Banjir merendam Jalan Raya Sapan, Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Rabu (15/4/2026). Aktivitas warga terhambat dan hanya bisa nebeng truk dan mobil bak terbuka untuk beraktivitas.
Pantauan detikJabar, kendaraan yang bisa melintasi jalan tersebut hanya menggunakan truk besar. Motor yang nekat memaksa melintas mogok dan hanya bisa dituntun oleh pengendaranya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa warga yang beraktivitas pun menumpang kendaraan truk dan mobil bak terbuka. Kendaraan roda dua milik warga terpaksa disimpan di pinggir jalan depan sebuah pabrik yang belum terendam.
Banjir tersebut telah menggenang sepanjang Jalan Raya Sapan sejauh empat kilometer sejak Sabtu (11/4/2026) lalu. Genangan tersebut merupakan luapan dari Sungai Cikeruh hingga merendam jalan raya dan permukiman.
Genangan banjir itu merendam permukiman warga dengan rata-rata ketinggian 60 sentimeter sampai 100 sentimeter. Warga pun kesulitan beraktivitas dan hanya bisa pasrah.
"Banjir ini sudah masuk hari ke lima. Ketinggian sekitar 60 sentimeter lebih lah," ujar penjaga pabrik, Siregar (66), saat ditemui detikJabar di lokasi.
Menurutnya jalan tersebut kerap dilanda banjir jika hujan deras melanda. Kata dia, banjir kali ini yang terparah karena telah beberapa hari belum sampai surut.
"Iya sering (banjir) tetapi tidak separah ini. Ya, kan kalau banjir biasanya besoknya juga sudah surut gitu. Ini mah berlarut-larut sampai ini hari kelima," katanya.
Siregar menyebutkan, bencana banjir tersebut membuat aktivitas warga lumpuh total. Motor dan beberapa mobil pribadi pun tidak bisa melintas.
"Banyak juga motor yang Mogok ya, Mogok karena mungkin kondisi motornya tidak ada yang selamat gitulah," jelasnya.
Bagi karyawan pabrik pun motor disimpan di area jalan yang tidak terendam. Kemudian pihak pabrik menjemput dengan menggunakan truk-truk besar.
"Mereka berhenti di sana hanya ngantar sampai jembatan, Yang karyawan ke pabrik itu kan pada jalan kaki aja. Dengan celana pendek tentunya," ucapnya.
Dia meminta pemerintah jangan fokus pada ruang-ruang rapat dan perencanaan. Kata dia, seharusnya pemerintah bisa turun langsung ke lapangan dan mencari solusi supaya warga tidak kebanjiran.
"Saya rasa semua warga menginginkan pemerintah fokus mengurusi masyarakatnya kan bukan mengurusi luar negeri. Tujuan pemimpin-pemimpin itu kan sebenarnya ini kan fungsinya kan hanya untuk mensejahterakan masyarakatnya," kata Siregar.
"Masyarakat tidak perlu dikasih makan, dikasih ini. Yang penting bisa lancar cari pekerjaan. Banjir ini kan merugikan melumpuhkan ekonomi juga kan," tambahnya.
Sementara itu, warga lainnya, Yuyun (35) menyebutkan, dengan adanya banjir tersebut mengganggu aktivitasnya dalam bekerja. Motor pun tidak bisa melintas dan harus disimpan di pinggir jalan.
"Iya saya motor di simpan di depan pabrik yang enggak banjir. Terus saya jalan kaki dari rumah ada lah sampai satu kilometer," kata Yuyun.
Yuyun menjelaskan, kediamannya tidak mengalami kebanjiran. Pasalnya rumahnya berada di area tanah dataran tinggi.
"Kalau rumah tetangga mah kebanjiran," bebernya.
Dia berharap segera ada solusi mengenai permasalahan banjir tersebut. Pasalnya warga telah bosan jika hujan deras pasti dilanda banjir.
"Solusinya ya, semoga enggak banjir begini terus ya. Enggak begini terus lah. Soalnya capek juga kalau bolak-balik terus begini," pungkasnya.
Simak Video "Video: Akses Jalan Raya Sapan Terganggung Imbas Banjir Sejak Sabtu"
[Gambas:Video 20detik] (wip/mso)
