Angkot di Sukabumi Pakai Elpiji 3 Kg, Sopir Jadi Lebih Irit

Angkot di Sukabumi Pakai Elpiji 3 Kg, Sopir Jadi Lebih Irit

Siti Fatimah - detikJabar
Senin, 13 Apr 2026 19:45 WIB
Angkot di Sukabumi gunakan elpiji 3 kg sebagai bahan bakar.
Angkot di Sukabumi gunakan elpiji 3 kg sebagai bahan bakar. (Foto: Siti Fatimah/detikJabar)
Sukabumi -

Sebuah angkot melintas di jalur Terminal Sukaraja-Kota Sukabumi dengan suara mesin yang terdengar biasa. Namun, siapa sangka kendaraan itu tak lagi sepenuhnya bergantung pada bensin.

Di balik kap mesinnya, tersambung tabung elpiji 3 kilogram yang menjadi sumber tenaga alternatif, sebuah pemandangan yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Angkot trayek 01 itu dikemudikan Hendra Irawan (53), sopir yang sudah puluhan tahun mengaspal di Sukabumi. Ia bercerita, keputusan beralih ke elpiji bukan tanpa pertimbangan. Awalnya, ia hanya mengikuti jejak rekannya sesama sopir yang lebih dulu mencoba.

"Awalnya ikut teman saja. Dia sudah pakai duluan, saya tanya-tanya dulu soal keluhan dan kendalanya. Setelah dipertimbangkan, akhirnya saya pasang juga," ujar Hendra, Senin (13/4/2024).

ADVERTISEMENT

Perubahan itu perlahan membawa dampak pada pengeluaran hariannya. Hendra kini bisa menghemat biaya operasional Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu per hari dibandingkan saat masih menggunakan bensin.

Dalam sehari, ia menghabiskan sekitar dua tabung gas. Satu tabung Elpiji bisa dipakai hingga empat kali perjalanan (rit). Jika dibandingkan dengan bensin, selisih biayanya terasa cukup jauh.

"Kalau pakai bensin, empat rit bisa habis sekitar Rp50 ribu. Sekarang satu tabung gas hanya Rp19 ribu," katanya.

Dulu, Hendra mengaku membutuhkan sekitar 9 liter bensin per hari dengan biaya mencapai Rp 90 ribu. Kini, cukup dengan dua tabung Elpiji, pengeluarannya turun menjadi sekitar Rp 38 ribu.

"Alhamdulillah sangat terbantu, jadi ada sisa dari penghasilan," ucapnya.

Angkot di Sukabumi gunakan elpiji 3 kg sebagai bahan bakar.Angkot di Sukabumi gunakan elpiji 3 kg sebagai bahan bakar. (Foto: Siti Fatimah/detikJabar)

Selama sekitar tujuh bulan menggunakan elpiji, Hendra tidak merasakan kendala berarti pada mesin. Ia menyebut kondisi mesin tetap standar tanpa perlu penyesuaian khusus, bahkan pembakaran dinilai lebih bersih.

"Karburator aman, tidak ada servis tambahan. Pembakaran juga bagus, busi tidak cepat kotor seperti sebelumnya," jelasnya.

Meski begitu, ia mengakui tenaga kendaraan sedikit berkurang, terutama saat melintasi tanjakan. Namun, kondisi tersebut bisa diatasi dengan cepat karena sistem bahan bakar masih bisa dialihkan ke bensin.

"Kalau nanjak memang agak kurang tenaganya, tapi bisa langsung pindah ke bensin, tinggal cabut selang saja," tambahnya.

Untuk menekan biaya lebih jauh, Hendra biasanya membeli elpiji langsung dari agen agar mendapatkan harga yang lebih murah.

Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun sebagai sopir angkot, Hendra melihat penggunaan Elpiji sebagai solusi alternatif di tengah tingginya biaya operasional.

"Yang penting kendaraan tetap jalan dan ada sisa. Sekarang terasa lebih ringan di biaya," pungkasnya.

(orb/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads