Tangis penyesalan pecah dari para siswa yang terlibat dalam peristiwa pelecehan terhadap guru di SMAN 1 Purwakarta. Mereka menyadari kesalahan yang telah diperbuat dan meminta maaf atas tindakan tidak pantas tersebut.
Syamsiah, guru PKN yang menjadi korban dalam peristiwa itu, akhirnya buka suara. Ia mengaku baru mengetahui adanya video tersebut setelah viral di media sosial. Syamsiah juga tidak mengetahui bahwa dirinya direkam oleh siswa seusai mengajar.
"Saya manusiawi kalau saya sedih, tapi keimanan saya tidak akan dirusak oleh rasa sedih, dan sakit manusiawi, tapi keimanan saya mengobati luka hati saya agar anak-anak saya selamat dunia akhirat, itu yang ada di hati saya," ujar Syamsiah atau yang dikenal dengan nama Bu Atun kepada detikJabar di SMAN 1 Purwakarta, Senin (20/4/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Atun menunjukkan sikap penuh keteladanan meski menjadi korban perlakuan tidak pantas dari siswanya. Alih-alih melapor, ia memilih memaafkan dan mendoakan para siswa agar menjadi generasi yang lebih baik, menyadari kesalahan, serta tumbuh menjadi pribadi berakhlak baik.
"Saya sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan. Mereka juga menangis menyadari kesalahannya. Kewajiban saya sebagai guru adalah memaafkan agar mereka bisa menjadi generasi yang berakhlak," katanya.
Syamsiah menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki niat sedikit pun untuk melaporkan para siswa tersebut. Baginya, tujuan utama sebagai pendidik adalah membimbing dan memperbaiki perilaku anak didik.
"Saya tidak akan pernah melapor. Mindset saya adalah ingin mengubah anak didik menjadi orang yang berakhlak tinggi dan selamat dunia akhirat," katanya.
Syamsiah atau yang akrab disapa bu Atun, Guru PKN SMAN 1 Purwakarta Foto: Dian Firmansyah/detikJabar |
Menurut Syamsiah, kenakalan siswa tidak bersifat permanen. Ia meyakini setiap anak memiliki peluang untuk berubah menjadi lebih baik selama diberikan bimbingan dan kesempatan.
"Yang salah tidak selamanya salah, yang nakal tidak selamanya nakal. Perubahan itu butuh proses," ungkapnya.
Terkait peristiwa di kelas, Syamsiah menjelaskan bahwa dirinya berupaya menegakkan aturan dan menjaga kenyamanan siswa lain selama proses pembelajaran. Ia juga berusaha tetap adil dengan menghargai hak seluruh siswa.
Diketahui, Syamsiah telah mengabdi sejak 2003. Ia mengaku baru pertama kali mengalami kejadian seperti ini. Namun, hal tersebut tidak mengubah komitmennya dalam mendidik dengan pendekatan karakter. Ia juga menekankan pentingnya adab dalam menuntut ilmu sebagai dasar utama bagi setiap siswa.
"Adab itu hal utama. Saya selalu tanamkan pendidikan karakter, tapi mungkin belum sepenuhnya sampai. Tugas guru adalah terus sabar dan membimbing," katanya.
Syamsiah berharap peristiwa ini menjadi pelajaran bagi semua pihak sekaligus momentum untuk memperkuat pendidikan karakter di lingkungan sekolah.
"Saya sayang kepada siswa. Semakin mereka salah, semakin saya ingin membimbingnya. Saya ingin mereka menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak," pungkasnya.
(yum/yum)

