Karyawan Swasta di Bandung Paling Rentan Terjangkit HIV

Wisma Putra - detikJabar
Selasa, 14 Apr 2026 10:30 WIB
Ilustrasi HIV. (Foto: Getty Images/iStockphoto/InspirationGP)
Bandung -

Kota yang karib disapa Kota Kembang ini memiliki ritme kehidupan yang tak pernah berjeda. Memulai hari dengan balutan udara dingin yang khas, aktivitas masyarakatnya terus berdenyut kencang dari siang, sore, hingga menjelang petang. Bahkan saat matahari terbenam, gemerlap lampu kota seolah menandakan bahwa kehidupan di kota ini tidak pernah tidur.

Namun, di balik gemerlap cahaya dan suasana kota yang tak pernah tidur itu, tersimpan tantangan kesehatan yang memerlukan perhatian serius. Senyap di antara hiruk-pikuk aktivitas warga kota, kasus HIV/AIDS di kota yang berjuluk Parijs van Java ini masih menjadi isu krusial yang membayangi produktivitas masyarakatnya.

Ketua Panel Ahli Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung, dr. Agung Firmansyah Sumantri mengatakan, sepanjang tahun 2024 Dinas Kesehatan Kota Bandung telah melakukan pelayanan tes pemeriksaan HIV/AIDS terhadap 113.155 orang. Apa hasilnya?

"Nah, dari 113.155 itu yang positif ada 1.167 kasus HIV. Nah, dari 1.167 itu ada yang 343 masuk kategori AIDS. Kalau kita ketahui HIV ada 4 stadium kan, yang AIDS itu adalah stadiumnya yang terminal atau stadium 4 lah. Jadi dia yang lebih banyak dengan komplikasi-komplikasinya," kata Agung dijumpai di Kantor KPA Kota Bandung belum lama ini.

Merujuk data Dinas Kesehatan Kota Bandung, data kumulatif kasus ODHIV dari tahun 1991 hingga Desember 2024 telah terdeteksi sebanyak 14.107 orang. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan estimasi dari Kementerian Kesehatan RI yang menyebutkan estimasi seharusnya berada di angka 14.426 orang.

"Nah, dari 14.107 orang itu yang di Kota Bandung yang dengan ODHIV yang masih hidup itu ada sekitar 10.171 orang," ujarnya.

Namun menurut Agung, dari 10.171 ODHIV itu, yang mengakses layanan atau yang masih dalam pengobatan Antiretroviral (ARV) hanya sekitar 63 persen atau 6.489 orang.

"Jadi artinya disini ada gap (kesenjangan) dan tantangan utama kita bukan hanya pencegahan, tetapi tadi case finding, lalu linkage to care sama keberlanjutan pengobatannya," ungkapnya.

Akibat Hubungan Seksual

Agung menjelaskan, mayoritas kasus HIV/AIDS di Kota Bandung ditularkan melalui hubungan seksual. Namun, dari sekian banyak kasus tersebut, warga asli Kota Bandung hanya mencakup 53 persen, sementara sisanya merupakan warga pendatang.

"Dari data yang diperoleh 87% kasus ini terdeteksinya karena hubungan seksual dan perlu ditekankan bahwa dari data yang didapatkan di Kota Bandung itu 53%-nya adalah warga Kota Bandung, tapi 47%-nya adalah warga luar Kota Bandung," jelasnya.

Meski terdapat ODHIV yang berasal dari luar kota, pengobatan tetap bisa dilakukan di fasilitas kesehatan milik Kota Bandung karena HIV/AIDS karena merupakan isu kesehatan nasional.

"Iya, dan itu masih menjadi beban kita juga (Kota Bandung), karena kita tidak bisa membedakan warga, terutama untuk kasus HIV ini karena isunya kan isu nasional, tapi dibebankannya kepada wilayah kabupaten/kota," tutur Agung.




(wip/orb)

Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork