Dunia kesehatan di Jawa Barat mendadak diguncang oleh pengakuan pilu seorang ibu muda bernama Nina Saleha (27) melalui platform TikTok. Sebuah insiden keteledoran medis yang hampir memisahkan seorang ibu dari darah dagingnya terjadi di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.
Kejadian ini tak hanya menyita perhatian manajemen rumah sakit, tetapi juga mengundang reaksi keras dari pemerintah daerah, kementerian, hingga aparat kepolisian. Berikut ringkasan kasus tersebut yang dirangkum detikJabar, Kamis (16/4/2026).
Kronologi Awal: Harapan Sembuh yang Berujung Kemelut
Perjalanan medis sang bayi di RSHS sebenarnya diawali dengan niat untuk mendapatkan pengobatan intensif akibat penyakit kuning yang dideritanya.
- Kelahiran: Bayi laki-laki anak ketiga dari pasangan Nina Saleha lahir pada Rabu, 1 April 2026, di RS Unpad Jatinangor.
- Rujukan ke RSHS: Karena kondisi bayi menunjukkan gejala kuning, orang tua membawanya ke RSHS pada Minggu, 5 April 2026. Bayi kemudian dirawat selama tiga hari di ruang NHCU/NICU RSHS.
- Rencana Kepulangan: Pada Rabu, 8 April 2026, kondisi bayi dinyatakan membaik dan diizinkan untuk pulang. Nina telah berada di rumah sakit sejak pagi untuk memandikan dan menyiapkan keperluan bayinya.
Salah Serah di Ambang Pintu
Peristiwa yang hampir mengubah hidup keluarga Nina terjadi di hari kepulangan, saat sebuah keteledoran administratif berujung pada penyerahan bayi kepada orang yang salah.
- Distraksi Petugas: Nina mengaku sempat turun ke bawah untuk makan bersama suaminya karena panggilan perawat yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba. Saat itulah, petugas di ruang NHCU sedang memproses kepulangan dua bayi sekaligus.
- Pertemuan Tak Terduga: Kembali dari makan, Nina mendapati bayinya sedang digendong oleh pasangan suami istri lain yang juga memiliki anak di ruangan tersebut.
- Kesaksian Nina: Nina mengenali anaknya dari atribut yang dikenakan. "Saya tahu itu anak saya karena ingat baju sama selimutnya sama dengan anak saya. Terus ibu-ibu itu saya panggil, saya lihat wajah bayinya ternyata itu anak saya," tutur Nina mengenang saat ia melihat bayinya hampir dibawa keluar ruangan.
- Kejanggalan Gelang Identitas: Hal yang memicu kemarahan Nina adalah ketika ia mendapati gelang identitas sang bayi telah digunting oleh perawat dengan alasan yang dianggap tidak masuk akal. "Terus gelang di anak saya itu digunting sama susternya, terus dia cuma bilang takutnya ada virus di gelangnya. Benar-benar saya nggak terima dapat perlakuan begitu," tutur Nina.
Pembelaan RSHS: Klaim Keteledoran dan Upaya Damai
Manajemen RSHS akhirnya buka suara setelah somasi dilayangkan, memberikan penjelasan mengenai apa yang mereka sebut sebagai 'distraksi petugas'.
- Versi Manajemen: Direktur Utama RSHS Rachim Dinata Marsidi, menjelaskan saat kejadian, Nina sedang tidak berada di tempat. Petugas kemudian terdistraksi oleh pertanyaan pasien lain dan asupan makanan bayi hingga menyerahkan bayi Nina kepada ibu pasien lain.
- Klaim Penyelesaian: Pihak RSHS mengklaim bahwa bayi tersebut telah diambil kembali oleh petugas sebelum benar-benar meninggalkan area rumah sakit. Mereka juga sempat menganggap masalah ini selesai secara kekeluargaan setelah melakukan kunjungan ke rumah Nina pada 9 April 2026.
- Penonaktifan Staf: Sebagai konsekuensi langsung, oknum perawat yang terlibat dalam insiden tersebut telah dibebastugaskan dan diberikan sanksi administratif berupa SP1.
Terkait kecurigaan publik atas dugaan praktik jual beli bayi di RSHS, pihaknya menegaskan bahwa hal itu tidak terjadi.
"Dalam kaitannya dengan isu yang beredar terkait praktik ilegal ataupun lainnya itu tidak benar. Pada prinsipnya kami sambut baik keluhan, masukan dan harapan dari masyarakat luas sebagai proses evaluasi dan peningkatan kemampuan dalam memberikan pelayanan yang profesional di RSHS," ujar Direktur Utama RSUP Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Rachim Dinata Marsidi.
Simak Video "Video Top 5: Prabowo Mau Jadi BA Kopi hingga "Londo Ireng""
(bbp/bbp)