Banjir Masih Rendam Dayeuhkolot, Warga Beraktivitas Pakai Perahu

Banjir Masih Rendam Dayeuhkolot, Warga Beraktivitas Pakai Perahu

Yuga Hassani - detikJabar
Senin, 13 Apr 2026 17:43 WIB
Kondisi banjir di Kampung Bojongasih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Senin (13/4/2026).
Kondisi banjir di Kampung Bojongasih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Senin (13/4/2026). (Foto: Yuga Hassani/detikJabar)
Kabupaten Bandung -

Air mulai merembes masuk ke sela-sela rumah di Kampung Bojongasih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Senin (13/4/2026). Langkah kaki terasa berat menerjang genangan, sementara beberapa warga lainnya memilih menggunakan perahu untuk melintas.

Genangan banjir membuat warga kesulitan beraktivitas dan mencari nafkah. Mereka terpaksa menembus banjir sambil membawa pakaian ganti di dalam tas agar tetap bisa bekerja.

Ketinggian air di Kampung Bojongasih rata-rata mencapai satu meter hingga satu setengah meter atau 150 sentimeter. Di tengah kondisi tersebut, beberapa anak kecil justru memanfaatkan genangan untuk bermain dan berenang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dian Rukmana (46) turut berjuang menembus banjir sambil menenteng sandal dan tas di atas kepala. Aktivitas itu kerap ia lakukan kala banjir merendam seluruh area kampungnya dengan senyap.

ADVERTISEMENT

"Banjir sudah 2 hari yang lalu. Iya gimana lagi da sudah pasrah aja kalau banjir gini mah. Jadi mau gak mau harus tetap bergerak untuk bekerja," ujar Dian.

Ia mengungkapkan, air mulai merangkak naik sejak Sabtu (11/4/2026). Dirinya dan warga lain langsung mengamankan barang berharga serta sepeda motor ke area yang lebih tinggi.

"Kemarin-kemarin pas naik langsung saya selamatkan barang rumah ke lantai dua. Terus motor di pindahkan ke lapang yang lebih tinggi supaya tidak kebanjiran," katanya.

Dian menyebutkan, anak-anak sekolah pun terpaksa libur sementara. Pasalnya, bangunan sekolah tempat mereka menempuh pendidikan turut terendam luapan air.

"Anak-anak juga libur sekolahnya karena banjir gini. Sekolah nya juga kebanjiran," jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, ribuan rumah di Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, terendam banjir hingga Minggu (12/4/2026). Banjir tersebut disebabkan hujan deras yang melanda dan membuat Sungai Citarum, Cipalasari, dan Cigede meluap.

Camat Dayeuhkolot Asep Suryadi mengatakan, banjir menggenang sejak Sabtu (11/4/2026) malam. Bahkan, titik terdalam diketahui mencapai ketinggian 1,6 meter.

"Iya banjir ini dari luapan sungai Citarum, Cipalasari dan Cigede. Air langsung merendam permukiman warga," ujar Asep kepada awak media.

Pihaknya mengungkapkan, banjir merendam tiga desa dan satu kelurahan. Di antaranya Desa Dayeuhkolot, Desa Citeureup, Desa Cangkuang Wetan, dan Kelurahan Pasawahan.

"Area paling parah terdampak banjir di Kampung Cilisung, dan Kampung Bojongasih, Desa Dayeuhkolot. Tinggi Muka Air (TMA) rata-rata mencapai 120 sentimeter hingga 160 sentimeter," katanya.

Permukiman warga lainnya yang terendam berada di Kampung Kaum dan Babakan Sangkurang, Desa Dayeuhkolot. Ketinggian air di wilayah tersebut rata-rata 30 hingga 100 sentimeter.

"Jalan Raya Dayeuhkolot juga terendam sekitar 50 sentimeter hingga 100 sentimeter," jelasnya.

Asep menjelaskan, sebanyak 4.800 kepala keluarga dan 14.400 jiwa terdampak banjir di Desa Dayeuhkolot. Sebagian warga memilih mengungsi di Shelter Desa Dayeuhkolot.

"Sebanyak 14 kepala keluarga dan 38 jiwa mengungsi. Jumlah itu 21 orang dewasa, 2 anak-anak, 5 lansia, 1 orang disabilitas, 4 anak SD, 4 anak SMP, dan 1 anak SMA," ucapnya.

Banjir juga merendam sejumlah wilayah di Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot. Area yang terdampak berada di RW 1 sampai RW 8, RW 10, serta RW 13 sampai RW 17. Ketinggian air rata-rata mencapai 10 hingga 60 sentimeter.

"Di Desa Citeureup totalnya sebanyak 426 kepala keluarga dan sebanyak 1.288 jiwa terdampak banjir," ungkapnya.

Asep mengaku sejumlah warga memilih mengungsi di Masjid Annur, Desa Citeureup. Menurutnya, sebanyak 17 kepala keluarga dan 51 jiwa telah berada di pengungsian tersebut.

"Dari jumlah tersebut terdiri dari 36 orang dewasa, 5 orang lansia, 8 orang balita, 1 bayi, 2 orang ibu menyusui, 1 orang disabilitas, 5 orang anak SD, 2 orang anak SMP," jelas Asep.

Sementara itu, di Desa Cangkuang Wetan, wilayah yang terdampak berada di Kampung Cibedug Hilir RW 1 dan Kampung Cibedug Girang RW 2. Ketinggian air rata-rata mencapai 70 sentimeter hingga 1,3 meter.

"Kalau di Desa Cangkuang Wetan totalnya sebanyak 575 kepala keluarga dan sebanyak 1.725 jiwa terdampak banjir," kata Asep.

Area yang terdampak di Kelurahan Pasawahan berada di Kampung Palasari, tepatnya di RW 2 dan RW 3. Ketinggian air di sana rata-rata mencapai 30 hingga 40 sentimeter.

"Jumlah kepala keluarga yang terdampak di Kelurahan Pasawahan sebanyak 86 dan sebanyak 258 jiwa," bebernya.

Dia menambahkan, sebagian akses jalan terputus oleh genangan. Saat ini petugas masih bersiaga di lapangan untuk melakukan pendataan dan antisipasi jika terjadi banjir susulan.

"Kebutuhan mendesak saat ini makanan siap saji, selimut, sembako, alat kebersihan, troli, dan karung," pungkasnya.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads