Di antara ratusan peserta yang memadati Kampus ISBI Bandung, Selasa (21/4/2026), sosok Rahma Rahayu tampak mencolok. Perempuan 20 tahun itu duduk di kursi roda, didampingi sang ibu, Diah Komala, sembari menunggu giliran ujian UTBK-SNBT 2026 dimulai.
Pukul 11.30 WIB, suasana kampus mulai disterilkan menjelang dimulainya ujian. Di sela penantian, Rahma dan ibunya kerap terlibat percakapan ringan. Sesekali Ratna tersenyum dengan mata berbinar, menyiratkan semangat yang tak kalah besar dibanding peserta lainnya.
Rahma adalah penyandang cerebral palsy. Keterbatasan fisik tak pernah menjadi penghalang baginya untuk terus melangkah. Hari itu menjadi momen penting dalam hidupnya karena untuk pertama kali ia mengikuti ujian masuk perguruan tinggi.
Diah Komala dengan sabar mendampingi sekaligus menjadi jembatan komunikasi bagi Rahma. Ia menceritakan, putrinya memiliki cita-cita sederhana, ingin berkuliah dan memberi manfaat bagi sesama, terutama kaum disabilitas.
"Ke Unpad jurusan sosiologi," ujar Diah, menyampaikan pilihan Rahma.
Ketertarikan itu bukan tanpa alasan. Rahma ingin lebih dekat dengan masyarakat dan memahami dinamika sosial, khususnya berkaitan dengan kelompok disabilitas.
"Suka katanya, suka berinteraksi sama masyarakat dan melihat banyak kaum disabilitas jadi ingin memajukan sesama disabilitas untuk mencapai harkat dan mengejar cita-citanya," lanjut Diah.
Keyakinan Rahma pun sangat kuat. Di balik keterbatasan, ia menyimpan optimisme besar untuk bisa lolos UTBK tahun ini.
"Yakin banget," kata Diah menirukan keyakinan putrinya.
Perjalanan menuju hari ini tidaklah instan. Rahma telah mempersiapkan diri selama berbulan-bulan dengan belajar tekun demi menghadapi ujian ini.
"Berbulan-bulan belajar," ujarnya.
Rahma merupakan lulusan SLB Karya Bakti Kota Bandung dua tahun lalu. Setelah lulus, ia tidak langsung melanjutkan pendidikan formal. Waktunya lebih banyak diisi dengan mengembangkan bakat, terutama di dunia tulis-menulis.
(bba/orb)