Perjuangan DK (12) melewati 25 hari perawatan akibat gigitan ular weling telah berakhir. Bocah asal Kampung Borolong, Desa Cilampung Hilir, Kecamatan Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya itu meninggal dunia di salah satu rumah sakit di Bandung.
Di tengah kondisi duka tersebut, ular yang mematuk bocah DK dikabarkan sudah mati dibunuh warga tak lama pascakejadian. Ular yang mematuk DK dilaporkan memiliki panjang 1,5 meter dengan besar seukuran ibu jari kaki.
"Sudah ditangkap warga, dipukul sampai mati," kata Andis Kuswara orang tua DK kepada detikJabar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
DK diketahui dipatuk ular saat tengah tertidur di lantai rumahnya di Kampung Borolong, Desa Cilampung Hilir, Kecamatan Padakembang, Kabupaten Tasikmalaya pada Minggu (29/3) lalu. Saat itu, DK tengah tertidur bersama ibunya.
Dengan hanya beralaskan tikar, DK saat itu menyadari ular yang sempat disangkanya mainan itu. Lantaran disangka mainan, korban kemudian memegang ular dan tangannya berakhir dipatuk.
Meski tidak langsung mengeluhkan rasa sakit, kedua orang tua DK sempat membawanya ke tabib kampung sebelum akhirnya disarankan ke rumah sakit.
"Dibawa dulu ke orang yang bisa, katanya dibawa ke rumah sakit saja. Langsung ke sini RSUD KHZ Musthafa," ujar Siti Hindun, ibu korban.
Disuntik Lebih dari 50 Vial Antibisa
DK kemudian ditangani di RSUD KHZ Musthafa, salah satu perawatan yang diberikan adalah penyuntikan antibisa. Berdasarkan laporan dari pihak rumah sakit, kasus yang menimpa DK terbilang langka, karena sampai menghabiskan 50 vial antibisa.
Biasanya, anti venom atau antibisa hanya membutuhkan tiga hingga empat vial. Namun dalam kasus ini, jumlah yang digunakan sudah mencapai 50 vial. Kondisi tersebut diduga akibat racun ular yang telah melemahkan otot-otot pernapasan.
"Benar ada pasien anak dipatuk ular kami tangani dengan maksimal untuk membantu masyarakat," kata Direktur RSUD KHZ Musthafa, dr Eli Hendalia.
Eli menjelaskan, kasus yang dialami DK tergolong tidak biasa. Umumnya, pasien gigitan ular dapat pulih dengan penanganan cepat dan penggunaan antibisa dalam jumlah terbatas.
"Kami rumah sakit terus berupaya selamatkan pasien. Kami bolak balik juga ke Bandung untuk anti venomnya. Malahan karena ini kasusnya terbilang jarang dari ahli toksin juga datang. Ini pasien sudah habiskan 50 vial anti venom," kata Eli.
Wakil Bupati Tasikmalaya, Asep Sopari Al Ayubi, menyampaikan belasungkawa atas kejadian tersebut.
"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Kami atas nama pribadi dan pemerintah turut berbela sungkawa. Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan," ujarnya kepada detikJabar, Kamis (23/4).
Camat Padakembang, Dadan, memastikan jenazah korban telah dimakamkan pada Rabu malam. Prosesi pemakaman berlangsung haru dan dihadiri ratusan warga.
"Ia langsung dimakamkan tadi malam. Masyarakat turut mengantarkan almarhum ke peristirahatan terakhirnya," kata Dadan.
Kondisi Korban Sempat Membaik
Ayah korban, Andis Kuswara, mengatakan anaknya sempat dirawat di rumah sakit swasta di Bandung setelah sebelumnya menjalani perawatan di RSUD KHZ Musthafa.
Menurut Andis, kondisi anaknya sempat menunjukkan perbaikan pada Senin (20/4) hingga Selasa (21/4), bahkan sempat meminta pulang ke Tasikmalaya.
"Senin dan Selasa sempat membaik, bahkan minta pulang ke Tasik," kata Andis dengan suara bergetar.
Selama perawatan, korban sempat menggunakan alat bantu pernapasan. Namun, pihak keluarga tidak mengetahui secara pasti apakah korban mendapatkan antibisa selama dirawat di Bandung.
"Kalau soal antibisa saya tidak tahu. Tapi memang sempat ada perbaikan. Rabu pagi saya dikabari kondisi anak saya menurun dan akhirnya meninggal," ujarnya.
Andis juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses pengobatan anaknya.
(yum/yum)
