 Apr 2026 09:00 WIB
Rumah Buku Anjangsana Bogor
Rumah Buku Anjangsana Bogor (Foto: Andry Haryanto/detikJabar)
Bogor -

"Kok berani buka rumah baca?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut saya saat pertama kali duduk di ruang depan Rumah Baca Anjangsana. Pertanyaan yang terdengar sederhana, tapi justru membuka cerita panjang tentang keberanian, keterbatasan, dan keyakinan yang tidak selalu berbicara soal untung-rugi.

Ryan Rinaldy, sang empunya rumah baca, tidak langsung menjawab dengan konsep besar. Mantan jurnalis ini seketika tertawa mendengar pertanyaan tersebut. Lalu mulai menjawab pertanyaan itu dari hal yang nyaris sepele.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ryan bercerita, bahwa semua berangkat dari keinginannya dan sang istri, Nadia Pratiwi, memberi akses membaca bagi warga sekitar. Rumah ini, katanya, adalah rumah orang tuanya yang sudah lima tahun tidak ditempati. Tanpa beban sewa, Ryan merasa punya ruang untuk mencoba.

ADVERTISEMENT

"Idenya sesimpel itu," ujar Ryan memulai percakapan dengan detikJabar belum lama ini.

Tidak ada strategi bisnis rumit. Tidak ada perhitungan pasar yang berlapis. Yang ada hanya keputusan untuk memanfaatkan ruang kosong menjadi ruang hidup bagi buku dan pembacanya. Biaya terbesar, diakuinya, justru datang dari renovasi awal. Selebihnya, berjalan mengikuti ritme pengunjung yang datang silih berganti.

Saya lalu melangkah ke bagian belakang rumah. Ruang itu terbuka cukup luas, sekitar 80 meter persegi. Tidak ada kursi, tidak ada meja. Hanya hamparan rumput hijau yang terawat, membentang tanpa sekat.

Rumah Buku Anjangsana BogorRumah Buku Anjangsana Bogor Foto: Andry Haryanto/detikJabar

Di sekelilingnya, tanaman-tanaman tinggi berdiri rapat, seperti pagar alami yang membungkus ruang ini dari dunia luar. Tidak kaku seperti tembok, tapi cukup untuk memberi rasa privat.

Melangkah ke area ini terasa seperti jeda dari hiruk pikuk kota. Sunyi. Dan hanya terdengar deru air Sungai Ciliwung tepat di belakang halaman. Namun dari suasana itulah ruang baca ini menjadi utuh.

Mata bisa lepas memandang tanpa terganggu benda-benda. Angin bergerak lebih bebas, menyapu permukaan rumput, sesekali menggoyangkan daun-daun tinggi di pinggir halaman.

Pengalaman membaca terasa bergeser. Bukan lagi sekadar aktivitas duduk dengan buku, tapi seperti berada di ruang yang memberi jeda dari rutinitas mekanik menjadi rekreatif.

Ryan menyebut, banyak pengunjung justru mencari suasana ini. Bukan karena fasilitas, tapi karena rasa. "Banyak yang cerita mereka merasakan ketenangan dengan membaca sambil mendengarkan aliran sungai," katanya.

Rumah Buku Anjangsana BogorRumah Buku Anjangsana Bogor Foto: Andry Haryanto/detikJabar

Kesan homey memang terasa kuat. Tidak ada jarak antara pemilik dan pengunjung. Tidak ada formalitas seperti di perpustakaan umum. Yang ada justru sensasi bertamu ke rumah teman lama. Ryan sendiri menyebut itulah yang ingin ia bangun, sebuah ruang yang membuat orang merasa pulang.

1500 Koleksi Judul

Koleksi bukunya sekitar 1.500 judul. Mulai dari novel, buku nonfiksi, sejarah, komik, hingga zine. Awalnya berasal dari koleksi pribadi keluarga, lalu perlahan bertambah dari donasi. Bahkan, banyak pengunjung yang datang membawa buku untuk disumbangkan.

Namun, tidak semua buku diterima begitu saja. Ada proses kurasi. Ryan menyebut keterbatasan rak menjadi alasan pertama. Alasan kedua, relevansi isi. Buku yang tidak lolos seleksi biasanya tidak dibuang, melainkan diletakkan di area bebas untuk diambil siapa saja.

Di tengah pergeseran ke dunia digital, keputusan membuka rumah baca fisik memang terasa berlawanan arah. Tapi Ryan justru melihat tanda lain. Ia merasa ada kecenderungan orang kembali mencari benda fisik seperti buku, kaset, CD. Ia menyebut fenomena itu sebagai alasan tambahan yang menguatkan langkahnya.

Saya melihat sendiri bagaimana beberapa pengunjung tenggelam dalam bacaannya. Tidak ada suara notifikasi. Tidak ada distraksi layar. Hanya halaman demi halaman yang dibalik perlahan.

Aditiya Safitri, salah satu pengunjung, bercerita ia pertama kali tahu tempat ini dari media sosial. Tapi yang membuatnya kembali bukan sekadar tren, melainkan pengalaman. Ia merasa koleksi buku di sini menarik, termasuk novel terbaru dan komik.

"Matca-nya enak juga... tempatnya enak, bukunya lengkap," kata perempuan berkaca mata ini.

Rumah Buku Anjangsana BogorRumah Buku Anjangsana Bogor Foto: Andry Haryanto/detikJabar

Ia juga menyebut suasananya seperti rumah nenek. Ada camilan sederhana, suara air, dan pepohonan yang membuat suasana terasa sejuk.

Pengunjung lain, Dey, yang datang dari Bandung, punya kesan serupa. Ia menilai konsep rumah baca masih jarang di Bogor. Menurutnya, tempat ini bukan sekadar kafe dengan rak buku, melainkan ruang baca yang benar-benar hidup. Ia menyebut suasana rumahan dan suara aliran sungai sebagai daya tarik utama.

Sementara Melani menekankan satu hal yang sering terlupakan: kebutuhan akan ruang tenang. Melani merasa membaca secara offline memberi pengalaman yang berbeda.

"Vibenya kerasa," katanya, tentang sensasi membaca tanpa gangguan digital.

Rumah baca ini tidak sepenuhnya mengejar keuntungan. Ryan menyebut pemasukan yang ada masih diputar untuk operasional. Ia tidak menampik bahwa ini belum menjadi bisnis yang menghasilkan profit besar. Tapi justru di situlah letak keberaniannya, bertahan pada sesuatu yang tidak selalu menjanjikan materi, tapi memberi nilai lain yang sulit diukur.

Saat saya menutup buku yang tadi sempat saya baca, suara sungai masih terdengar. Tidak berubah sejak pertama saya datang. Di tempat ini, waktu terasa berjalan sedikit lebih pelan. Dan mungkin, di situlah jawaban paling jujur dari pertanyaan awal saya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Mencoba Flying Fox yang Mengasyikkan di Bogor"
[Gambas:Video 20detik]
(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads