Jalan Pengampunan Bu Atun untuk Siswa yang Mengejeknya di Kelas

Tim detikJabar - detikJabar
Senin, 20 Apr 2026 16:43 WIB
Syamsiah atau yang akrab disapa bu Atun, guru PKN SMAN 1 Purwakarta. (Foto: Dian Firmansyah/detikJabar)
Purwakarta -

Di balik layar ponsel yang bergetar karena notifikasi hujatan, ada seorang guru yang justru memilih sunyi. Syamsiah, atau yang akrab disapa Bu Atun, mendapati dirinya menjadi target ejekan sejumlah siswanya di SMAN 1 Purwakarta lewat sebilah jari tengah yang diabadikan dalam video viral.

Guru Pendidikan Kewarganegaraan ini menarik napas panjang dan melepaskan dendam. Ia membuktikan di era digital yang bising ini, kekuatan terbesar seorang pendidik bukan terletak pada kemampuannya menghukum, melainkan pada keikhlasan untuk tetap merangkul mereka yang telah melukainya.

Kronologi di Balik Ruang Kelas XI IPS

Insiden yang memprihatinkan ini terjadi dalam suasana yang seharusnya penuh dengan nilai-nilai kebersamaan, tepat setelah jam pelajaran berakhir.

  • Latar Belakang Pelajaran: Peristiwa terjadi pada hari Kamis usai pelajaran kebhinekaan mengenai pengolahan aneka makanan.
  • Aksi Tidak Terpuji: Saat Bu Atun berjalan keluar kelas dan membelakangi siswa, sembilan orang murid kelas XI IPS mulai melakukan gestur acungan jari tengah dan ejekan berulang kali.
  • Upaya Pelecehan Fisik: Dalam rekaman tersebut, terlihat pula upaya tindakan tidak sopan yang mengarah ke bagian kepala guru, meskipun tidak sampai mengenai fisik korban.
  • Viralnya Rekaman: Aksi tersebut direkam oleh salah satu pelajar dan kemudian tersebar luas, hingga memicu reaksi keras dari masyarakat dan otoritas pendidikan.

Suara Hati Bu Atun: Pengampunan di Balik Rasa Sakit

Bu Atun mengaku baru mengetahui adanya pelecehan tersebut setelah videonya viral di media sosial. Meski hatinya terluka, ia menolak untuk membalas dengan kemarahan atau jalur hukum.

  • Keimanan sebagai Penawar: Secara jujur, ia mengakui kesedihannya sebagai manusia, namun ia memilih menyandarkan diri pada keyakinannya.

"Saya manusiawi kalau saya sedih, tapi keimanan saya tidak akan dirusak oleh rasa sedih, dan sakit manusiawi, tapi keimanan saya mengobati luka hati saya agar anak-anak saya selamat dunia akhirat, itu yang ada di hati saya," tutur Atun.

  • Kewajiban Mendidik: Baginya, memaafkan adalah bagian dari integritas profesinya sebagai guru untuk membentuk generasi yang berakhlak.

"Kewajiban saya sebagai guru adalah memaafkan agar mereka bisa menjadi generasi yang berakhlak," ucap Atun.

  • Kasih Sayang yang Luas: Ia menegaskan rasa sayangnya kepada murid-muridnya tidak luntur karena kesalahan mereka.

"Semakin mereka salah, semakin saya ingin membimbingnya. Saya ingin mereka menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak," tutur Atun.



Simak Video "Video: Efisiensi, ASN Purwakarta Kerja Naik Sepeda, Ojol hingga Angkot"


(bbp/bbp)
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork