Nestapa Anak-anak yang Meninggal Akibat Digigit Ular Weling

Nestapa Anak-anak yang Meninggal Akibat Digigit Ular Weling

Tim detikJabar - detikJabar
Kamis, 23 Apr 2026 12:58 WIB
Ular weling (Bungarus candidus)
Ular weling (Foto: Wibowo Djatmiko (Wie146)/Wikimedia Commons/Lisensi CC BY-SA 3.0)
Bandung -

Lagi-lagi kasus anak yang meninggal akibat digigit ular weling terjadi di Indonesia. Kabar terabaru, bocah lelaki inisial DK, warga Tasikmalaya, Jawa Barat, tutup usia di rumah sakit usai berjuang melawan ganasnya bisa ular weling.

Sebelumnya, pada 2025, anak pria asal Pekalongan, Jawa Tengah, bernasib serupa. Meskipun terjadi di waktu dan lokasi yang berbeda, kedua kasus ini memiliki kesamaan yang memilukan, yakni para korban dipatuk saat tengah tertidur lelap di rumah mereka sendiri.

Perjuangan medis selama berminggu-minggu di ruang perawatan intensif berakhir dengan suasana haru saat kedua bocah tersebut akhirnya mengembuskan napas terakhir. Berikut catatan kasus mengenai insiden patukan ular weling yang renggut nyawa anak-anak itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Kasus Tasikmalaya: Perjuangan 25 Hari di Ruang Rawat

Penanganan anak yang dipatuk ular di TasikmalayaPenanganan medis terhadap seorang anak yang dipatuk ular weling di Tasikmalaya. (Foto: Istimewa)

DK (12), seorang bocah asal Kampung Borolong, Desa Cilampung Hilir, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, meninggal dunia setelah menjalani perawatan panjang akibat gigitan ular berbisa.

  • Kronologi Kejadian: Peristiwa bermula pada Maret 2026 ketika DK sedang tertidur lelap di lantai rumah bersama ibunya. Seekor ular weling berukuran panjang sekitar 1,5 meter dengan ketebalan sebesar jempol kaki menyelinap dan mematuknya.
  • Upaya Medis: Selama total 25 hari, DK berpindah dari RSUD KHZ Musthafa menuju sebuah rumah sakit swasta di Bandung untuk mendapatkan penanganan intensif. Ia sempat menggunakan alat bantu pernapasan selama masa kritisnya.
  • Harapan yang Pupus: Pada Senin (20/4) dan Selasa (21/4), kondisi DK dilaporkan sempat menunjukkan perbaikan yang signifikan. Namun, pada Rabu pagi, kondisinya menurun drastis hingga dinyatakan meninggal dunia pada Rabu (22/4).

Andis Kuswara menyampaikan kenangan terakhir anaknya dengan suara bergetar. "Senin dan Selasa sempat membaik, bahkan minta pulang ke Tasik. Total 25 hari dirawat. Maafkan anak saya," kata Andis.

ADVERTISEMENT

2. Kasus Pekalongan: Tragedi Menjelang Hari Bahagia

Pemakaman Rafa, bocah yang meninggal usai dirawat akibat gigitan ular weling, di TPU Desa Bukur, Pekalongan, Mnggu (20/7/2025).Pemakaman Rafa, bocah yang meninggal usai dirawat akibat gigitan ular weling, di TPU Desa Bukur, Pekalongan, Mnggu (20/7/2025). (Foto: Robby Bernardi/detikJateng)

Kisah serupa namun tak kalah tragis menimpa Rafa Ramadhani Suwondho (12), bocah asal Desa Bukur, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, yang meninggal dunia setelah sebulan berjuang melawan kondisi kritis.

  • Pemicu Insiden: Pada 16 Juni 2025 dini hari sekitar pukul 04.00 WIB, seekor ular weling diduga terjatuh dari plafon rumah dan langsung menggigit Rafa yang sedang tidur.
  • Dinamika Penanganan Awal: Rafa sempat dibawa ke RSUD Kajen, namun diperbolehkan pulang setelah observasi dua jam karena hasil laboratorium darah dalam batas normal. Namun, belum sampai di rumah, ia mengalami kejang-kejang hebat hingga akhirnya dirujuk ke RSUP Dr. Kariadi, Semarang.
  • Koma Satu Bulan: Selama satu bulan di ruang PICU, kesadaran Rafa terus menurun dan kondisinya tak kunjung membaik. Ia akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Minggu (20/7/2025) pukul 00.32 WIB.

Suwondo, ayah Rafa, mengungkapkan rencana yang kini tinggal kenangan. "Ya, rencana mau sunat, sudah persiapan. Sudah kurang lima hari, undangan sudah disebar," kata Suwondo sebagaimana diberitakan detikJateng.

3. Kesamaan Pola dan Sifat Mematikan Ular Weling

Potret ular weling (Bungarus candidus) sedang merayap di tanah.Ular weling (Bungarus candidus) sedang merayap di tanah. (Foto: Benjamin Michael Marshall/Flickr/Lisensi CC BY-NC 2.0)

Berdasarkan kedua kasus tersebut, terdapat catatan penting mengenai pola serangan dan dampak dari ular weling yang perlu diwaspadai masyarakat.

  • Waktu Serangan: Kedua kasus terjadi pada malam atau dini hari saat korban sedang beristirahat.
  • Efek Gigitan yang Menipu: Pada kasus Rafa di Pekalongan, luka gigitan dilaporkan tampak sangat samar sehingga sempat dianggap aman oleh pihak rumah sakit pada pemeriksaan awal.
  • Dampak Sistemik: Bisa ular weling bekerja menyerang sistem saraf (neurotoksin), yang pada kedua korban menyebabkan penurunan kesadaran, kejang, hingga kegagalan fungsi organ pernapasan.

Nyawa DK dan Rafa yang terenggut menjadi pesan sunyi bagi masyarakat untuk tidak lagi abai terhadap area rumah yang sulit terjangkau, mulai dari plafon hingga kolong lantai. Kepergian mereka menyadarkan kita bahwa memastikan rumah tetap rapat dan terlindungi adalah kunci agar rumah benar-benar menjadi tempat bernaung yang aman.




(bbp/bbp)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads